Edisi 05-06-2016
Putra Terbaik Indonesia di Balik BRIsat


PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI)sebentar lagi akan menjadi satu-satunya bank di dunia yang memiliki satelit untuk memberi pelayanan lebih maksimal kepada masyarakat.

Untuk mempersiapkan dan mengoperasikan satelit yang diberi nama BRIsat tersebut perseroan menggandeng sejumlah diaspora. BRI memanggil mereka dari berbagai negara untuk ikut terlibat dalam persiapan momentum bersejarah ini sekaligus mengawal keberlanjutan operasional BRIsat pascaserah terima dari Space Systems/Loral, LLC (SSL) Palo Alto, California, AS. Dari data yang diterima KORAN SINDO, Tim Ad Hoc BRIsat yang terdiri atas 44 orang termasuk ketua tim, diisi oleh para ahli dan profesional dari dalam dan luar BRI.

”Sejak ditunjuk menjadi ketua tim BRIsat, saya meminta keleluasaan kepada direksi untuk memilih orangorang yang tepat. Sebagian besar kami melibatkan ahli dari dalam, sebagian lagi saya meminta beberapa diaspora dari sejumlah negara untuk terlibat dalam program ini,” ujar SEVP IT Strategy & Satellite BRI Hexana Tri Sasongko, ketua Tim BRIsat. Anggota tim Ad Hoc BRIsat di antaranya adalah Kanaka Hidayat yang juga menjabat sebagai advisor BRIsat. Lulusan studi Diploma of Electronic Technology di Algonquin College, Ottawa, Kanada (1983), ini sudah malang melintang di dunia satelit sejak 1985.

Dia juga pernah menjadi direktur pengembangan bisnis layanan internet via satelit bagi perusahaan SpeedCast (Hong Kong, 2001-2002). Sementara itu, Meiditomo Sutyarjoko dalam proyek BRIsat dipercaya menjadi lead consultant. Lahir pada 28 Mei 1964, Meiditomo menyelesaikan studi strata 1 dari Institut Teknologi Bandung (ITB), master degree dari University of Southern California dan doktoral dari Universitas Indonesia. Pada 1989, dia terpilih sebagai salah satu dari tujuh orang Indonesia pertama dari PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang dipercaya menimba ilmu satelit di Hughes Spaceand Communication Inc di California. I

ni adalah salah satu perusahaan satelit ternama di dunia. Di situlah petualangan Meiditomo dimulai. Di perusahaan yang kini sudah menjadi bagian dari Boeing Space System (BSS) tersebut, Meiditomo belajar mendesain satelit, mengintegrasikan sistem, melakukantesdidarat, peluncuransatelit dengan roket, melakukan tes ketika satelit sudah berada di orbit, hingga hand over atau penyerahan satelit ke konsumen.

Tidak mengherankan kalau sejak 1989 hingga 2015 sudah banyak satelit yang ikut dikawalnya di antaranya Aussat B1, Aussat B2, Astra 1C, Astra 1D, Inmarsat III, Galaxy III, Galaxy V, Galaxy VI , Palapa C1, Palapa C2, Garuda 1, S2M- 1, Arabsat, ABS-1, ABS-2, ABS- 3, ABS-7, ABS-4, ABS-6, dan BRIsat.

Dia juga memiliki pengalaman dalam spectrum management di sidang internasional di antaranya sebagai chairman and head of delegation dalam operator review meeting untuk L-Band yg diadakan sejak 2003 hingga 2009 serta sebagai member of delegation dalam sidang yang diadakan oleh Asia Pacific Telecomunity maupun ITU. Anggota lain tim ini adalah Sahala Silalahi, advisor BRIsat. Dia menyelesaikan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1972.

Pria yangmulai bergabung untukBRIsat pada 2014itupernahbekerjadi Iridium South Pacific di Melbourne Australia sebagai Vice President Gateway Technical Office pada 1997-1998. Diaspora lainnya yang masuk Tim BRIsat adalah Eko Cahyono. Lahir pada 27 Februari 1964, Eko menyelesaikan studi strata 1 dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Bandung. Dia berpengalaman lebih dari 20 tahun di industri Aerospace , yang meliputi bidang Satellite Subsystem Design, Integration & Test, Operation and Satellite procurement .

Selama kariernya, Eko telah terlibat dalam rancang bangun satelit Palapa B4, Panamsat K1, GalaxyG4, GalaxyG1R, Astra 1C, Astra 1D, dan USDBS. Dia pun terlibat dalam pengendalian satelit Garuda, Inmarsat F1/F2, ABS1A dan ABS1. Saat ini Eko menjadi PMO untuk pengadaan satelit ABS2A dan ABS3A di Boeing, El Segundo. Di tim ini bergabung pula Omar Isnawan yang merupakan konsultan satelit (payload dan comm) BRIsat.

Pria kelahiran April 1967 ini menyelesaikan studi strata 1 dari Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1990 dan Master Of Electrical Engineering dari University of Southern California, Los Angeles, USA. Saat ini Omar menjabat sebagai director of satellite engineering, Asia Broadcast Satellite. Dia sudah lebih dari enam tahun bekerja sebagai receiver design, satellite test engineer, dan system engineer di pabrik pembuatan satelit, Hughes Space & Communication, El Segundo, California, USA.

Omar kemudian hijrahuntuk bekerja di operator mobile satellite. Pada 2011 dia mulai bergabung dengan Asia Broadcast Satellite yang merupakan salah satu operator satelit global dengan kantor pusat di Hong Kong. Ahli lainnya adalah Muhardi yang juga konsultan BRIsat. Muhardi mendapatkan Bachelor degree of Aerospace Engineering dari Institut Teknologi Bandung (1998) dan MSc. dalam Satellite Communication Engineering dari University of Surrey, UK (2011).

Dia memiliki pengalaman 11 tahun lebih bekerja di industri satelit, dan saat ini menjadi senior engineer di Asia Broadcast Satellite. Anggota lain dalam tim ini adalah Argabudhy Sasrawiguna. Dia merupakan Implementation Project Leader BRIsat. Pria kelahiran 1970 ini menyelesaikan studi strata 1 dari Fakultas Teknik Komputer dar i Universitas Gunadarma, Jakar t a, pada 1995 dan Magister Teknologi Informasi dari Universitas Indonesia.

Saat ini menjabat sebagai EVP Electronic Channel Operation. Argabudhy menjalani lebih dari 20 tahun karirnya di perbankan di bidang information dan teknologi BRI sebelum beralih sebagai electronic channel.

Hermansah