Edisi 05-06-2016
Mantan Ketua Umum PDI Soerjadi Tutup Usia


JAKARTA – Kabar duka kembali datang dari jagat politik Indonesia. Mantan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Soerjadi meninggal dunia dalam usia 77 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta sekitar pukul 09.00 WIB kemarin.

Berdasarkan rencana pihak keluarga, jenazah Soerjadi akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, hari ini. Kerabat almarhum Djenny Suharso mengatakan, Soerjadi mengembuskan napas terakhir dalam perawatan akibat sakit ginjal. Soerjadi diketahui telah lama mengidap sakit tersebut dan melakukan sedikitnya 15 kali cuci darah. Kendati demikian, selama hidupnya Soerjadi merupakan sosok tegar. ”Beliau merupakan orang yang kuat, kuat sekali. Selama ini berobat jalan saja, hanya checkup,” kata Djenny di rumah duka, Jalan Ginting II No 18 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin.

Dia menuturkan, Soerjadi sudah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit. Selama itu, dia tidak pernah mengeluh kesakitan. Karena itu, Djenny mengaku tak memiliki firasat apa pun bahwa sosok kelahiran 13 April 1939 ini akan mengembuskan napas terakhir. ”Tapi beliau memang sudah sepuh. Kami ikhlas,” katanya. Lahir di Selur, Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, Soerjadi menjadi salah satu tokoh politik Indonesia dengan memimpin PDI pada kurun 1986-1993. Sepanjang kariernya, dia pernah menjabat sebagai wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1987-1992 dan 1992-1997.

Soerjadi sering disebut-sebut sebagai sosok yang membuka jalan bagi putra-putri Bung Karno untuk berkiprah dalam politik praktis, suatu hal yang seolah tak mungkin di era Orde Baru. Namun Soerjadi pula yang akhirnya sering dicap sebagai wakil rezim pemerintah saat itu untuk menghadang Mega sebagai calon ketua umum PDI. Djenny menuturkan, jenazah Soerjadi awalnya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Namun karena keinginan keluarga, Soerjadi bakal dikebumikan di samping makam ibunya di Tanah Kusir. Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa PDIP berduka atas meninggalnya Soerjadi.

”Bagaimanapun juga seluruh dinamika politik saat itu dalam masa-masa yang sulit di bawah tekanan rezim otoriter, tentu saja ada pihakpihak yang saat itu mencoba memecah belah politik,” ujar Hasto.

Hasyim ashari/ sindonews/okezone