Edisi 12-02-2017
Passion Jalan Menuju Sukses


Manusia diciptakan Tuhan dengan talenta atau bakat masing-masing. Tugas manusia adalah menemukan dan mengembangkan talenta itu semaksimal mungkin. Talenta dan pasison adalah jalan menuju kesuksesan.

Oleh karena setiap manusia diciptakan dengan keagungan talentanya, maka sesungguhnya manusia hanya akan meraih kesuksesan. Atau dengan kata lain, manusia tidak mesti mengalami kegagalan dalam hidupnya. Apa yang disebut kegagalan, hanyalah soal waktu, karena belum ditemukan dan belum dimaksimalkannya talenta yang dimiliki.

Sampai di sini, benar kalimat bijak, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Benar pula pepatah asing, every cloud has a silver lining. Semiris apa pun kondisi fisik seseorang, tetap ia memiliki kelebihan yang diberikan Sang Pecipta kepadanya. Tugas manusia mencari benang perak atau emas di balik kondisi buruk yang menimpanya. Fisikawan bernama Stephen W Hawking, salah satu contoh dalam hal ini. Ia mengalami kelumpuhan dan tak bisa bicara setelah terkena pneumonia.

Namun, keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Bukunya berjudul The Grand Design merupakan salah satu karyanya yang fenomenal. Di bidang olahraga, ada nama Anthony Robles dari Arizona State University yang meraih juara nasional di bidang gulat. Contoh-contoh ini setidaknya meneguhkan kita saat dirundung apa yang disebut kegagalan. Orang-orang cacat yang sukses mengafirmasi bahwa di balik peristiwa pilu sekalipun selalu ada rencana terindah dari Sang Pencipta. Buku UNSTOPABLE HOPES karya Gloria Morgen menggarisbawahi sikap optimistis yang harus dimiliki setiap manusia.

Buku ini berisi keping-kepingan pengalaman, permenungan, dan sikap Morgen terhadap pengalamannya. Dalam buku ini Morgen menulis pengalaman saat kuliah, ketika indeks prestasi (IP) yang dia raih hingga semester 6 hanya dua koma. Ini tentu jauh di bawah ideal jika kelak masuk dunia kerja yang menuntut IP minimal 3,0. Kenyataan tersebut membuat dia merenung dan bertanya, “Apakah saya berada di jurusan yang tepat?” Pertanyaan itu membuka cakrawala baru baginya untuk berikhtiar mencari keunggulan lain dalam dirinya.

Ia tak meratapi salah jurusan yang sudah diambilnya. Morgen yakin kegagalan meraih IP tinggi—apa lagi hanya karena salah jurusan—bukan akhir dari segalanya. Sebab, tiap orang memiliki bakat masingmasing. Keyakinan ini mendasari perjuangan Morgen selanjutnya. Tanpa mengabaikan kuliah, ia pun mencari bakat dalam dirinya. Diakuinya, dalam upaya meraih apa yang dicita-citakan, dia mengalami jatuh bangun. “Saya gagal 38 kali hanya untuk meraih satu prestasi.... Satu hal yang membuat saya terus berjuang adalah kepercayaan saya kepada Tuhan. Saya yakin Tuhan pasti memberikan talenta kepada setiap orang.

Tak pernah akan tertukar, ketinggalan ataupun terlewat. Pasti ada. Nah, tugas kita sebagai manusia adalah menemukan talenta itu apa”. (hal 42) Pada November, 2012— empat bulan dari waktu mengikrarkan komitmen menemukan talenta—Morgen meraih prestasi pertama, yaitu menjadi The Best Social Youth Movement dari NTDC Padjajaran. Hingga kini, Morgen telah mengukir sederet prestasi bergengsi. Antara lain, pada 2013 ia meraih peringkat kelima nasional di Danone Young Social Entrepreneur dan meraih juara pertama Social Entrepreneur AIESEC Universitas Indonesia.

Pada 2014 ia meraih penghargaan dari Universitas Katolik Parahyangan sebagai Mahasiswa Outstanding Prestasi Non Akademik. Prestasi demi prestasi tersebut menguatkan sikap dan pandangannya bahwa sesungguhnya tidak ada kegagalan dalam hidup ini karena setiap orang sudah dilengkapi dengan talenta masing-masing. Menemukan talenta dan passion itu adalah jalan menuju kesuksesan seseorang. Tentu, pengalaman Morgen akan menjadi sangat berguna bagi mahasiswa yang merasa dan mengaku salah pilih jurusan.

Morgen menunjukkan bahwa salah jurus, bukanlah alasan untuk gagal. Adapun yang diperlukan adalah mencari keunggulan talenta dan passion. Menariknya, buku ini tidak hanya menyajikan pengalaman penulis dalam menemukan passion dan bakat di luar jurusan yang dia pilih. Penulis juga menghadirkan sejumlah figur sukses meski tidak terkait dengan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah. Misalnya, Gunawan Susanto, Presiden Direktur IBM termuda di Indonesia. Ia meraih kedudukan ini karena bakat dan passion-nya di bidang selling. Padahal, basis kompetensinya adalah bidang mesin karena mengambil jurusan mesin.

Atau Billy Simpson yang sukses di dunia musik. Padahal saat kuliah ia mengambil jurusan commerce and economics. Buku ini menarik dan bermanfaat. Dikatakan menarik, sebab dirancang agar pembaca tidak merasa bosan saat membaca. Tak kurang dari 51 kutipan menarik dari berbagai tokoh sukses tersebar dari halaman pertama hingga akhir. Katakata bijak itu ditempatkan di halaman berwarna hitam.

Selain itu, penulis mengintro kisah fabel lucu yang sarat pesan moral. Ada juga kuis-kuis dan pertanyaan menarik buat pembaca renungkan sendiri. Buku ini baik untuk dibaca semua kalangan karena menanamkan semangat optimistis dan harapan.

Very herdiman
Redaktur Pelaksana Indonews.id