Edisi 09-01-2016
Eksistensi Industri Fashion dalam MEA


2016 menjadi tahun yang menjanjikan karena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) resmi berlaku sejak 4 Januari silam. Hal ini membuat perdagangan bebas, baik yang mencakup barang maupun jasa, antarsesama negara anggota ASEAN tidak ada batasnya lagi.

Sejak kesepakatan untuk membentuk MEA sebagai satu pasar yang sama, Indonesia harus membuka tangan dalam menerima tamu-tamu ASEAN untuk masuk dan memasarkan produknya ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya, Indonesia diberikan kesempatan untuk masuk ke negara ASEAN lainnya. Namun, jika tidak kreatif dan tidak produktif, Indonesia akan tenggelam di negeri sendiri.

Hal ini membuat segala aspek industri mulai berbenah dan berusaha untuk tidak kalah saing dalam menghadapi pasar bebas ini. Salah satu industri yang mulai memperbaiki segala aspeknya adalah industri fashion . Menyaksikan gelagat dunia fashion Indonesia yang kian berkembang, Diana Rikasari, blogger mode ternama, menanggapi hal ini dengan cukup santai.

Menurut dia, tren mode Indonesia tak akan kalah saing dengan negara ASEAN lainnya. Dia menikmati perkembangan dunia mode di Indonesia. “Fashion Indonesia semakin seru, semakin berani. Desainer lebih percaya diri mengeksplorasi gaya-gaya baru, kualitas pengerjaan juga semakin baik,” ujarnya.

Di antara pencinta mode Indonesia, nama Diana Rikasari tentunya sudah tak asing. Wanita yang namanya kian dikenal sebagai blogger mode dengan cita rasa gaya yang unik, kini memperkuat citra diri sebagai seorang pengusaha muda sukses. Di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis sepatunya dengan label UP/www.iwearup.com , dia merasa siap menghadapi MEA.

Baginya, MEA dapat dijadikan peluang, sekaligus tantangan yang positif dalam dunia mode. “Aku melihat ini sebagai tantangan yang positif karena justru memacu kita agar semakin meningkatkan kualitas dan tidak statis, serta bertahan di zona aman,” ujarnya.

Tantangan dan peluang tersebut terdapat di negara-negara ASEAN yang nantinya menjadi kompetitor Indonesia, seperti Malaysia, negara yang paling dekat dengan Indonesia telah sukses memosisikan dirinya sebagai pusat mode muslim dengan target pasar sebagian besar dari negara ASEAN, termasuk Indonesia, dengan mayoritas produk berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Selain itu, produk fashion Thailand yang telah diakui sangat kreatif oleh pencinta mode dunia, pemerintahnya pun mendukung produk khas Negeri Gajah Putih ini untuk dapat mengekspor barang-barangnya ke luar negeri, termasuk Indonesia. Karena itu, tentu saja bukan hal yang sulit bagi negara ini bersaing dalam kancah ASEAN.

Adapun lulusan S-2 International Business Management dari Nottingham University ini beranggapan bahwa Singapura adalah negara yang bisa menjadi acuan Indonesia dalam menghadapi MEA. Dia menilai Singapura telah berhasil memosisikan dirinya sebagai tujuan belanja produk barang mewah bagi penikmat mode.

“Secara industri, aku suka Singapura. Dia negara dengan luas wilayah yang kecil, tapi begitu percaya diri dan agresif, serta pandai mengemas fashion event mereka dengan tampilan yang mendunia,” tutur blogger mode yang sering berdandan nyentrik ini.

Indonesia tentu sangat mampu bersaing di pasar bebas ini. Apalagi jika dapat memanfaatkan populasi dan keragaman budayanya sehingga dapat menjadi target besar bagi para desainer untuk mengeruk peruntungan di negeri sendiri. Inspirasi pun bisa datang dari Sabang sampai Merauke, yang tentu akan membuat pasar Indonesia menjadi kian menarik.

Fashion event Indonesia, seperti Indonesia Fahion Week atau Jakarta Fashion Week, pun terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. “Aku sendiri terus berusaha untuk meningkatkan kualitas produk dan terus berinovasi,” katanya.

Diana menuturkan, untuk dapat bersaing, pelaku industri fashion harus mampu produktif dan mempunyai visi, misi, dan strategi untuk membantu perkembangan produknya. “Sedari awal harus berpikiran selangkah lebih maju. Fashion brands harus sudah tahu rencana jangka panjangnya seperti apa, enggak hanya jualan dan desain, tapi punya visi, misi, dan strategi yang jelas,” tuturnya.

LINDA JULIAWANTI
Mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif