• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Perayaan Hari Raya Nyepi-Harmonisasi dengan Tawur Kesangi

Ritual Ngider Caru yang merupakan rangkaian Tawur Kesanga menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1935 yang dilakukan umat Hindu di Pura Agung Sriwijaya Palembang kemarin.

PALEMBANG – Prosesi ritual Tawur Kesangi atau pembayaran ke alam yang digelar di Pura Agung Sriwijaya Palembang, kemarin berlangsung hikmat. Ritual sehari sebelum Hari Raya Nyepi yang diikuti ratusan umat Hindu di Palembang ini bertujuan membangun harmonisasi umat dengan alam sekitar.

Salah satu rangkaian prosesi peringatan Tahun Baru Saka 1935 ini dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Dimulai dengan pembacaan doa-doa oleh Pandita Pendade Putra Jungutan, kemudian siraman air suci ke sesajian yang telah disiapkan, Tawur Kesangi ditutup dengan pemotongan hewan kurban secara simbolis.

Ketua Parisada Hindu Indonesia Sumsel I Made Gede Armana mengatakan, ritual doa merupakan ritual terakhir yang dilakukan umat di bulan ke-9 sebagai hari terakhir sebelum Tahun Baru Saka yang jatuh hari ini. Tawur Kesangi dilakukan sebagai bentuk pembayaran atas apa saja yang telah diambil oleh manusia dari alam.

Tujuannya tak lain sebagai komunikasi untuk menciptakan keseimbangan. Pasalnya sesuai kepercayaan mereka bukan hanya manusia yang hidup di dunia melainkan makhluk lain yang tak dapat dilihat.“ Ritual ini bertujuan membina hubungan baik antara manusia dengan alam, dengan hewan yang sudah sering diburu. Nah Caru (sesajian) itu adalah media untuk penetralnya dengan doa dan mantra yang dibacakan Pandita,” ujarnya di sela ritual kemarin.

Adanya ritual pembayaran ini, umat meyakini hubungan baik akan tercipta bagi semua pihak. Artinya siapapun yang sudah mengambil dari alam termasuk mengekploitasinya harus membayar dengan cara ikut melestarikan. “Bukan sebaliknya mengembalikan apa yang sudah diambil untuk kemudian mengambil lagi yang lebih besar dari alam. Sebagai penyempurna, ritual Tawur Kesanga ini semakin lengkap dengan ritual perayaan Nyepi,” jelas dia.

Mengenai tema Nyepi tahun ini, Parisada Hindu Pusat dan daerah sepakat mengusung “Persamaan Kita Bangun Kebersaman”. Maksudnya, lanjut dia, kata-kata itu bukan hanya sekedar tema tapi harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari. “Ini penting apalagi mengingat beberapa waktu kebelakang, Indonesia tengah diuji dengan berbagai persoalan termasuk gesekan, kericuhan yang tidak produktif,” kata dia.

Sementara itu untuk peringatan Nyepi besok (hari ini), umat Hindu diharapkan dapat melaksanakan Catur Brata dengan khusyuk. “Besok (hari ini) umat akan melakukan Nyepi. Mereka akan menunaikan 4 Catur Brata, yaknni Amati Geni (tidak menggunakan atau menghidupkan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Ini penting sebagai titik nol untuk melakukan intropeksi masing-masing pribadi selama setahun yang sudah dijalani untuk menjadikan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya.

Arak Patung Ogoh-Ogoh

Salah satu rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi adalah melakukan arak-arakan patung Ogoh-ogoh yang merupakan patung raksasa sebagai simbol raksasa jahat. Seperti yang dilakukan ratusan umat Hindu di Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

”Arak-arakan patung Ogohogoh adalah salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, setelah beberapa rangkaian Nyepi yang sudah dimulai sejak Sabtu (9/3),” ujar Sekdes Lubuk Seberuk Nyoman Mudita kemarin. komalasari/ m rohali

Popular content