Edisi 12-01-2017
Badan Karantina KKP Selamatkan Rp306,8 M


JAKARTA - Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sepanjang 2016 menyelamatkan sumber daya ikan Indonesia senilai Rp306,8 miliar atau naik 825% dari tahun sebelumnya yang senilai Rp37,2 miliar.

Sepanjang tahun lalu BKIPM berhasil melakukan pencegahan pengiriman hasil perikanan ilegal, baik ekspor, impor, maupun antar-area. Sumber daya ikan tersebut terdiri atas benih lobster, kepiting/ lobster/rajungan bertelur; kepiting dan lobster berukuran kurang dari 200 gram, mutiara, koral, produk hasil perikanan, dan hasil perikanan lainnya seperti kuda laut, penyu, kurakura, sirip hiu, ketam tapak kuda, dan ikan hias.

“Modus dari penyelundupan biasanya karena ada disparitas harga dan pasar yang menjadi pemicu. Tapi, kami tetap berusaha untuk menjaga,” ujar Kepala BKIPM Rina di Jakarta kemarin. Meningkatnya pemeriksaan terhadap hasil perikanan yang diekspor-impor atau antar- daerah juga telah menggenjot nilai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada 2016 sebesar 369% atau sekitar Rp51,75 miliar dari target Rp13,04 miliar.

Peningkatan tersebut juga ditunjang oleh adanya integrasi sistem sertifikasi mutu dan karantina ikan. “Tahun ini kita harapkan ada peningkatan PNBP sekitar 10%,” sebut Rina. Secara total pemerintah menargetkan, PNBP dari sumber daya alam kelautan dan perikanan tahun ini sebesar Rp950 miliar. Angka tersebut naik hampir tiga kali lipat dari PNBP kelautan dan perikanan tahun 2016 yang diproyeksikan mencapai Rp360,7 miliar.

Kepala Pusat Sertifikasi Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan BKIPM Widodo Sumiyanto mengungkapkan, pada 2016 Indonesia menempati posisi 21 dalam ranking kasus penolakan produk perikanan oleh Uni Eropa, dengan jumlah hanya tujuh kasus. Kasus terbanyak dipegang Spanyol sebanyak 115 kasus, disusul Vietnam dengan 38 kasus. “Dari tahun ke tahun kita melakukan reduksi. Dalam beberapa tahun terakhir kita tidak pernah tembus di angka 10 kasus. Kita jaga dengan sangat ketat,” ujarnya.

inda susanti