Edisi 12-02-2017
Jaga Ekosistem, Capai Kesejahteraan


Sonson boleh dikatakan sukses sebagai lulusan sosial ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini dia mampu menjadi pebisnis dan mengembangkan ilmunya secara bersamaan.

Turut menjaga lingkungan dengan meminimalisasisampahditempat pembuangan akhir (TPA) dan mengolahnya juga dilakukan Sonson. Pria berdarah Sunda ini juga telah memiliki omzet rata-rata Rp10 miliar setiap tahun. Melalui salah satu BUMN, Sonson kini tengah mengikuti tender pengelolaan sampah di Jakarta dengan nilai proyek mencapai Rp1,3 triliun. Saingannya tidak tanggung-tanggung, perusahaan ternama seperti Mitsubishi Generators. ”Alhamdulillah inilah yang bisa saya persembahkan untuk Tanah Air. Saya ingin terus membuka pikiran masyarakat Indonesia mengenai sampah,” ucapnya bersyukur.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Sonson. Masih banyak masyarakat Indonesia menganggap sampah dapat dikerjakan dengan murah. Sampah dibuang menjadi pilihan utama. Tidak ada alternatif untuk diolah karena semua orang menyerahkannya kepada pemerintah. ”Tingkat peradaban semakin naik, kesadaran lingkungan seharusnya juga naik. Dimulai dari memikirkan pengolahan sampah,” kata Sonson, yang kerap diundang menjadi pembicara dalam seminar di sejumlah kampus. Di setiap aktivitasnya, termasuk saat menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, Sonson masih mencari inspirasi ataupun ide penelitian yang berhubungan dengan sampah.

”Traveling membuat saya semakin cinta lingkungan. Kalau ke luar negeri, ya saya perhatikan bagaimana pengolahan sampah mereka. Singapura, Malaysia, dan beberapa negara di Eropa mulai memikirkan sampah rumah untuk didaur ulang. Saya ingin Indonesia dapat mencontoh,” ujar bapak tiga anak ini. Menurut Sonson, jika masyarakat sadar untuk menjaga ekosistem, tidak perlu terlalu lelah untuk bisa meningkatkan pendapatan guna mencapai kesejahteraan. Bisa juga pendapatan tetap, tetapi masyarakat mampu mengurangi pengeluaran.

Dengan begitu, kesejahteraan bisa meningkat. Biaya-biaya akan mudah diselesaikan atau memiliki tabungan masa depan. ”Untuk itu, hasil dari pengolahan sampah berupa gas dapat dipakai untuk memasak. Ini bisa langsung dipakai untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Sonson, mencontohkan.

”Atau hasil pengolahan sampah menjadi pupuk. Pupuk bisa dijual atau dipakai untuk berkebun sayur dan buah. Bersyukur kalau banyak dan bisa dijual. Kalaupun sedikit, paling tidak untuk konsumsi sendiri. Jadi, tidak perlu membeli lagi,” katanya.

Ananda nararya