• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Kemerdekaan Tak Bermakna Tanpa Aliran Listrik

Seorang pengendara tampak hati-hati melintasi jembatan berlubang menuju beberapa dusun di Desa Sijawi-jawi Seberang.

Suara jangkrik selalu menghiasi malam di Dusun Sei Patopis, Desa Sijawi-jawi Seberang, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu. Kondisi ini sangat kontras dengan daerah lain pada umumnya. Sebab, sejak Indonesia merdeka 68 tahun lalu, dusun yang dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi di Labuhanbatu belum juga disentuh aliran listrik dari PT PLN (Persero).

Akibatnya, warga tidak bisa menikmati penerangan, televisi, apalagi internet. Padahal, dengan adanya informasi yang didukung aliran listrik, warga tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pengetahuan. Hal ini khusus bagi para petani yang bisa memperoleh informasi harga maupun perkembangan hasil pertanian yang sedang tren untuk dapat dikembangkan di pesisir pantai paling ujung Kabupaten Labuhanbatu tersebut.

Bagi warga makna kemerdekaan cukup sederhana. Jika jaringan PLN sudah masuk ke dusun mereka, warga pun merasa merdeka secara hakiki meski masih banyak fasilitas umum lain yang tak kalah penting untuk melengkapi kemerdekaan itu. Begitulah yang terucap dari beberapa warga yang setiap hari bergelut di lahan pertanian bertadah hujan itu. Sebenarnya tak hanya listrik yang tidak ada di daerah itu, infrastruktur jalan juga sangat memprihatikan.

Kondisi ini lebih parah jika di musim hujan. Jalan-jalan sulit dilalui kendaraan, baik roda empat mapun roda dua. Untuk bisa masuk ke dusun itu warga lebih memilih menggunakan transportasi air ketimbang jalan darat yang sulit dilalui. Biasanya warga mengangkut sepeda motor dengan kapal boat. Sejumlah warga setempat, seperti Untung Nasution, 43, dan M Tanjung, 48, mengatakan, akibat minimnya fasilitas umum di daerah mereka, sudah banyak warga pindah ke desa lain.

Sulit untuk bertahan di desa itu karena mereka sudah pesimistis, pemerintah tidak akan memberikan perhatian. “Kalau aliran PLN pun masuk ke daerah ini, kami sudah merasa merdeka dan senang di sini. Tidak banyak permintaan kami. Tolong sampaikan kepada bupati, ini pesan kami,” kata M Tanjung.

Menurut dia, daerah mereka pantas diperhatikan pemerintah. Alasannya, sejak 1980- an, wilayah tersebut merupakan sentra produksi padi hingga saat ini. Namun seiring waktu, kini lahan masyarakat sudah beralih fungsi sekitar 60% dari total lahan yang digunakan untuk menanam padi. “Kalau pemerintah tidak memberikan perhatian, kami berkeyakinan dalam kurun waktu tiga tahun ini ,desa kami tidak lagi menjadi penghasil padi, melainkan kelapa sawit. Soalnya sudah banyak yang mengalihfungsikan lahan sawahnya,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Desa Sijawi-Jawi, Kecamatan Bilah Hilir, Yusuf Anwar, mengaku sudah berulang kali mengusulkan pemasangan jaringan listrik PLN di Dusun Patopis dan sudah ditindaklanjuti dengan pelaksanaan survei oleh petugas. Tapi, hingga hari ini belum ada realisasinya. “Barubaru ini ada perhitungan tiang listrik, tapi saya lihat hanya sebatas itu. Tidak tahu apa kendalanya. Memang tinggal Dusun Sei Patopis saja yang belum memiliki jaringan listrik,” ungkap Anwar.

Dia berharap perhatian pemerintah daerah agar mengalokasikan anggaran untuk perbaikan fasilitas umum, seperti infrastruktur jalan di daerah itu. Sebab, meski anggaran yang berasal dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sudah berulang kali diarahkan ke desa ini, ternyata dananya tidak mencukupi untuk kebutuhan memperbaiki jalan yang rusak. SARTANA NASUTION Labuhanbatu

Popular content