• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Angka Putus Sekolah Tinggi

BATURAJA– Warga di Kabupaten OKU yang berusia 15 tahun ke atas banyak putus sekolah. Mereka hanya tamat pendidikan sekolah dasar atau sederajat.

Dengan begitu, wajib belajar sembilan tahun belum tercapai di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Hal tersebut berdasarkan hasil survei 2011 Badan Pusat Statistik (BPS), dengan membandingkan data dua tahun sebelumnya. Kepala BPS OKU Aidil Adha mengungkapkan, tingkat pendidikan penduduk usia 15 tahun ke atas di OKU, tahun 2009-2010 sebagian besar berpendidikan SLTA/ sederajat, yaitu masing-masing 29,24% dan 26,90%.

Namun, pada 2011, jenjang pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk 15 tahun ke atas di daerah itu justru menurun atau hanya menjalani pendidikan selama 8,4 tahun (kelas VIII SMP). “Dari data yang kami miliki, pada tahun 2011 sekitar 28,31% penduduk 15 tahun ke atas hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat SD/sederajat dari jumlah penduduk sebesar 334.295 jiwa. Sedangkan, yang mampu sampai ke jenjang SLTP/ sederajat dan SLTA/sederajat, semakin menurun masingmasing 22,02% dan 23,48%,” ungkap Aidil. Menurut Aidil, banyak faktor yang menyebabkan penduduk OKU, tak menyelesaikan pendidikan sembilan tahun.

Di antaranya, budaya masyarakat itusendiriyang menilai tak pentingnya pendidikan. Begitu juga tidak meratanya tenaga guru. “Bisa jadi budaya masyarakat misalkan tamat SDlangsung nyadapkaret. Soal guru juga mempengaruhi, misalkan di daerah-daerah masih minim, sedangkan di kota menumpuk,” ucapnya. Kondisi itu terlihat dari partisipasi kasar (APK). Di mana, APK SD pada 2011 sebesar 106,46%, menujukan ada sekitar 6,46% anak yang berusia kurang dari 7 tahun dan lebih dari 12 tahun duduk di bangku SD. Sedangkan, APK SLTP sebesar 81,43%.

Ini menunjukkan bahwa jumlah murid SLTP yang ada baru sekitar 81,43% dari penduduk umur 13–15 tahun. Sedangkan, APK SLTA sebesar 79,82%. Berarti, jumlah murid SLTA yang baru sekitar 79,82% dari total penduduk umur 16–18 tahun. Dilihat dari angka partisipasi murni (APM) yang mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu sesuai kelompok umur. Ada sekitar 91,58% anak usia 7-12 tahun sekolah di tingkat SD. Kemudian, APM SLTP sebesar 62,23% penduduk usia 13-15 tahun di OKU, sekolah di jenjang SLTP.

Kemudian, APM SLTA menunjukkan sebanyak 58,62% anak usia 16–18 tahun di OKU, sekolah di jenjang SLTA. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) OKU H Mahyudin Helmi mengatakan, jika budaya masyarakat soal cukup tamat SD mulai hilang. Itu dibuktikan, adanya 10 sekolah paket B (setara SLTP) se-OKU dengan 226 siswa. Kemudian delapan paket C atau jenjang SMA dengan 254 siswa. “Itu menujukan kesadaran masyarakat soal pendidikan meningkat,” katanya. ibrahim arsyad

Popular content