Edisi 05-06-2016
Pesantren, Ciputat, dan Dunia


Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisionalitas dan modernitas. Fenomena labelisasi agama dan revolusi mental yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji.

Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap tantangan modernisasi.

Dari dalam negeri, cendekiawan muslim Indonesia, almarhum Nurcholish Madjid, pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang sering disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dahulu mengenyam pendidikan tinggi. Namun, kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri sering dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak.

Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingantudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau. Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita. Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik.

Pada masa lalu lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren sebagai penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang- undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan kaum sarungan adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram. Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia. Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.

Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya. Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat.

Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global. Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jati dirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa di antaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.

Dari Pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokohtokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia. Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya.

Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk. Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini.

Muhammad Nida Fadlan
Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumni Pesantren Buntet, Cirebon