• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Tak Punya Tangan, Kaki dan Mulut pun Bisa Melukis

Pelukis tuna daksa asal Singapura Benjamin Tan Boon Chuan bersama Sadikin asal Malang menggoreskan kuas pada kanvas di salah satu stan Pasar Seni Lukis Ke-6 di JX International, Surabaya, kemarin.

Tidak memiliki tangan atau kaki, tidak menghalangi dua seniman ini untuk berkarya. Keduanya bahkan mampu menghasilkan karya lukis nan apik dengan menggunakan anggota tubuh lain. Di antara ratusan pelukis yang bersiap memamerkan karyanya, Sadikin Pard dan Benjamin Tan Boon Chuan malah asyik dengan aktifitasnya masing-masing. Kedatangan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Saifullah Yusuf, untuk membuka perhelatan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), kemarin tidak mereka hiraukan.

Keduanya seolah tenggelam dengan imajinasi yang dituangkan ke dalam kanvas. Dalam kanvas berukuran 145 x 90 sentimeter, kedua pelukis cacat fisik ini bekerjasama menyelesaikan goresan bertema Masjid Agung yang dibangun di tengah birunya air laut. Berbeda dengan pelukis lainnya, Sadikin Pard dan Benjamin Tan Boon Chuan melukis menggunakan kaki dan mulut. Sadikin, pria asal Malang yang terlahir tanpa kedua tangan ini memanfaatkan jari kakinya untuk memegang kuas.

Persis dengan orang normal, pria berusia 47 tahun ini begitu lincah menggerakan kaki kanannya lalu menggoreskan akrilik pada kanvas. Kubah masjid dalam tema lukisannya itupun begitu cepat diselesaikan. Duduk berjajar, Benjamin juga menyelesaikan lukisan di bagian sampingnya. Meski memiliki kaki, pria asal Singapura ini justru memanfaatkan mulutnya untuk mengapit kuas.

Untuk memudahkan gerakan kuas, Ia pun membuat sebuah alat yang berfungsi sebagai gagang kuas. “Ini buat sendiri. Dibuat panjang supaya lebih enak dan cepat dalam bergerak,” kata Sadikin. Sadikin yang aktif melukis sejak TK ini begitu memahami kekurangan dan kelebihan Benjamin, sebagai patnernya. “Meski sedikit memiliki gangguan mental, kemampuan beliau (Benjamin) dalam imajinasi dan motoriknya sangatlah luar biasa,” tuturnya. Bahkan, imajinasi bangunan masjid di tengah laut inipun tertuang dari imajinasi Benjamin. Bagi mereka, tidak butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan lukisan meski menggunakan mulut dan kaki.

“Sebenarnya sama saja. Melukis dengan tangan itukan karena dibiasakan sejak kecil. Nah, karena saya tak punya tangan, jadinya ya biasa melukis dengan kaki,” kata Sadikin. Beruntung mereka tidak berperan sendiri dalam mempromosikan karyanya. Karena sudah ada komunitas yang mengurusnya. Mereka adalah bagian dari Association of Mouth and Foot Painting Artist (Amfpa). “Jadi hasil karya kita langsung masuk galeri Amfpa. Dari situlah kami dapat salary,” tuturnya. Dalam ajang PSLI 2013, Sadikin menargetkan bisa menjajakan karya hingga 25 lukisan.

“Tahun lalu, saya sudah pernah ikutan ajang ini. Tapi sendiri, dan laku 20 lukisan,” urainya. Selain kolaborasi Sadikin dan Benjamin. Sedikitnya ada 150 stan yang memenuhi JX International yang siap menampilkan goresan hingga 12 Mei. Berbeda dengan PSLI sebelumnya, PSLI 2013 memiliki gaya berbeda. Yakni menggabungkan olahraga dan kesenian. “Dengan menggandeng Kemenpora, kami juga menghelat acara lomba lukis catur,” kata Ketua Panitia PSLI M. Anis. Pada 2012, penyelenggaraan PSLI mampu mengumpulkan perolehan hingga Rp1,9 miliar.

“Tahun ini, kami menargetkan perolehan hingga Rp9 miliar,” tegas Anis. Melihat geliat seniman serta karya lukis yang ada, Gus Ipul yang membuka PSLI 2013 mengaku takjub. “Ini merupakan kegiatan yang positif. Karena ternyata bukan hanya di Bali atau Yogyakarta saja yang menjadi denyut para seniman,” tuturnya. 

EMI HARRIS
Surabaya

Popular content