Edisi 05-06-2016
Muhammad Ali Agen Perubahan dari Ring Tinju


“Taktik paling brilian dalam sejarah tinju disusun seorang remaja yang menempati peringkat ke-376 dari kelas berisi 391 siswa.”

Begitulah deskripsi Paul Gallenger untuk Muhammad Ali yang tertuang dalamkaryatulisnya, Sonny Liston: The Real Story Behind the Ali-Liston Fights, terbit Juli 2012.

Gallenger mungkin hanya bermaksud menyorot persiapan Ali saat menghadapi Liston. Namun harus diakui, analisis Gallenger merepresentasikan karakter Ali. Strategi yang dimaksud Gallenger tidak lain adalah perang urat syaraf. Ali dipercaya sebagai atlet dengan “mulut terbesar” sepanjang masa. Dia tidak segan menyerang lawan lewat komentar agar lawan terpancing emosi. “Dia terlalu jelek. Juara seharusnya tampan seperti saya.”

“Wajahnya mirip beruang. Bau badannya juga seperti beruang.” “Setelah mengalahkannya, saya akan mendonasikan Liston ke kebun binatang.” Itu semua adalah beberapa penyataan Ali ke Liston. Komentar-komentar itu pun tak pelak mengganggu lawan. Ali akhirnya mengalahkan Liston melalui technical knockout (TKO) pada ronde ketujuh untuk merebut gelar juara dunia versi World Boxing Association (WBA) dan World Boxing Council (WBC) pada Februari 1964.

Ketika itu dia masih berusia 22 tahun. Pada rematch 15 bulan kemudian, Ali berjaya lebih cepat dan memukul KO Liston pada ronde pertama. Kegesitan lidah pula yang membawa Ali naik ring. Tahun 1954, Ali kecil melaporkan kehilangan sepeda ke Joe Martin, polisi lokal di kota kelahirannya, Louisville, Kentucky. Dia berjanji menghajar sang pencuri jika menemukannya. Martin, yang memiliki sasana, meminta Ali belajar bertarung agar ancamannya tidak sekadar katakata belaka.

Ali mengikuti saran Martin dan membuktikan dirinya punya talenta di tinju. Pada Agustus 1960, dia meraih medali emas di kelas berat ringan Olimpiade Roma. Di tahun yang sama, Ali langsung beralih ke profesional dan mencatat rekor 19-0 sebelum bertemu Liston. Kemenangan ganda atas Liston kemudian mengangkat Ali ke awan tertinggi. Semakin besar pula dia membuka mulutnya. Ali tidak lagi membicarakan lawan dan mulai mengomentari isu-isu lain yang lebih penting, mencakup rasisme dan penolakan Perang Vietnam.

Tidak menunaikan wajib militer, titel Ali akhirnya dicopot, dilarang bertanding, ditangkap, dan menjalani proses hukum. Periode ini krusial karena Ali kehilangan usia emasnya. Sosok yang lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr itu baru kembali ke ring setelah Mahkamah Agung membalikkan vonis pembekuan kariernya, Oktober 1970. Kehebatannya tetap terlihat dan memenangi dua pertandingan walau menghilang hampir empat tahun. Meski begitu, rekor sempurna Alitidakbertahanlama.

Diamenderita kekalahan dari Joe Frazier pada Maret 1971 dan Ken Norton pada 1973 meski masih diselingi beberapa hasil positif. Tapi sosok yang menaklukkan Rudie Lubbers di Jakarta, Oktober 1973, itu bangkit dan membalas dendam atas Frazier, Januari 1974. Dia lalu merebut gelar WBA dan WBC setelah memukul jatuh George Foreman pada ronde kedelapan dalam duel bertajuk Rumble in the Jungle di Kinshasa, Oktober 1974. Dari pertandingan ini pula hadir salah satu kutipan paling tenar Ali:

“Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah. Foreman yakin bisa memukul saya. Namun saya tahu dia tidak dapat melakukannya.” Ali kemudian meraih kemenangan kedua atas Frazier (Thrilla in Manila ) dan Norton. Seusai kehilangan gelar akibat ditaklukkan Leon Spinks, Februari 1978, dia membawa pulang titel WBA pada rematch tujuh bulan berselang.

Kariernya ditutup dengan kekalahan atas Larry Holmes dan Trevor Berbick. Sosok yang menikah empat kali itu divonis mengidap parkinson pada 1984. Walau begitu, dia tetap aktif dan menggunakan pengaruhnya untuk membawa perubahan. Keberaniannya tampil di depan publik dan melawan penyakit serius itu membuatAlisemakindikagumi. “Parkinsonmengungkungkepribadian aslinya. Namun pada saat bersamaan, dia tetap mencoba membantu,” tutur Peter Schmidt, salah satu peneliti di National Parkinson Foundation, seperti dikutip Al Jazeera.

“Saya tidak akan merindukan tinju. Justru tinju yang kehilangan saya,” Ali pernah berkata. Selamat tinggal juara.

Harley ikhsan