Edisi 05-06-2016
Ali Akan Tetap Abadi


PHOENIX - “Semangatnya akan terus berlanjut sepanjang masa. Dia mewakili apa yang coba dilakukan setiap atlet dan insan olahraga, sikap tegas bahwa itu dapat dilakukan, keberhasilan, dan dia sangat luar biasa.

Seorang manusia berjiwa besar, juara di hati rakyat. Yang terbesar sepanjang masa.” Kutipan di atas adalah kesan yang disampaikan promotor tinju terkemuka dunia, Don King, saat menanggapi meninggalnya Muhammad Ali. Pernyataan tersebut mencerminkan kekagumannya terhadap Ali bukan hanya sebagai jawara tinju kelas berat, tetapi juga pada ketokohannya di luar olahraga hingga dicintai masyarakat lintas ras dan negara.

Don dan banyak tokoh dunia lainnya yang merasa kehilangan Ali pun meyakini, walaupun sudah tiada, kelegendarisan Ali akan abadi dan dikenang sepanjang masa. Ali yang mempunyai nama kelahiran Cassius Marcellus Clay, kemarin, mengembuskan napas terakhir pada usia 74 tahun setelah lebih dari 30 tahun berjuang keras melawan penyakit yang diidapnya, parkinson. Petinju fenomenal dengan karier bertinju cemerlang selama tiga dekade tersebut sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit sejak awal pekan ini karena menderita masalah pernapasan.

Setelah selama 32 tahun berjuang keras melawan penyakit parkinson, Muhammad Ali meninggal dunia pada usia 74 tahun. Peraih tiga gelar juara dunia kelas berat ini wafat malam ini,” ujar Bob Gunnell, juru bicara keluarga, seperti dilansir AFP. Rencananya Ali akan dimakamkan di kampung halamannya di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat (AS). Kepergian Ali meninggalkan 9 anak, 7 laki-laki dan 2 perempuan. Selama hidupnya Ali memiliki 4 istri.

Di akhir hayatnya, dia memilih tinggal di Phoenix bersama istri terakhirnya yang dinikahi pada 1986. Di dunia tinju, Ali adalah legenda. Selama karier bertinjunya, dia mencatatkan rekor 56 kali kemenangan dari 61 pertarungan. Ali pensiun dari dunia tinju profesional pada 1981. Majalah olahraga ternama dunia Sports Illustrated menganugerahinya gelar Olahragawan Abad Ini. Media BBC juga memberi gelar Tokoh Abad Ini. Nama Ali mulai dikenal saat meraih medali emas pada Olimpiade 1960 yang digelar di Roma, Italia, untuk kategori kelas berat ringan.

Setelah itu dia memutuskan beralih ke tinju profesional. Tahun 1964 menjadi momen istimewa bagi Ali karena kali pertama dia menjadi juara dunia setelah berhasil menumbangkan Sonny Liston. Dari berbagai pertandingan yang dijalaninya, salah satunya yang paling monumental adalah ketika promotor Don King mempertemukannya dengan George Foreman pada 1974 di Kinsasha, Zaire.

Dalam pertarungan yang mendapat julukan Rumble in the Jungle tersebut, Ali menjadi petinju kedua yang berhasil meraih kembali gelar juara dunia tinju kelas berat keduanya. Selama 30 tahun menjalani karier tinjunya—1960 hingga 1981—, Ali seolah tak berhenti meraih satu kemenangan ke kemenangan lainnya. Dia pun mendapat julukan The Greatest atau Yang Terhebat karena berhasil menjadi petinju pertama dunia yang menyabet tiga gelar juara dunia kelas berat pada tiga kesempatan berbeda.

Namun penyakit parkinson seketika menghentikan sepak terjang Ali di dunia tinju. Penyakit yang dideritanya ini diperkirakan sebagai akibat dari ribuan pukulan yang diterimanya sehingga membuatnya sangat sulit melakukan percakapan. Selain parkinson, Ali tercatat beberapa menjalani perawatan penyakit lain. Pada 2014 Ali masuk rumah sakit akibat menderita pneumonia yang masih dalam kategori ringan. Kemudian pada 2015 dia kembali dirawat untuk penanganan infeksi saluran kemih.

Kendati mengidap parkinson, Ali tidak serta-merta menghentikan aktivitasnya. Setelah pensiun dari dunia tinju, dia sering menjadi pembicara dengan mengangkat tema kampanye hak-hak sipil. Dia sangat concern untuk memperjuangkan isu-isu kemanusiaan dan hak asasi manusia. Pada April lalu, misalnya, dia hadir dalam acara Celebrity Fight Night Dinner di Phoenix yang menggalang dana untuk pengobatan parkinson.

Pada Desember lalu dia mengeluarkan pernyataan bernada teguran kepada Donald Trump, calon kandidat presiden AS. Hal ini dilakukan karena pernyataan Trump yang melarang umat Islam masuk ke AS.

Pujian Tokoh Dunia

Setelah berita kematiannya muncul, ucapan belasungkawa berdatangan. Hampir semua menyampaikan kekaguman atas sosok Ali, baik saat masih aktif di ring tinju atau saat mengabdikan diri untuk kegiatan kemanusiaan. Perdana Menteri Inggris David Cameron dalam twittnya memuji Ali sebagai seorang juara dari hak-hak sipil dan seorang idola bagi begitu banyak orang.

Perdana Menteri India Narendra Modi berkicau,” Dia adalah sumber inspirasi yang menunjukkan kekuatan dari jiwa dan tekad manusia.” Bakal capres AS Donald Trump yang pernah dikritik Ali pun bahkan mengaguminya. Dia berkicau, “Muhammad Ali wafat pada usia 74. Seorang juara yang sangat hebat dan sosok pria mengagumkan. Dia akan dikenang semua orang.”

Calon Presiden AS Hillary Clinton dan mantan Presiden AS Bill Clinton dalam pernyataan bersama menulis, “Sejak saat dia meraih medali emas pada Olimpiade 1960, para penggemar tinju seluruh dunia tahu bahwa mereka sedang melihat perpaduan antara keindahan, karunia, kecepatan, dan kekuatan yang tak pernah ada tandingannya lagi.” Tokoh tinju dunia pasti tak ketinggalan menyampaikan pujiannya. “Muhammad Ali dengan semangatnya telah mengubah negara ini dan berdampak pada seluruh dunia,” ucap Bob Arum, promotor tinju senior, seperti dilansir AFP.

“Warisannya merupakan bagian dari sejarah manusia sepanjang masa. Dia tanpa diragukan lagi merupakan sosok paling transformatif sepanjang masa,” tambah Arum. “Ali, Frazier, dan Foreman, kami adalah satu orang. Sebagian dari diriku menyelinap pergi, bagianyangterbaik,” kicau Foreman dalam akun Twitternya seperti dilansir AFP. Sementara si leher beton Mike Tyson dalam akun Twitter-nya mengatakan, “Tuhan datang untuk juaranya. Sampai jumpa orang besar.”

Adapun Floyd Mayweather mengingat kekaguman yang dirasakannya saat berjumpa Ali pada 1996, saat dirinya menjadi atlet Olimpiade. “Saya sungguh tak tahu harus berkata apa. Saya tak dapat memercayainya,” ucap Mayweather. “Saya bahkan tak ingin menunjukkan perasaan dan emosi tentang apa yang saya rasakan,” lanjutnya. Lain lagi dengan petinju asal Filipina Manny Pacquiao. Dia mengatakan dunia kehilangan seorang “raksasa”.

“Tinju diuntungkan dari bakat seorang Muhammad Ali, tapi tidak banyak manusia diuntungkan dari kemanusiaannya,” sebut Pacquiao. Asosiasi Tinju Internasional yang menjalankan pertandingan tinju Olimpiade mengenang Ali dengan menyatakan, “AIBA memberi penghormatan kepada salah satu petinju terbesar sepanjang masa dan manusia sejati yang berjuang tanpa henti untuk keyakinannya. Pikiran dan doa kami saat ini bersama keluarganya.”

Pesepak bola legendaris asal Inggris David Beckham juga kagum kepada sosok Ali. “Yang Terhebat yang pernah ada...Terbesar dan Terbaik...Istirahat dalam damai,” kicau Beckham. Hal serupa juga ditunjukkan Komisaris Asosiasi Nasional Bola Basket AS (NBA) Adam Silver. “Muhammad Ali melampaui olahraga dengan kepribadian berjiwa besar dan dedikasi untuk hak-hak sipil dan keadilan sosial.” Pujian juga disampaikan tokoh di luar dunia olahraga.

Musisi legendaris dari kelompok The Beatles Ringo Starr menulis, “Tuhan memberkati Muhammad Ali serta kedamaian dan cinta untuk semua keluarganya.” Penyanyi pop kontroversial Madonna juga menorehkan kesan, “Pria ini. Raja ini. Pahlawan ini. Manusia ini... Kata-kata tak dapat mengekspresikannya. Dia mengguncang dunia, Tuhan memberkatinya.”

Adapun Justin Bieber memasang di akun Twitter-nya foto muda Ali saat bermain monopoli. “Ini adalah Ali, kita semua harus mengingatnya! Pria periang dan pencinta yang sepenuhnya adalah dirinya. Selamat jalan Sang Juara,” kicau dia.

Arvin/raikhul amar