Edisi 05-06-2016
Griya Etnik-Antik


Rumah itu jodoh-jodohan. Ungkapan ini dirasakan betul oleh pengamat musik Bens Leo. Saat akan membeli rumah yang kini dia tempati, salah satu peminat lain griya ini adalah artis Sophia Latjuba. Beruntung, Bens lebih “berjodoh” dengan hunian nuansa etnik-antik ini.

Pada saat itu, bisa dikatakan Sophia lebih berpeluang mendapatkan rumah tersebut karena memiliki uang tunai lebih banyak. Namun, tiba-tiba pemilik rumah menghubungi serta menawarkan rumahnya kepada Bens. ”Akhirnya saya bayarkan uang yang saya miliki, sementara sisanya dicicil selama enam bulan. Jadi, rumah itu memang jodoh-jodohan.

Saya tidak menyangka bisa mendapatkan rumah ini,” cerita pemilik nama asli Benny Hadi Utomo ini saat dijumpai KORAN SINDO di kediamannya, kawasan Cirendeu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Setelah 1,5 tahun mendiami griya ini, Bens membeli lagi lahan seluas 180 meter persegi (m2) di belakang rumahnya sehingga luas keseluruhan lahan menjadi 400 m2. Jika dilihat dari depan, griya dengan fasad bernuansa cokelat ini tampak tidak besar. Hal itu dikarenakan kontur tanah yang berbukit.

Taman belakang rumah ini pun berada di lantai dua. Kontur menanjak sudah terlihat dari bagian eksterior. Mulai dari pagar, taman depan, hingga pintu utama tampak berundak-undak. Di teras terdapat tiga poster yang menghiasi dinding. Dua di antaranya poster seorang wanita sedang meniup saksofon dan poster tuts piano. Sudut rumah ini seolah-olah menjelaskan bahwa si empunya rumah memiliki ketertarikan besar terhadap musik. Ya, sebelum dikenal luas sebagai pengamat musik seperti sekarang, Bens sudah bergelut di bidang musik sebagai jurnalis sejak 1971.

Interior dan furnitur griya ini bernuansa etnik-antik. Tengoklah hiasan yang menempel di dinding, pajangan, serta mebel dalam rumah ini. Ada lemari Jawa kembar dari Madura, daun pintu utama asal Solo, dan dipan kayu berukir. Semuanya terbuat dari kayu jati. ”Saya suka barang antik dan jati,” ungkap pria kelahiran Pasuruan, 8 Agustus 1952 ini. Bens juga suka mengumpulkan berbagai suvenir khas dari sejumlah negara yang pernah dia kunjungi.

Di ruang televisi lantai satu terdapat satu lemari kaca yang berisi suvenir yang berasal dari 21 negara, antara lain China, Rusia, Irlandia, Inggris, Austria, dan Mesir. Hasil perburuan Bens yang terbaru, dari Mesir. Di Mesir, dia mendapatkan pajangan berbentuk sphinx yang dibeli seharga Rp50.000.

”Saya membelinya pakai rupiah karena si penjual sangat suka Indonesia. Dia hanya mau dibayar pakai rupiah, makanya dikasih harga murah, he he he,” cerita Bens, seraya tertawa. Bukan hanya sphinx , hampir seluruh barang di hunian Bens memiliki kisah tersendiri. Dengan fasih Bens menceritakan kisah di balik hasil buruannya tersebut.

Menurut Bens, benda antik paling berkesan adalah satu set furnitur berupa dipan kayu jati berukir, cermin antik Jawa, dan meja berukir. Dia membeli dari orang yang mau pindah ke luar negeri. Uniknya, dipan kayu yang biasa digunakan untuk tiduran dan leha-leha justru dijadikan Bens sebagai tempat meletakkan beragam syal klub sepak bola kesayangan dan pajangan lain. Sudut rumah yang dipenuhi barang antik dan etnik menjadi spot favorit Bens.

Menyusuri anak tangga menuju lantai dua, di dinding kiri terpajang sederet foto Bens bersama Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara di dinding bagian kiri tertempel pemberitaan mengenai Bens dari berbagai media. Di lantai dua, unsur antik dan etnik masih terasa. Hal itu terlihat dari lampu antik Jawa yang menggantung serta lukisan-lukisan yang terpaku di dinding. Di lantai ini terdapat ruang keluarga, kamar anak, dan dua kamar tamu. Taman belakang berada di lantai dua juga. Sementara kamar utama berada di lantai tiga.

”Ada tiga lantai karena menyesuaikan dengan kontur tanahnya yang naik,” ucap ayah Addo Gustaf Putra ini. Bens mendeskripsikan huniannya sebagai modifikasi rumah etnik dan modern. Bens mengatakan, awalnya rumah ini bergaya modern, namun dia modifikasi menyesuaikan dengan furnitur yang dimilikinya, yaitu etnik. ”Saya modifikasi yang kira-kira bisa dimodifikasi dari rumah lama,” ujar pria yang pernah dianugerahi penghargaan atas dedikasi dan pengabdian dalam bidang kritik musik pada 2013 oleh menteri pendidikan dan kebudayaan.

Bens menambahkan, istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan huniannya adalah home sweet home . Hal ini karena rumah memiliki aura yang berbeda sehingga begitu pulang rasanya enak sekali. Terlebih, griya ini dia beli dan bangun dengan kemampuan sendiri. Dia berjuang hingga akhirnya bisa membangun rumah yang sesuai seleranya.

”Rumah merupakan tempat mencari inspirasi dan memberi ruang bagi keluarga agar lebih nyaman,” pungkas suami Paulina Endang ini.

Robi ardianto