Edisi 05-06-2016
Upaya Melawan Lupa Konflik Golkar


Berbicara Golkar berarti tengah berwacana tentang bangsa ini. Mendiskusikan persoalan Golkar ekuivalen dengan memperbincangkan masalah negeri ini.

Bila Golkar tidak stabil atau bermasalah, yang rugi bukan hanya kader Golkar tetapi juga negeri ini dan juga pemerintah yang tengah berkuasa. Kader Golkar dan juga pemerintah kini tengah euforia setelah Munaslub di Nusa Dua, Bali, berhasil memilih Setya Novanto sebagai ketua umum baru Partai Golkar untuk tiga tahun ke depan.

Bahkan, Setya Novanto dalam diskusi di Media Center DPR langsung bermanuver, “Bila rakyat menginginkan Jokowi, Partai Golkar pun mendukung Jokowi pada (Pilpres) 2019.” Masalah besar bangsa ini adalah memiliki ingatan yang pendek. Bahkan, lebih ekstremnya bisa dikatakan bangsa yang amnesia. Gampang lupa akan masalah-masalah yang krusial dan penting tetapi malah sering diabaikan dan akibatnya terpuruklah partai dan bangsa ini.

Kehadiran buku karya Mulawarman berjudul Konflik Golkar ini adalah sebuah ikhtiar dan kepedulian jurnalis senior atas konflik berkepanjangan di Golkar. Buku setebal 120 halaman ini merajut serpihan- serpihan yang berserakan dan mengompilasinya secara kronologis perseteruan di tubuh Golkar yang berawal dari Pilpres 2014 hingga pecah menjadi dua kubu, Munas Bali dan Munas Ancol. Sekjen Partai Golkar Idrus Marham dalam pengantar buku ini memuji penulis yang menyajikan persoalan dan penyebab konflik dalam tubuh Partai Golkar secara utuh dan komprehensif.

Idrus berharap buku ini menjadi catatan sejarah sekaligus cerminan bagi internal Partai Golkar tentang konflik yang berkepanjangan dan dampaknya. (hal. xiii) Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro, juga dalam prolog buku ini malah menyebut konflik seolah menjadi ciri khas Golkar. Menurut Siti Zuhro, konflik di tubuh Golkar tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru tetapi juga melahirkan partai-partai baru seperti Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Demokrat, Gerindra, Hanura dan NasDem.

Buku karya Mulawarman ini, kata Siti Zuhro, mendedahkan penyebab konflik Golkar, siapa yang bermain dan juga membeberkan siapa yang mengintervensi Partai Beringin. Mulawarman dalam buku ini tidak menggurui elite atau kader Partai Golkar. Gaya penulisan yang kronologis dan informatif menjadikan bacaan ini mengalir dan enak dibaca. Untuk mengingatkan kader Golkar agar tidak lupa, ditampilkan sesekali data penguat.

Misalnya tentang dampak konflik dan perpecahan di tubuh Golkar yang melahirkan beberapa partai sempalan setelah reformasi mengakibatkan suara di parlemen menurun secara signifikan. Perolehan suara Golkar di Parlemen pernah mencapai suara tertinggi mencapai 128 pada Pemilu 2004. Kemudian menurun drastis pada 2009, hanya 106 kursi. Dan, pada Pemilu 2014 melorot menjadi 96 kursi. (hal.116) Di beberapa halaman memang ada kesalahan teknis seperti salah huruf dan juga halaman yang cetakannya kurang jelas.

Kabarnya buku dicetak lebih cepat karena untuk mengejar momentum Munaslub Golkar yang tibatiba dipercepat. Tapi, kesalahan kecil itu tidak mengurangi substansi buku ini. Di akhir buku, penulis tak lupa mengajak elite dan kader Golkar untuk menanggalkan egonya masing-masing demi kesolidan Partai Golkar. Tantangan Golkar tidak mudah, ke depan ada Pilkada serentak 2017 dan juga Pileg dan Pilpres 2019.

Syarat minimalnya, Golkar harus solid, transformatif dan modern. (hal. 118) Buku ini selain layak dibaca para kader Partai Golkar juga dapat menjadi referensi pelengkap tentang dinamika politik nasional untuk kalangan akademisi, pengamat, pegiat survei dan juga mahasiswa.

Yayat R Cipasang
penulis buku DPR Salah Gaul