Edisi 12-02-2017
Tradisi Turun-Temurun di Meja Makan


Selalu ada spot di dalam rumah yang menjadi favorit penghuninya. Buat Amelia Yani, spot favorit itu adalah meja makan. Di sana Amelia dan keluarga bisa membangun quality time bersama, seperti yang dulu pernah diterapkan oleh pahlawan revolusi (alm) Jenderal Achmad Yani, ayahnya.

Rumah berdesain minimalis milik Amelia terletak di kawasan perumahan Megapolitan Estate, Cinere, Depok. Di rumah ini Amelia dan seorang putranya, Dimas Drajat, tinggal sejak 2012. “Sebelumnya saya tinggal di Dusun Bawuk, Sleman, Yogyakarta.

Di sana saya menjadi seorang petani. Kemudian, anak saya, Dimas, mengajak saya untuk tinggal bersamanya di sini. Jadi, ini rumah Dimas. Saya sendiri tidak memiliki apa-apa saat ini. Apa yang awalnya punya saya, saat ini sudah menjadi milik anak saya,” kata Amelia, membuka percakapan dengan KORAN SINDO, beberapa waktu lalu. Bagi Amelia, rumah tak ubahnya sebuah istana. Tidak peduli ia berukuran besar atau kecil. Rumah, lanjut wanita yang juga menjabat Duta Besar Bosnia- Herzegovina ini, merupakan tempat berkumpul dan bercengkerama bersama anggota keluarga.

Meja makan adalah tempat yang paling penting bagi keluarga Amelia. Di sana ia terbiasa berdiskusi, berbincangbincang, dan berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. “Dulu almarhum bapak juga mengajarkan kami seperti itu sehingga meja makan menjadi tempat yang penting bagi kami,” ujar Amelia. “Sama seperti saat dulu kami masih tinggal di Jalan Lembang, Menteng, yang sekarang dijadikan Museum Sasmita Loka Achmad Yani, meja makan merupakan tempat yang sangat penting bagi kami. Kami berbicara ekonomi, politik, dan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga di meja makan. Bahkan, sampai saat ini lokasi meja makan tersebut tidak pernah dipindahkan,” lanjut anak ketiga dari delapan bersaudara itu.

Menurut Amelia, ia dan sang putra memiliki banyak kesamaan. Salah satunya adalah gemar mengoleksi barang antik dan lukisan. Tak heran kalau tiap bidang dinding di rumah ini dipenuhi karya seni lukis tersebut. “Dari dulu kami berdua menyukai seni lukis. Hanya, kalau saya menyukai lukisan realis, anak saya lebih menyenangi lukisan yang abstrak,” beber wanita kelahiran Magelang, 22 Desember 1949 itu. Tak ketinggalan, koleksi barang antik juga banyak memenuhi sudut-sudut ruangan di rumah ini. Misalnya saja guci, patung, bahkan lemari.

“Lemarilemari ada yang merupakan peninggalan eyang putri, ada juga yang sengaja didapatkan dari Jalan Mayestik di Jakarta Selatan,” timpal Dimas. Dimas tak menampik bahwa dirinya menyukai barang-barang antik, seperti halnya sang ibu dan eyang putri. “Mungkin sudah keturunan sehingga saya juga suka mengoleksi barang-barang antik. Banyak koleksi di sini yang merupakan peninggalan dari eyang putri,” ujar putra semata wayang Amelia itu.

“Walaupun kami menyukai barang antik dan hal-hal yang berbau mistis, kami termasuk penakut. Makanya, saya dan ibu tidak menyukai rumah yang terlalu besar,” lanjut pria kelahiran Jakarta, 10 September 1976 tersebut. Selain meja makan, ruang keluarga juga menjadi spot favorit Amelia. Di ruangan itu, Amelia biasa melepas lelah sambil menonton tayangan televisi. “Tontonan favorit saya olahraga tenis. Biasanya saya menonton tenis, dari pagi sampai malam enggak pernah bosan. Sampai-sampai asisten rumah tangga saya pernah bertanya, ‘Ibu tidak bosan menonton tenis terus setiap hari?’,” kisah Amelia.

Dulu, tiap Sabtu atau Minggu, Amelia selalu menyediakan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian, hingga menyetrika. “Biasanya kalau hari Minggu, kami melakukan kerja bakti di rumah. Kalau Minggu sedang ada acara, bisa diganti ke hari Sabtu. Pokoknya dalam satu minggu harus meluangkan waktu untuk itu,” kata wanita yang dekat dengan dunia politik dan militer tersebut. Di ruang keluarga terdapat koleksi buku bertema sejarah serta ratusan buku lain. Amelia dan Dimas sengaja memilih warna ivory untuk diaplikasikan di sana karena palet tersebut diyakini mampu memaksimalkan sistem pencahayaan yang ada di ruangan itu.

“Warna ivory bisa menghasilkan pencahayaan yang bagus. Warna ini menyerap cahaya di ruangan sehingga akan terasa lebih adem. Berbeda dengan putih yang memantulkan cahaya,” kata Amelia, yang kerap melakoni hobinya melukis di rumah. Beranjak ke ruang tamu, di sana terdapat sebuah lampu antik yang dibawa dari Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Lampu ini merupakan peninggalan dari ibunda Amelia, yang notabene merupakan istri Jenderal Achmad Yani. Selain itu, terdapat pula lukisan “Angon Kebo”, yang merupakan lukisan antik peninggalan sang jenderal.

Ananda nararya