Edisi 12-02-2017
Sate Matang ala Cek Mun


Sate di Kota Medan identik dengan lontong atau ketupat. Namun, menu yang terbuat dari potongan daging kecil yang ditusuk lidi ini disajikan dengan seporsi nasi dan kuah sup nan gurih oleh Cek Mun.

Aroma rempah yang kuat dan segar kuah sup yang dibuat menggunakan perpaduan bumbu kapulaga, bunga lawang, cengkih, kayumanis, danmericainiterciumsempurna kala disantap bersama sate khas Kota Matang, Bireuen, Aceh ini. “Karena temannya nasi dan sup, sate ini membuat kenyang. Jadi, sate matang bukan untuk kudapan saja,” ujar Maimin, pemilik warung Nasi Sate Matang Cek Mun kepada KORAN SINDO beberapa waktu lalu. Jangan salah sangka dengan tempatnya yang sederhana.

Meski hanya menggunakan gerobak di pinggir jalan serta beberapa kursi dan meja plastik untuk pembeli, cukup banyak pelanggan makan di sini. Maimin yang akrab disapa Cek Mun juga menyediakan ratusan tusuk sate di dalam baskom untuk disajikan kepada pelanggan. Selain satenya yang unik dan menggugah selera, cara pembuatan sate Cek Mun pun unik. Bunyi “gedebam” yang merupakan suara botol kecap dibanting setelah sang penjual menuangkan kecap ke sambal kacang untuk kuah sate sering membuat pelanggan baru kaget dan terpana.

Cek Mun membeberkan, sate matang ini dibuat dengan memakai daging sapi dan kambing, serta kaya bumbu rempah. Sementara jika menggunakan daging ayam, daging sate akan mudah hancur. Pembuatan satenya pun berbeda dengan sate-sate pada umumnya karena sate matang Cek Mun dibuat menggunakan daging segar yang langsung dipanggang.

Pemanggangan sate tak memerlukan waktu lama, cukup dua menit saja dan sate sudah bisa dinikmati. Jadi, pembeli tidak perlu menunggu lama. “Inilah perbedaan kami, yang digunakan daging segar yang dilumuri bumbu, langsung dipanggang tanpa direbus dulu,” ungkapnya. Untuk dagingnya, Cek Mun memilih daging has, yakni daging paha. Dalam pengolahan, dia merendam daging terlebih dulu antara waktu 15 hingga20menitagardagingbisa lembut ketika disantap.

Cek Mun menuturkan, resep yang digunakannya untuk mengolahsate matangberasaldari tanahkelahirannya, Kota Matang, Glumpang Dua, Bi’reun, Aceh. Usaha sate matang pun sudah digeluti keluarganya sejak 1963 di Bireuen dan merupakan kuliner turun-temurun. “Jadi, pertama sekali usaha ini milik paman saya bernama M Yusuf yang membukanya dengan harga Rp150 saja. Saya meneruskan sejak 1995, setelah saya belajar membuat sate ini dari kelas 4 SD,” tuturnya.

Kemudian pada 2001, Cek Mun membuka cabang di Medan, tepatnya di Jalan Gatot Subroto Km 4,5 Pondok Kelapa. Sampai pada 2013, kulinernya semakin akrab di lidah masyarakat Medan dan terus berkembang hingga sekarang. Per hari dia menghabiskan antara 50 hingga 100 kilogram daging sapi untuk kebutuhan sate matang. Pasti jutaan rupiah omzet dikantonginya tiap hari, buah dari usaha ini. Agar pemasaran lebih efektif, Cek Mun membuat strategi yang cukup efektif, yaitu menyediakan paket kecil, yakni dengan uang Rp10.000 bisa bersantap sate matang, hingga paket middle-up seharga Rp35.000.

Cek Mun juga mengemas pemasaran dengan slogan jika tidak enak, tidak usah bayar. Slogan ini dibuat lantaran kedainya sudah punya standar mutu. “Daging segar, kualitas bumbu yang bagus, bagaimana bisa tidak enak?” pungkasnya.

Siti amelia