Edisi 05-06-2016
Manivesto Melawan Arus Dehumanisasi


Isu-isu moralitas itu dibungkus dalam karya seni. Begitulah cara para seniman melawan kondisi sosial yang terus merosot saat ini. Sebuah manivesto melawan arus dehumanisasi.

Sebanyak 35 karya seni berupa lukisan, patung, instalasi, seni rupa video, mural, hingga fotografi terpampang di ruang pameran Galeri Nasional Indonesia. Helatan yang diberi nama Manivesto Ke-5 dengan tema khusus Arus ini digelar sejak 4 Mei lalu hingga 30 Mei. Pameran tersebut menghadirkan para seniman terkemuka Tanah Air.

Lewat pameran ini para seniman melakukan otokritik sekaligus mengkritisi situasi sosial saat ini. Sugiharto pada sesi seminar menegaskan, dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi kesenjangan di dalam dunia seni rupa. Kesenjangan tersebut tentang kepedulian sosial terhadap isu-isu moralitas yang dibungkus dalam karya seni populer. Ia menyatakan, saat ini banyak orang yang lebih melihat hasil karya seni dibanding siapa pembuat karya tersebut.

Depersonalisasi tersebut membuat orang cenderung tidak lagi menganggap penting perupa maupun senimannya. ”Depersonalisasi membuat orang hanya menganggap karya seninya saja yang penting,” katanya. Dunia seni dinilainya mengalami perubahan sehingga terjadi deformasi dan dematerialisasi. Dalam kesenjangan tersebut, problem kemodernan juga menjadi bahasan. Problem kemodernan dinilainya saat ini mengandung dualisme, yakni tentang orang yang hidup dalam seni dan orang yang hidup dengan aktivitas rasional.

Deformasi dan dematerialisasi deni rupa yang terjadi kali ini pun mengubah wajahnya. Dari dunia keseharian yang rasional, kemudian menjadi sebuah kemodernan yang canggih, kembali kepada dunia sehari-hari atau pop art yang kemudian menimbulkan sebuah makna yang disebut sebagai kesenian. Pameran Manivesto dinilainya merupakan sebuah arus yang dihadapkan dengan arus lain yang mengancam.

Namun, arus yang mengancam tersebut masih ambigu dan belum bisa ditebak. Senada dengan hal tersebut, sastrawan dan juga aktor, Nirwan Dewanto, menilai bahwa arus moralitas yang terkandung dalam pameran Manivesto memang tengah dihadapkan pada arus lainnya untuk menciptakan suatu keseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang damai. Jika Bambang belum mengatakan arus apa yang mengancam tersebut, beda halnya dengan Nirwan.

Menurutnya, arus yang dihadapkan pada dunia seni rupa setiap masa selalu berganti. Jika pada masa pra-Indonesia arus yang menggerus arus moralitas adalah kolonialisme dan imperialisme. Saat rezim Orde Baru arus yang dilawan adalah sebuah rezim. Namun, kali ini arus moralitas dihadapkan pada sebuah isme. Menurutnya, fundamentalisme merupakan arus yang tengah menjadi lawan moralitas. ”Saat ini, lawan dari pada seni rupa adalah fundamentalisme,” katanya.

Menurutnya, makna mengenai rasionalitas dan irasionalitas kerap dipahami secara terbalik oleh para fundamentalis. Pergerakan yang irasional memacu para penganut paham fundamentalisme memaksa kebenaran dirinya yang paling mutlak. Kebenaran yang dianggapnya paling benar tersebut akhirnya membuat para fundamentalis menggunakan rasionalitas untuk mencapai keinginannya. Rasionalitas tersebut berbentuk senjata, tank, bom, dan lain sebagainya. ”Semua serba-terbalik. Mereka bergerak dengan dasar irasional dan menggunakan halhal rasional untuk mencapai nilai-nilai yang dianggapnya benar,” katanya.

Menurut Nirwan, fundamentalisme merupakan nilainilai suatu kebenaran tertinggi yang dianut oleh suatu kaum dengan mengacu pada ajaran tertentu. Baik ajaran agama, suku, maupun aliran. Hal ini (fundamentalisme) jelas merupakan musuh arus moralitas. Irasionalitas menurutnya tidak bisa bekerja dengan nilai rasionalitas.

Ia mencontohkan, jika birokrasi di Indonesia korup, bobrok, dan lamban, maka para birokrat tidak mampu bekerja ilmiah. Modernitas yang diusung dan diserap oleh masyarakat sosial pada sejatinya karena masyarakat menjalankan asas-asas prinsip ilmiah kehidupan sehari-hari. ”Irasionalitas tidak bisa bekerja dengan nilai rasionalitas,” katanya. Dalam hal inilah ia menyatakan bahwa seni rupa harus mengambil peran agar dapat melawan semua tindakan fundamentalis.

Nilai-nilai rasional baginya bukanlah hal yang harus dikerjakan dengan dasar sebuah pemikiran irasional. Seni rupa hari ini menurut Nirwan selain harus mampu mengambil alih arus moralitas yang dapat melawan fundamentalisme, juga harus memiliki sebuah wacana. Perupa dan seniman merupakan orang yang harus terus melemparkan wacana dalam setiap karyanya. Meski hari ini selalu ada di dalam keseharian, kesenian menjelma seperti tanpa makna.

Maka, bertepatan juga dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), pameran Manivesto merupakan sebuah arus yang memiliki sikap dan pendirian. Sikap dan pendirian tersebut dimanifestasikan ke dalam karya-karya seni dari sejumlah seniman Tanah Air. Antara lain Agus Suwage, Asmudjo, Gigih Wiyono, Hanafi, Haris Purnomo, Putu Sutawijaya, Ugu Untoro, Titarubi, dan masih banyak lagi. Para perupa yang terlibat dalam pameran ini juga merupakan kurator yang sebagian dari mereka tumbuh di antara era 80-an dan 90-an, dan sebagian kecilnya saja yang merupakan generasi 2000-an.

Meski berbeda lintas generasi, karya-karya yang disajikan merupakan karya yang membawa semangat dan keyakinan yang sama. Tentang seni yang berpihak, membawa pesan moral, sosial, dan kebaikan bagi masyarakat.

Imas damayanti