Edisi 12-01-2017
8 WNI Yang Dideportasi Dari Malaysia Tak Terkait Terorisme


JAKARTA – Delapan warga negara Indonesia (WNI) dideportasi Malaysia melalui Batam, Selasa (10/1).

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) menegaskan deportasi tersebut tidak terkait dengan terorisme. Kemlu membenarkan adanya 8 WNI yang dideportasi Malaysia karena negara itu menduga para WNI tersebut diduga bagian dari ISIS. ”Hasil verifikasi kami menyebutkan bahwa 8 WNI tersebut adalah santri Pondok Pesantren Darul Hadits, Bukit Tinggi, Sumbar (Sumatera Barat).

Mereka berangkat ke Malaysia pada tanggal 3 Januari,” kata Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu Lalu Muhammad Iqbal di Jakarta kemarin. Para WNI itu, Iqbal melanjutkan, tinggal di Kuala Lumpur selama 3 hari dengan tujuan melakukan pengobatan salah seorang anggota mereka dan tinggal semalam di Perlis.

”Pada tanggal 7 Januari mereka menuju Pattani untuk belajar mengenai sistem pendidikan di lembaga pendidikan agama Islam di Pattani,” imbuh Lalu. Iqbal menuturkan, pada tanggal 9 Januari mereka memasuki Singapura melalui Johor. Mereka berencana menginap sehari di Singapura. Namun setibanya di Singapura, pihak imigrasi mengenakan status not to land (NTL) kepada mereka.

Alasan utamanya adalah karena ditemukan gambar di ponsel mereka yang terkait dengan ISIS. Kedelapan orang itu kemudian dideportasi oleh Pemerintah Singapura ke Malaysia. Di Malaysia para WNI tersebut ditangani E8 IPK Kepolisian Malaysia atau Unit Anti-Teror Malaysia dan pada tanggal 10 Januari, unit itu melakukan pendalaman kepada 8 WNI tersebut.

”Dari pendalaman itu, sementara ini E8 IPK menyimpulkan, pertama, mereka mengamalkan ajaran ahlussu n nah wal jamaah dan tidak mendukung ISIS; kedua, gambargambar tersebut diterima secara tidak sengaja melalui medsos,” paparnya. Sementara itu Pondok Pesantren Darul Hadits di Kabupaten Agam, Sumbar, membantah adanya keterkaitan dengan organisasi teroris ISIS menyusul dideportasinya 6 guru dan 2 santri mereka.

Salah seorang guru di Pondok Pesantren Darul Hadits, Abu Abdil Halim, menegaskan pesantrennya hanya mengajari santri menghafal Alquran. Dia menerangkan delapan orang itu berangkat ke Singapura untuk keperluan pengobatan salah seorang guru berinisial REH, 36.

sindonews /ant