Edisi 05-06-2016
Bakti Diaspora bagi Bangsa


Setelah tiga kali kongres yang digelar sejak 2012 kini saatnya diaspora Indonesia kian memantapkan konsolidasi sambil menggencarkan peran mereka dalam berbagai agenda akselerasi pembangunan dan perekonomian. Perlu dukungan penuh dari pemerintah.

Jumlah diaspora Indonesia yang mencapai 7-8 juta jiwa merupakan nomor tiga terbesar di dunia. Sayangnya, Indonesia relatif tertinggal dalam memahami dan memaksimalkan keberadaan diaspora dibandingkan dengan negara lain.

Di China, India, bahkan Vietnam potensi diaspora dikembangkan sejak 1995. Namun, Indonesia baru memulai proses konsolidasi diaspora pada 2012. Padahal, jaringan diaspora di luar negeri berpotensi besar untuk berkontribusi bagi negara, jika dikelola dengan baik. Ketua Dewan Diaspora Indonesia Dino Patti Djalal menjelaskan, Indonesia memiliki banyak sekali tenaga-tenaga ahli dari berbagai bidang yang berada di luar negeri.

Kebanyakan diaspora Indonesia merupakan kelas menengah ke bawah meski banyak pula anak negeri yang menjadi orang sukses di mancanegara. Mereka terdiri atas tenaga profesional seperti dokter, pengacara, seniman, dan lain sebagainya. ”Potensi-potensi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendukung pertumbuhan pembangunan dalam negeri,” katanya Dia menambahkan, saat ini perkembangan diaspora terus sangat aktif dan positif. Mereka juga berharap bisa terus bersinergi dengan Pemerintah Indonesia dalam mendukung pertumbuhan pembangunan dalam negeri.

”Saat ini para diaspora masih menunggu visa 10 tahun. Sekarang masih menggunakan visa lima tahun, meskipun idealnya seumur hidup,” ujarnya. Menurut Dino, meski masih menunggu pemerintah memberikan kartu diaspora, mereka sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memiliki kantor yang mengurusi diaspora. ”Nama lembaganya memang belum ada. Akan tetapi, sudah ada staf ahli yang mengurus tentang diaspora ini,” kata Dino.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini mengakui kontribusi diaspora sangat nyata bagi Indonesia. Dia mencontohkan, kontribusi remitansi atau pengiriman uang dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Indonesia sudah sampai USD8 miliar. Belum lagi dalam bentuk lainnya seperti investasi, perdagangan, beasiswa, filantropi, dan teknologi yang dilakukan oleh diaspora Indonesia. ”Saat ini Indonesia Diaspora Network (IDN) sedang menjembatani itu semua sekaligus mendata kontribusi diaspora tersebut karena selama ini belum terkonsolidasikan dengan baik,” ujarnya.

Dino mengatakan, salah satu yang menjadi kebanggaan adalah banyaknya inovator Indonesia yang bekerja di Silicon valley, Amerika Serikat. Hal ini seharusnya menjadi alasan bagi Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang memberi insentif bagi diaspora. ”Cukup banyak kontribusi diaspora terutama untuk daerah dalam berbagai bidang seperti kesehatan, pembangunan tata kota, perpustakaan, dan lainnya. Harus dipikirkan insentif untuk mereka,” papar Dino.

Diaspora Indonesia, lanjut Dino, tersebar di 35 negara, Malaysia merupakan wilayah yang paling besar bermukimnya diaspora. Selain itu ada juga di Singapura, Taiwan, Australia, Afrika Selatan, Belanda, dan negara-negara lainnya. ”Di Taiwan itu besar juga makanya ada yang bilang kalau orang Indonesia pergi dari Taiwan maka ekonomi negara tersebut bisa runtuh. Hal tersebut karena besarnya kontribusi orang Indonesia di negara tersebut,” katanya.

Salah satu pendiri Yayasan Diaspora Indonesia Nuning Hallet menegaskan, Indonesia mengalami keterlambatan dalam mengenali potensi diaspora yang baru digagas pada tahun 2012 dan resmi menjadi yayasan Diaspora semenjak 2013. ”Setidaknya jumlah seluruhnya ada sekitar 8 jutaan diaspora Indonesia, baik yang WNI maupun yang sudah menjadi WNA,” paparnya. Nuning, yang pernah menjadi Executive Director Indonesia Diaspora Network (IDN) pertama menjelaskan, saat awal IDN pertama kali terbentuk yang pertama dilakukan adalah membangun data-data mengenai diaspora.

”Yang pertama kali dibangun oleh saya saat itu adalah database, segala sesuatu mengenai diaspora, dan juga mendata kontribusi diaspora dalam membantu membangun daerah-daerah di Indonesia,” katanya. Menurut Nuning, beberapa pemerintah daerah yang bersinergi dengan diaspora adalah Bandung dan Jakarta. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, yang telah mengetahui potensi dari diaspora, menggandeng para ahli tata kota, salah satunya Daliana Suryawinata.

Daliana adalah arsitek cemerlang di salah satu biro arsitektur terkemuka di Belanda. Dia juga sempat mengajar di Delft University of Technology. Pada 2009, dia dan suami yang juga arsitek melakukan penelitian berikut solusi arsitektural terjadap beberapa isu perkotaan di Jakarta. Saat itulah dia bertemu dengan Ridwan Kamil.

Mereka bersama-sama terlibat mengerjakan sejumlah proyek arsitektur di Indonesia yang berwawasan lingkungan dan sosial. Setelah Ridwan Kamil menjadi wali kota Bandung, Daliana diminta untuk mendesain beberapa taman. Dia juga merancang microlibrary yang telah diimplementasi di Taman Bima dan Taman Lansia. Sementara itu, di Jakarta, Daliana dan suami juga aktif dalam program rumah sesun tematik nelayan Muara Angke sejak 2013.

”Kami menggandeng Indonesian Diaspora Network, taskforce liveable cities untuk terjun ke penduduk nelayan dan menjadikan desain yang ada berbasis komunitas, sesuai dengan kebutuhan warga,” kata Daliana, penerima The Indonesian Diaspora Award for Innovation 2012 dan Archinesia Award for Architecture Exhibitions 2012. Sementara itu di DKI Jakarta salah satu diaspora yang aktif berkontribusi adalah Pauline Boediarto.

Pauline pulang ke Indonesia karena tergerak menangani negosiasi dan pengembangan rumah susun di perkampungan nelayan di pesisir Jakarta. Dia memang berpengalaman menangani konflik kampung kumuh di Afrika, Amerika Latin, dan lainnya. Atas permintaan sejumlah kerabat, Pauline pulang ke Indonesia setelah 26 tahun tinggal di Belanda untuk menjadi relawan. Pertaruhannya nyawa karena tensi konflik di sana sedang tinggi. ”Tidak ada yang menugaskan, tidak ada yang membayar. Bekal saya hanya restu suami dan anak,” ujar jebolan Delft University of Technology, Belanda, dengan spesialisasi pemulihan kampung kumuh dan pedalaman ini.

Pendekatan Pauline ternyata lebih diterima oleh warga. Akhirnya terciptalah Integrasi Kampung Anugerah Nelayan, Muara Angke Sejahtera (Ikan Mas). Ini merupakan hasil kerja sama Pemprov DKI dan komunitas diaspora di Belanda. Desain rusun tematik Muara Angke cukup unik, memiliki banyak ruang terbuka. Lantai dasarnya untuk taman bermain, fasilitas umum, aquaponik, dan lainnya.

Selain itu, ada pula Fify Manan dan suaminya, Robert Manan, mereka memiliki pabrik furnitur di Indonesia untuk perkantoran dan pasar di Amerika Serikat. Sejumlah institusi di AS yang menggunakan produk furnitur kelas atas mereka adalah White House dan Pentagon. Robert dan Fify juga getol mempromosikan aneka kuliner Indonesia di AS lewat ajang Luvinary.

Nuning berharap potensi-potensi seperti itu seharusnya dilirik oleh Pemerintah Indonesia dan memberikan ruangan yang lebih kepada diaspora. Karena itu, perlu dilakukan sinergi antara pemerintah dan diaspora dalam mendukung pembangunan nasional.

Robi ardianto