Edisi 09-01-2016
Siapkah Kaum Muda Arungi MEA?


Sabtu pagi itu ratusan anak muda mulai berdatangan ke Wisma Nusantara, Jakarta. Satu per satu mereka menukarkan tiket dan mulai memasuki ruang seminar pertama yang membahas tentang permasalahan ekonomi di Indonesia.

Seminar tersebut dihadiri tiga pakar di bidang ekonomi dan pemerintahan. Mereka adalah ekonom senior dan team leader kemiskinan di World Bank Jakarta, Vivi Alatas, salah satu tokoh Indonesia di bidang hak asasi manusia dan pemerataan ekonomi HS Dillon, mantan Kepala Kantor Integrasi Ekonomi di Asian Development Bank (ADB) Iwan Jaya Azis, dan Komisi XI DPR RI periode 2014-2019 Antonius W Sumarlin.

Secara khusus, Festival Indonesian Youth Conference (IYC) 2015 ingin menyampaikan perihal tindakan yang dapat dilakukan anak muda dalam mengatasi tantangan ekonomi di Indonesia saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimulai. Jika melihat potensi, beberapa anak muda telah berhasil mengembangkan bisnis, seperti Puyo.

“Sebenarnya peluang MEA ini harus kita jadikan media untuk meningkatkan harkat rakyat dan bangsa. Ilmu pengetahuan adalah salah satu hal yang penting untuk dimiliki,” kata salah satu pembicara, HS Dillon, saat seminar ekonomi berlangsung di Upper Room Wisma Nusantara, Sabtu (28/11).

Tak hanya itu, dengan menggunakan tagline #KitaSiap, Festival IYC 2015 sedikit berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Dalam penyelenggaraannya yang ke-6 ini, panitia sepakat untuk mengangkat satu tema besar, yakni MEA. Ketua Festival IYC 2015 Indra Nur Fatriansyah mengatakan bahwa anak muda memiliki peran yang penting dalam menghadapi MEA.

“Tahun ini kami ingin mempersiapkan anak muda Indonesia agar mereka siap dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Oleh karena itu, kami mengambil tema besar, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN,” sebut Indra.

Upaya menjadi wadah bagi kaum muda agar mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi MEA terangkum dalam rangkaian acara Festival IYC 2015. Panitia menggelar delapan sesi seminar, tiga sesi workshop , dan satu sesi screening film. Sesi seminar membahas tentang isu ekonomi, media dan jurnalisme, politik, kepemimpinan, pendidikan, sains dan teknologi, pariwisata, dan surprise session .

Sementara itu, untuk memperluas pengetahuan dan mengembangkan kreativitas anak muda dijelaskan dalam sesi workshop personal branding, financial planning , dan creativepreneur. Sebanyak tujuh karya sineas muda pun diputarkan saat sesi screening film atau pemutaran film pendek. Rata-rata mereka berasal dari daerah Jabodetabek, bahkan luar kota.

Judul film tersebut antara lain, ALIN (2015); Ketika Umur Saya 40 , Sekian (2015); Kunang-Kunang (2014); AGUS & AGUS (2014); Divergen (2013); HARYO (2013); dan La Poisson (2013). Masing-masing film berdurasi antara 12 hingga 20 menit. Saat festival berlangsung, terlihat juga berbagai komunitas yang memperlihatkan karya dan menyosialisasikan program kegiatan.

Komunitas yang hadir dalam pameran tersebut, di antaranya TurunTangan.org, Sobat Budaya, dan Sanggar Origami Indonesia. Indra mengaku membuat kerja sama dengan komunitas anak muda menjadi sebuah keharusan untuk menciptakan sinergi.

“Jadi kalau kita mau maju, tidak bisa sendirian. Kita juga harus mengundang teman-teman kita, seperti komunitas anak muda yang lain karena tanpa mereka, IYC sulit untuk berkembang,” ujarnya.

LANI DIANA
Mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara