Edisi 12-01-2017
Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,3%


JAKARTA – Bank Dunia memangkas proyeksi laju pertumbuhan ekonomi global 2017 sebesar 0,1% menjadi 2,7%.

Meskipun begitu, lembaga itu mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3% tahun ini. Dalam laporan yang dirilis pada awal bulan ini, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini lebih baik dibandingkan tahun 2016 lalu yang diprediksi tumbuh 2,3%.

Namun, Bank Dunia menyebut, proyeksi tersebut masih diliputi oleh ketidakpastian arah kebijakan negara-negara besar. ”Setelah sekian tahun pertumbuhan global mengecewakan, kami menjadi semangat melihat proyeksi ekonomi yang lebih kuat. Sekarang waktunya memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan investasi pada infrastruktur dan manusia,” kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim kemarin.

Kim menilai, investasi di kedua sektor itu penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Tapi, Kim menyoroti pertumbuhan investasi di negara- negara berkembang dan pasar yang sedang tumbuh melambat. Pada 2010 rata-rata investasi tumbuh 10% sementara tahun 2015, investasi turun menjadi 3,4% dan kembali turun 1,5% pada 2016.

Kepala Ekonom Bank Dunia Paul Romer menambahkan, pihaknya siap untuk membantu pemerintah negaranegara untuk mendorong agar swasta bisa mendukung infrastruktur konektivitas global. ”Tanpa jalan-jalan baru, sektor swasta tidak memiliki insentif untuk berinvestasi pada modal fisik bangunan baru. Tanpa ada ruang kerja baru yang terhubung dengan ruang hidup baru, miliaran orang yang bergabung ke ekonomi modern akan kehilangan peluang untuk berinvestasi pada modal manusia yang diperoleh dari pelatihan kerja,” kata dia.

Bank Dunia memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 mencapai 5,3% atau lebih baik dibandingkan pada tahun 2016 yang diprediksi tumbuh 5,3%. Selain itu, Bank Dunia juga memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5% pada 2018 dan 2019. Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar komoditas dinilai relatif kokoh dibanding negara-negara serupa lainnya seperti Brasil, Rusia, dan Turki.

Bank Dunia pun menyebut, ekonomi Indonesia akan lebih baik tahun ini berkat naiknya investasi swasta. Tapi Bank Dunia menilai, Pemerintah RI perlu tetap mendorong investasi infrastruktur. Pasalnya, selama ini buruknya infrastruktur membuat biaya logistik di Indonesia cukup tinggi, mencapai 17% dari biaya produksi. Selain itu, sekitar seperempat penduduk Indonesia juga masih hidup tanpa listrik.

Di bagian lain, Direktur World Bank Development Economics Prospects Ahyan Kose mengingatkan bahwa peran kebijakan negara maju, terutama AS, bisa membawa dampak global. Penguatan kebijakan fiskal disebut membawa dampak positif bagi AS dan negara lain dalam jangka pendek. Tapi, dia khawatir perubahan kebijakan perdagangan atau kebijakan lain bisa mengurangi manfaat tersebut.

Sementara, Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih akan menghadapi tantangan, terutama berkaitan kebijakan AS di bawah Presiden Donald Trump. Dia menyebut, kebijakan kepala negara yang baru akan dilantik tersebut bisa mendorong bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga acuan.

”Kenaikan suku bunga itu akan berakibat banyak ke perekonomian kita, terutama akan banyak capital outflow. Dolar AS akan pulang kampung,” kata dia. Yose juga menyebut, kondisi tersebut membuat peluang Indonesia memperoleh investasi asing, khususnya AS, semakin kecil. Pasalnya, kebijakan Trump yang diprediksi inwardlooking akan menyedot investasi ke negara tersebut. Dia pun mencontohkan, raksasa automotif asal AS, Ford, yang membatalkan investasi di Meksiko dan memilih membangun pabrik baru di negaranya sendiri.

Adapun, ekonom Senior CSIS Haryo Aswicahyono menyebut, investasi akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Dia mengingatkan agar upaya untuk mendorong industrialisasi tetap dilanjutkan meski hargaharga komoditas mulai membaik. Dia pun menilai, pemerintah harus memberikan berbagai insentif untuk menarik swasta, terutama bagi yang tertarik berinvestasi di sektor infrastruktur.

rahmat fiansyah