Edisi 12-02-2017
Suara Jangkrik Bisa Menjadi Kenangan Masa Lalu


Penelitian komprehensif pertama tentang jangkrik dan belalang di Eropa menemukan lebih dari seperempat spesies berada di ambang kepunahan.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), kelompok serangga itu merupakan yang paling terancam punah sejauh ini di Eropa. Benua itu sekarang menampung lebih dari 1.000 spesies belalang dan jangkrik. “Jika kita tidak bertindak sekarang, suara jangkrik akan menjadi kenangan masa lalu,” ungkap IUCN, dikutip BBC. Jangkrik dan belakang yang dikenal sebagai kelompok Orthoptera itu hidup di padang rumput. Mereka menjadi sumber makanan penting berbagai jenis burung dan reptil. Kepunahan belakang dan jangkrik dapat memengaruhi seluruh ekosistem.

Habitat mereka pun punah akibat kebakaran lahan, pertanian yang intensif, dan pengembangan pariwisata. Deputi Direktur Program Spesies Global IUCN Jean-Christophe Vie menjelaskan, untuk membawa spesies ini terhindar dari kepunahan, perlu dilakukan banyak tindakan untuk melindungi dan memulihkan habitat mereka. “Ini dapat dilakukan melalui manajemen lahan rumput secara berkelanjutan menggunakan praktik pertanian tradisional, misalnya,” kata Vie.

Dia menambahkan, “Jika kita tidak bertindak sekarang, suara jangkrik di lahan rumput Eropa dapat segera menjadi kenangan masa lalu.” Penelitian ini dilakukan selama dua tahun dan melibatkan lebih dari 150 peneliti. Kepala Subkomite Konservasi Invertebrata IUCN dan Kepala Penulis Studi Axel Hochkirch memperingatkan, “Jika kehilangan belalang dan Orthoptera lain seperti jangkrik, kita akan kehilangan keanekaragaman hayati. Mereka merupakan indikator yang sangat bagus tentang keragaman hayati dalam ekosistem terbuka,” papar Hochkirch.

Sejumlah pakar juga mengkhawatirkan spesies dalam kelompok kecil, seperti belalang Crau yang hanya hidup di dataran Crau di Prancis Selatan. Beberapa populasi mereka telah punah akibat kebakaran lahan, terutama di Yunani dan Kepulauan Canary. “Hasil Daftar Merah IUCN ini sangat mengkhawatirkan,” ungkap Direktur Kantor Regional Eropa IUCN Luc Bas.

Studi itu pun merekomendasikan pembentukan program pengawasan di penjuru Eropa untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi terbaru populasi serangga tersebut.

Arvin