Edisi 05-06-2016
BRIsat Satukan Ahli Satelit Terbaik Indonesia


JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) “memanggil” sejumlahdiaspora Indonesiaandaluntuk mendukung proyek peluncuran BRIsat.

Dukungan diaspora Tanah Air terhadap peluncuran satelit milik Bank BRI ini semakinmengukuhkanbahwaproyekini adalah kebanggaan Indonesia. Selain manfaat BRIsat, dukungan diaspora terhadap satelit milik Bank BRI ini menunjukkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia memang berkualitas. Sejumlah diaspora tertarik bergabung dengan proyek BRIsat ini karena manfaatnya akan sangat dirasakan rakyat Indonesia, terutama dibidangpengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hingga ke pelosok Tanah Air.

Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso mengatakan, dalam menentukan tim satelit pihaknya lebih mengedepankan kalangan internal Bank BRI. Jika ternyata tidak tersedia, barulah mencari dari luar Bank BRI, khususnya warga Indonesia yang memiliki keahlian di bidang satelit. Ternyata, jumlahnya banyak dan kualitasnya pun tidak kalah dari ahli satelit negara lain.

Setelah mendapatkan rekomendasi dari sejumlah pihak serta melakukan seleksi, barulah Bank BRI menghubungi sejumlah ahli satelit tersebut dan mendapat respons sangat positif. Di antara para diaspora Indonesia itu adalah Meiditomo Sutyarjoko yang memiliki pengalaman di berbagai proyek satelit sejak 1989 sampai dengan 2015 seperti Aussat B1, Aussat B2, Astra 1C, Astra 1D, Inmarsat III, Galaxy III, Galaxy V, Galaxy VI, PalapaC1, PalapaC2, Garuda 1, S2M-1, Arabsat, ABS-1, ABS-2, ABS-3, ABS-7, ABS-4, dan ABS-6.

Juga ada Eko Cahyono. Selama kariernya Eko telah terlibat dalam rancang bangun satelit Palapa B4, Panamsat K1, Galaxy G4, Galaxy G1R, Astra 1C, Astra 1D, dan USDBS. Kemudian dia terlibat dalam pengendalian satelit Garuda, Inmarsat F1/F2, ABS1A dan ABS1. “Mereka gabung ke kita bukan hanya di awal proyek, tetapi juga dalam operasional satelit,” ucap Hari beberapa waktu lalu. Rencananya, sebulan setelah peluncuran BRIsat ke orbitnya oleh perusahaan asal Prancis Arianespace, akan ada proses penyerahan pengoperasian satelit ke Indonesia.

Terkait dengan itu, Bank BRI telah membangun primary satellite control facility di Ragunan, Jakarta Selatan serta membangun back up satellite control facility di Tabanan, Bali. Menggunakan tenaga ahli dari negara sendiri dalam mengembangkan BRIsat merupakan sebuah komitmen Bank BRI. Bahkan operasional satellite control facility nantinya akan dilakukan SDM dari Bank BRI sendiri.

Untuk itu, staf-staf Bank BRI yang ditunjuk untuk mengoperasikan satellite control facility tersebut sedang menjalani program internship atau pelatihan operasional satelit di pabrik SSL Palo Alto, California. Perekrutan anggota tim yang berasal dari para ilmuwan diaspora sangat diperlukan untuk membantu kelancaran program ini.

“Tentunya kita mencari orang yang ahli sehingga pada pengambilalihan tidak ada stagnasi. Semua pengendalian bisa dilaksanakan apabila ada orang yang ahli, di antaranya dari diaspora yang banyak pengalaman dari negara-negara maju di sana. Mereka harus berpengalaman dengan satelit. Bukan hanya tahunan, tetapi belasan tahun,” papar Hari.

Dia menegaskan, pemilihan anggota tim satelit dari diaspora bukan semata atas dasar persoalan gaji. Sebab, menurutnya, salah satu tujuan peluncuran BRIsat adalah meningkatkan kualitas layananperseroansehinggatidak mungkin merekrut SDM yang tidak berkompeten dengan alasan untuk menekan biaya gaji. Selain itu, Bank BRI sangat yakin atas kemampuan SDM Indonesia. Jikatidak, mustahilmereka bisa mendapatkan kepercayaan dari perusahaan tempat bekerja sebelumnya untuk memegang tanggung jawab serupa.

Padahal di luar negeri tenaga ahli bidang satelit sangatlah banyak. “Hanya sumber daya manusia terbaiklah yang kami ajak bergabung untuk menanganiBRIsat,” ucapdia. Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam mengatakan, satelit jaringan komunikasi ini merupakansalahsatuinovasiBRI untuk memberikan layanan jasa perbankan kepada seluruh masyarakat Indonesia hingga ke seluruh penjuru Tanah Air untuk mewujudkan financialinclusion.

Satelit yang memiliki 45 transporder ini nantinya sebagian dialokasikan khusus bagi kepentingan bangsa dan negara. “Selain itu, dikarenakan BRIsat dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh Bank BRI yang merupakan BUMN entitas Indonesia, pemerintah akan memiliki sarana komunikasi yang lebih aman, terhindar dari penyadapan karena kontrol saluran komunikasi dan enkripsi sepenuhnya berada di tanganIndonesia” paparAsmawi.

Asmawi menyatakan sebanyak 53 ahli satelit yang merupakan putra putri Indonesia dilibatkan dalam proyek peluncuran BRIsat ini. Menurutnya Bank BRI tidak ingin tergantung dengan negara lain dalam mengoperasikan satelit. “Kita sebenarnya sudah siapkan engineer yangkitamilikisaat inidi Ragunan. Ini bagian dari 800 engineer Bank BRI yang khusus urusin IT dikantorpusatdankantor cabang,” ujarnya di Jakarta.

Asmawi menuturkan, sempat tidak ada bayangan sebuah bank bisa mendesain sendiri jaringan teknologi yang dibuat. Namun ternyata Bank BRI bisa. Untuk menunjang layanan perseroan, beberapa hal menggunakan jasa konsultan dari luar perusahaan.”Dulu kita tidak bayangin bank desain sendiriteknologi, bangunjaringan, 800 orang mereka dedikasikan untuk itu. Jadi teknologi yang kita bangun itu inhouse meski beberapa poin butuh konsultan. Tapi pada akhirnya dikerjakan tenaga engineer Bank BRI,” katanya.

Project Manager BRIsat Hexana Tri Sasongko menjelaskan, sebagian dari diaspora yang digandeng BankBRI untuk mengawal BRIsat merupakan alumni PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Setelah salah satu divisi di IPTN dibubarkan, sejumlah pegawainya yang telah disekolahkan ke luar negeri memilih bekerja di sejumlah perusahaan dalam dan luar negeri. Di negara lain, mereka memperoleh pengalaman dan pengetahuan, di antaranya mengenai satelit. Perekrutan calon penggawa BRIsat dimulai pada 2012.

Pada awalnya pihaknya kebingungan menutupikekuranganSDM mengenai satelit. Kalaupun ada, sebagian telah memasuki usia pensiun. TapiakhirnyaBank BRI mendapat informasi berharga mengenai keberadaan sejumlah ahli satelit Indonesia yang bekerja di sejumlah perusahaan terkait dengan satelit di dunia. “Anggota tim yang dipilih merupakan terbaik. Apalagi ini proyek besar, menantang, dan ambisius,” ucap Hexana.

Setelah mengorbit, menurut Hexana, perluwaktuuntukmengintegrasikan seluruh jaringan Bank BRI di seluruh Indonesia. Hexana menjelaskan, Bank BRI menggandengperusahaanasalAS, Space System Loral LLC (SSL), untuk membangun satelit dan perusahaan peluncur roket asal Prancis, Arianespace. Ketua Dewan Diaspora Indonesia Dino Patti Djalal menjelaskan Indonesia memiliki banyak sekali inovator yang bekerja di Silicon Valley, California, AS.

Hal tersebut seharusnya menjadi alasan bagi Indonesia agar menghasilkan kebijakankebijakanyangbisamemberikan ruang lebih bagi diaspora Indonesia. Selain itu kontribusi diaspora, terutama untuk daerahdaerah, juga banyak dilakukan diaspora seperti dalam bidang kesehatan, pembangunan tata kota.

Dengan adanya kerja sama antara Bank BRI dan beberapa diaspora dalam membangun satelit, itu menjadi satu bukti bahwa diaspora Indonesia memiliki peranan yang besar dalam membantu pembangunan dalam negeri. “Saya menyambut dengan baik adanya kerja sama antara Bank BRI dan diaspora dengan meluncurkan BRIsat,” kata Dino.

Pendiri Yayasan Diaspora Indonesia Nuning Hallet menjelaskan remitansi atau transfer uangdari tenagakerjaIndonesia ke dalam negeri mencapai USD8 miliar. Dari jumlahitusekitar20% hilang untuk biaya pengiriman kepada bank-bank asing. Diluncurkannya BRIsat, lanjut dia, diharapkan bisa lebih mengoptimalkan penggunaannya.

Hermansah/ robi ardianto