• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

KEMITRAAN INDONESIA-JEPANG-Kebijakan IJ-EPA Dievaluasi

JAKARTA– Pemerintah akan mengevaluasi kembali Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA). Kerja sama tersebut dinilai belum bisa memberikan perbaikan signifikan terhadap perkembangan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Jepang.

Tingkat pertumbuhan rata-rata ekspor Indonesia dan impor dari Jepang mengalami penurunan dengan pertumbuhan laju ekspor yang lebih lambat dibanding impor. Sejak penandatanganan IJEPA pada 2008, dari sisi perdagangan nonmigas, terlihat pertumbuhan impor Indonesia mencapai 25% per tahun, sementara ekspor justru turun 6,6% per tahun.

“Kita belum puas dengan hasilnya,” tegas Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana dalam Seminar Review Implementasi IJEPA di Jakarta baru-baru ini. Kondisi ini terjadi karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang jadi dari Jepang dan sebaliknya mengekspor barang mentah ke Jepang. Karena itu, Agus mengatakan, pemerintah berencana meningkatkan produk yang memiliki nilai tambah untuk diekspor ke Jepang, tidak lagi hanya produk mentah untuk bahan baku.

Melalui perubahan itu diharapkan nilai ekspor bertambah dan menyeimbangkan neraca ekspor-impor dengan Jepang. Agus menyarankan agar memberikan fokus ke produk Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif di pasar Jepang, seperti pengolahan kayu, tekstil, garmen dan alas kaki sebagai upaya meningkatkan nilai ekspor.

Dia juga menyarankan untuk memperbaiki iklim usaha dan penurunan ekonomi biaya tinggi, serta perbaikan infrastruktur dan aturan perburuhan untuk memikat investor Jepang. ”Saat ini Jepang menyerap 20% dari produk ekspor Indonesia. Ekspor terbesar Tanah Air ke Negeri Sakura itu adalah gas alam yang nilainya mencapai 21,5% dari total ekspor ke negara tersebut,” kata dia.

Kemudian, disusul minyak bumi dan batu bara. Sementara, komoditas hasil industri, produk pengolahan karet tercatat memiliki pertumbuhan tertinggi sejak implementasi IJEPA yakni sebesar 182,76% atau senilai USD2,1 miliar. Namun untuk komoditas, nilai ekspor tertinggi dipegang oleh produk hasil pengolahan tembaga dan timah senilai USD2,73 miliar.

Dari sisi investasi, lanjut dia, pasca-IJ-EPA dan krisis global, investasi langsung Jepang ke Indonesia tercatat meningkat pesat dalam dua tahun terakhir setelah sebelumnya cenderung turun. Sebagian besar disebabkan oleh peningkatan sangat signifikan dari investasi Jepang di sektor manufaktur. Investasi langsung Jepang merupakan investasi langsung terbesar kedua setelah Singapura. Aliran investasi Jepang yang masuk ke Indonesia sebagian besar didominasi oleh sektor manufaktur.

Pada 2011, sektor industri pengolahan ini menguasai sekitar 92% total investasi langsung Jepang di Indonesia, atau 57% dari seluruh total investasi langsung asing yang masuk ke Indonesia. Investasi langsung Jepang ke sektor manufaktur naik dari rata-rata sebesar 12% pada periode 2006-2008 menjadi 136% pada periode 2009–2011.

Persentase investasi langsung Jepang yang berada pada sektor manufaktur terhadap total investasi langsung Jepang di Indonesia naik signifikan dari rata-rata 48,5% pada periode 2006-2008 menjadi 92,1% pada periode 2009-2011. Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan mengatakan, peranan Jepang dalam perdagangan Indonesia cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Dia menegaskan, pola ekspor Indonesia ke Jepang tidak mengalami perubahan sebelum atau pascapelaksanaan IJ-EPA. Mayoritas produk yang diekspor ke Jepang masih berupa bahan bakar mineral, bijih, kerak dan abu logam. ●akhmad nur huda

Popular content