Edisi 12-01-2017
6 Penyelundup Narkoba Dijatuhi Hukuman Mati


CIREBON - Pengadilan Negeri (PN) Kota Cirebon menjatuhkan vonis mati kepada enam pelaku perdagangan gelap narkoba yang ditangkap di Cirebon, Maret 2016 lalu.

Jaringan ini menyelundupkan sabu-sabu 106 kg dan 180.000 butir pil ekstasi dari Malaysia. ”Tak ada hal yang meringankan para terdakwa,” kata Ketua Majelis Hakim Muchlis Muchlis dalam amar putusannya yang dibacakan kemarin.

Enam orang yang dihukum mati adalah Ricky Gunawan, 34, Jusman, 52, Karun alias Ahong, 40, Yanto alias Abeng, 50, Sugianto alias Acay, 29, dan M Rizki, 30. Mereka terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35/2009. Majelis juga menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun pada seorang pelaku bernama Fajar Priyo Susilo yang dianggap tidak berperan banyak dalam jaringan ini.

Selain itu dua terdakwa lain, yaitu Hendri Unan, 28, dan Gunawan Aminah, 60, dijatuhi hukuman 8 tahun karena melanggar Pasal 3 jo Pasal 10 UU Nomor 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Jaringan itu dikendalikan Ricky Gunawan, Karun, dan Yanto yang saat terungkapnya kasus ini tengah menjalani hukuman di LP Narkotika Jakarta dan LP Tanjung Gusta, Medan. Penyelundupan ini setidaknya melibatkan tiga jaringan internasional, seperti Iran, Belanda, dan Cina, melalui Malaysia sebagai jalan masuknya.

Hal memberatkan lain, menurut majelis hakim, keenamnya tak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika dan obat-obatan terlarang, barang yang mereka edarkan meresahkan masyarakat dan merusak genarasi muda. Keenam pelaku juga telah menerima upah atas perbuatan yang mereka lakukan.

Selain pengedar narkoba, masih pada kasus yang sama, dibacakan pula vonis bagi dua terdakwa dalam jaringan internasional tersebut yang dijerat pasal pencucian uang. Keduanya, yaitu Hendri Unan, 28, dan Gunawan Aminah, 60, dijatuhi hukuman penjara 8 tahun dan denda Rp1 miliar. Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kota Cirebon Asep Sunarsa menyatakan, pihak jaksa akan pikir-pikir atas semua vonis yang dijatuhkan.

”Baik vonis yang dijatuhkan bagi pengedar narkoba maupun bagi dua terdakwa pencucian uang,” katanya. Sementara itu kuasa hukum terdakwa, Budi Sampurno, juga menyatakan akan pikir-pikir atas putusan majelis hakim.

Namun dia mengaku secara pribadi berkeberatan dengan vonis yang dijatuhkan majelis hakim. ”Majelis hakim tak mempertimbangkan adanya peran orang lain dalam kasus ini, masih ada orang lain yang sampai sekarang masih DPO,” ungkapnya seusai persidangan.

erika lia