Edisi 09-01-2016
RI Kirim Menlu untuk Damaikan Saudi-Iran


JAKARTA – Indonesia akan berupaya mendamaikan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran yang kian memanas sepekan terakhir. Presiden Joko Widodo mengatakan, Indonesia bakal mengirimkan utusan khusus untuk membantu proses perdamaian tersebut.

Menurut Kepala Negara, utusan yang akan dikirimkan ke Timur Tengah itu adalah Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. ”Saya akan kirimkan utusan khusus minggu depan, Senin atau Selasa. Kalau Menlu sudah mau berangkat, baru akan saya sampaikan (isi pesannya),” ujar Presiden di Istana Negara Jakarta, kemarin.

Di Arab Saudi, Menlu Retno rencananya akan berkomunikasi langsung dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Mohammed bin Salman. Sedangkan di Iran, Retno akan melakukan dialog dengan pejabat berwenang di bawah kepemimpinan Presiden Hassan Raouhani. Pengiriman utusan khusus ke kedua negara itu menurutnya lebih tepat dibandingkan komunikasi melalui telepon yang sudah dilakukan selama ini. ”Konteksnya lebih mengirimkan pesan secara khusus,” ujar Presiden.

Sementara hingga kemarin, ketegangan Saudi dan Iran tak kunjung mereda. Bahkan, koalisi negara-negara pimpinan Arab Saudi menyangkal tuduhan Iran bahwa jet tempur Saudi menyerang Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di ibu kota Yaman, Sanaa. Pada Kamis (7/1), Iran menyatakan pesawat tempur Saudi menyerang kedubesnya di Sanaa, Rabu (6/1) malam.

Iran menuduh pesawat Saudi menargetkan Kedubes Iran di Sanaa sehingga merusak properti dan melukai stafnya. ”Selama serangan udara oleh Arab Saudi terhadap Sanaa, satu roket jatuh dekat kedubes kami dan malangnya salah satu penjaga kami terluka serius,” ujar Deputi Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian yang dikutip kantor berita IRNA . ”Kami akan menginformasikan Dewan Keamanan PBB tentang rincian serangan ini dalam beberapa jam. Arab Saudi bertanggung jawab untuk keamanan para diplomat dan kedubes kami di Sanaa,” tandas Hossein.

Namun, koalisi Saudi membantah keras tudingan Iran ini. ”Komando koalisi mengonfirmasi bahwa tuduhan Iran itu salah dan menekankan kami tidak melakukan operasi apa pun di kedubes tersebut atau di dekatnya,” papar pernyataan pasukan koalisi pimpinan Saudi, seperti dirilis kantor berita SPA kemarin.

Mereka juga mendorong misi diplomatik di Sanaa tidak memberi peluang pada para milisi menggunakan gedung-gedung misi diplomatik dalam aksi militer manapun. Penduduk dan saksi mata di Sanaa menyatakan pada kantor berita Reuters bahwa tidak ada kerusakan di gedung Kedubes Iran.

Kementerian Luar Negeri Yaman juga menyangkal laporan bahwa gedung Kedubes Iran menjadi target. Demikian diungkapkan kantor berita yang dikendalikan pemerintah, Sabanew.net. Pejabat yang dikutip Sabanew. net menyatakan tanggung jawab untuk melindungi misi diplomatik di Sanaa berada di tangan milisi Houthi yang mengontrol Sanaa dan aliansi mereka, pasukan yang setia pada mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.

Gerakan Houthi selama ini diketahui berafiliasi dengan Iran. Konflik diplomatik antara Riyadh dan Teheran itu dipicu langkah Saudi mengeksekusi salah satu ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Saudi menilai, Nimr terlibat tindakan terorisme yang membahayakan keamanan negara. Sejumlah media lokal kemarin melaporkan empat warga Iran, termasuk seorang tersangka mata-mata akan diadili di Saudi.

Harian Arab News melaporkan, ada tiga tersangka yang dituduh teroris. Laporan itu tidak memberikan rincian tuduhan dan nama warga Iran juga tidak diumumkan. Harian Saudi Gazett melaporkan, keempat orang itu ditahan pada 2013 dan 2014. Laporan itu dapat semakin memperkeruh ketegangan antara Iran dan Saudi.

Adapun Deputi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan, perang antara negaranya dan Iran akan menjadi awal bencana dan Riyadh tidak akan membiarkannya. ”Ini sesuatu yang tidak kami inginkan dan siapa pun yang mendorong ke sana ialah seseorang yang tidak memiliki pikiran yang benar,” tegasnya saat diwawancarai Economist , kemarin.

Putra mahkota dan juga menteri pertahanan Saudi itu menambahkan, Riyadh sangat mengkhawatirkan apa yang dianggap sebagai langkah Amerika Serikat (AS) untuk tidak terlalu terlibat di Timur Tengah. ”AS harus menyadari bahwa mereka nomor satu di dunia dan mereka harus bertindak seperti itu,” ujarnya, dikutip kantor berita Reuters .

Mohammed juga menjelaskan, ada kemungkinan pemerintah akan menjual saham di perusahaan minyak terbesar di dunia, Aramco. Negara itu memang sedang mengalami tantangan ekonomi yang luar biasa akibat penurunan harga minyak dunia.

Pekan lalu, Saudi melaporkan rekor defisit USD98 miliar pada 2015. Saudi juga memproyeksikan defisit USD87 miliar tahun ini, dengan harga minyak yang saat ini sekitar USD34 per barel, turun dari lebih USD100 per barel pada 2014. Anggaran Saudi yang diumumkan pekan lalu menunjukkan peningkatan harga minyak, listrik, air, dan lainnya.

Sementara itu, Turki memanggil Duta Besar (Dubes) Iran di negara tersebut untuk memprotes kritik media massa Iran terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Erdogan menolak mengecam eksekusi Saudi terhadap Nimr al- Nimr bulan ini. ”Kami mengecam keras presiden kami menjadi target langsung dalam beberapa artikel di media Iran yang dikontrol otoritas Iran dan meminta artikel-artikel ini dihentikan segera,” papar pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Turki.

Turki secara resmi menghapus hukuman mati pada 2004 sebagai bagian upaya bergabung Uni Eropa (UE). Menurut Erdogan, eksekusi Nimr merupakan masalah hukum internal Saudi dan hubungan antara Ankara dan Riyadh telah membaik dalam beberapa bulan terakhir.

Adapun di Iran, unjuk rasa anti-Saudi kembali digelar di Teheran, kemarin. Sekitar 1.000 demonstran berpawai di Teheran sambil meneriakkan ”Kematian untuk Al-Saud”. Al-Saud merupakan keluarga kerajaan yang berkuasa di Arab Saudi.

syarifudin/ rarasati syarief