Edisi 12-02-2017
Hutan Vertikal


China akan membawa tanaman hijau ke ketinggian baru dengan membangun dua gedung pencakar langit sebagai hutan vertikal.

Kedua gedung hutan vertikal itu akan dibangun di Nanjing dan berisi ratusan pohon, tanaman, dan semak-semak yang akan mengatasi meningkatnya level karbondioksida (CO2). Sebanyak 600 pohon tinggi, 50 pohon berukuran menengah, dan 2.500 tanaman merambat dan semaksemak akan menutupi area gedung seluas 6.000 meter persegi yang disebut Nanjing Green Towers. Dengan dua gedung pencakar langit itu, tanaman hijau akan menyerap 25 ton CO2 setiap tahun dan akan memproduksi sekitar 60 kilogram oksigen per hari.

Menara tertinggi sekitar 600 kaki akan ditutupi bagian atasnya dengan lentera hijau yang menampung kantor-kantor dari lantai ke-8 hingga ke-35. Di gedung itu juga ada museum, sekolah arsitektur hijau, dan klub privat di bagian paling atas. Menara kedua yang setinggi 355 kaki akan menjadi Hotel Hyatt dengan 247 kamar dan satu kolam renang di bagian atas. Podium setinggi 60 kaki akan digunakan untuk keperluan komersial, rekreasi, dan pendidikan, termasuk toko-toko beragam merek, pasar makanan, restoran, balai konferensi, dan ruang pameran.

Menara Nanjing itu akan selesai dibangun pada 2018 dan akan menjadi hutan vertikal pertama di Asia dan sedang didesain Stefano Boeri Architects (SBA). SBA saat ini sudah memiliki pengalaman serupa yang menciptakan gedung pencakar langit sebagai hutan di Milan, Italia, dan Lausanne, Swiss. Perusahaan itu berharap dapat membangun hutan vertikal lainnya di China, terutama di kota-kota seperti Shijiazhuang, Liuzhou, Guizhou, Shanghai, dan Chongqing. Proyek Guizhou merupakan hotel hutan dengan 400 are perbukitan.

Gedung itu akan memiliki ruang gym, lounge, area VIP, bar, restoran, dan ruang konferensi. Struktur menara itu akan ditutupi pohon untuk membersihkan udara dan menjamin para tamu merasa seperti berada di alam liar. SBA menyatakan, hutan vertikal merupakan arsitektur masa depan yang sadar lingkungan. “Setiap hari para arsitek di penjuru dunia berpikir ulang dan menerjemahkan lagi ide pohon-pohon di angkasa. Setiap upaya ini sangat penting bagi masa depan arsitektur dan planet kita, karena satu pemikiran dapat memiliki dampak besar, tapi ribuan pemikiran dapat mengubah dunia,” papar SBA.

Proyek hijau semacam ini juga hadir di kota-kota lain di dunia. Seperti pada Via Verde Project di Meksiko City yang mengubah pilar-pilar jalan raya menjadi taman untuk membantu membersihkan udara, memperindah lingkungan perkotaan, dan mengurangi tingkat stres para pengemudi kendaraan. Proyek SBA pertama untuk hutan vertikal dibangun di wilayah Isola, distrik Porta Nuova, Milan. Dua menara yang ada di sana memiliki ukuran tinggi 80 meter dan 112 meter. Saat ini gedung tersebut telah menampung 900 pohon.

“Proyek ini untuk menciptakan standar baru perumahan berkelanjutan,” ungkap perusahaan engineering Arup yang bekerja sama dengan SBA untuk membangun proyek tersebut. Arup menambahkan, “Sebagai model baru yang tumbuh untuk regenerasi lingkungan perkotaan, desain ini menciptakan habitat biologis dengan total wilayah 40.000 meter persegi.” Campuran pohon besar dan kecil telah ditanam di balkon-balkon di empat sisi menara itu, ditambah 5.000 semak belukar dan 11.000 tanaman bunga. Tim desain mengklaim gedung ini dapat menyerap debu di udara dan membantu mengurangi polusi kota.

“Ini jenis arsitektur biologis yang menolak mengadopsi teknologi yang kaku dan pendekatan mekanik untuk kelestarian lingkungan,” ujar SBA. Keragaman vegetasi akan menyediakan habitat kota untuk burungburung dan serangga serta dapat menciptakan iklim mikro yang memproduksi oksigen sambil melindungi warga dari paparan terik sinar matahari. “Pembuatan sejumlah hutan vertikal di kota akan mampu menciptakan jaringan koridor lingkungan yang akan memberi kehidupan pada taman-taman utama di kota, menciptakan ruang hijau dan taman, serta menghubungkan beragam ruang dengan pertumbuhan pepohonan yang spontan,” ungkap SBA.

Hutan vertikal ini merupakan inti dari konsep arsitektur yang akan menyegarkan kembali kehidupan perkotaan dan menggunakan dedaunan untuk menciptakan keteduhan suasana. Kehadiran hutan vertikal jelas akan meningkatkan keanekaragaman hayati. Tidak hanya itu, hutan vertikal menjadi simbol kembali dirambahnya kota oleh tanaman dan kehidupan binatang liar. Pepohonan menjadi elemen kunci dalam memahami proyek arsitektur dan sistem tanam ini. Pembangunan gedung semacam ini memerlukan waktu sekitar dua tahun dengan bekerja sama dengan sejumlah pakar botani.

Tanaman-tanaman yang digunakan dalam proyek ini akan tumbuh secara khusus untuk tujuan ini. Hutan vertikal juga menjadi ciri khas kota yang mampu menciptakan jenis baru keragaman pemandangan yang dapat berubah bentuk dalam setiap musim yang berbeda, tergantung jenis tanaman yang ada. Hutan vertikal juga akan menambah pemandangan yang dinamis untuk kota metropolitan di bawahnya.

Syarifudin