• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Banyak Obat Berpotensi Disalahgunakan

YOGYAKARTA– Banyak jenis obat keras, yang bisa diperoleh dengan resep dokter, disalahgunakan untuk mendapatkan efek samping.

Kepala Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY Nunut Rubiyanto menuturkan, seperti halnya riklona clonazepam, camlet, dextro, dantrihexyphenidyl, banyak obat yang berpotensi disalahgunakan untuk mencari efek samping. Pil trihexyphenidyl merupakan jenis obat untuk penyakit epilepsi. “Efek sampingnya bisa gliyeng, juga bisa ngeblok air liur, minum itu bisa hilang suaranya,” katanya.

Pil trihexyphenidyl itu merupakan jenis obat keras yang harus didapatkan dengan resep dokter. Namun demikian, Nunut menuturkan, pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya, untuk mendapatkan resep obat itu memang mudah didapat. Sebab, resep itu modelnya bisa dipesan. “Jadi mereka modelnya ngomong ‘Saya kemarin dapat resep kayak gini, Dok. Tolong ini dicatat kayak gini,’ kalau ada yang seperti itu, apotek juga tidak bisa menolak,” tuturnya.

Selain obat yang sudah disebutkan, Nunut mengatakan, ada beberapa obat keras lagi yang berpotensi disalahgunakan. Salah satunya tramadol, yang merupakan obat untuk orang kesakitan, karena dapat menyebabkan ketergantungan. “Efeknya, kalau banyak juga bisa gliyeng. Untuk itu, kita juga akan lebih ketat lagi,” ujarnya.

Sebagai jenis obat yang berpotensi untuk disalahgunakan, penjualan obat semacam itu di apotek memang harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan maupun Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). Laporan itu ditujukan untuk mengawasi berapa obat yang keluar, siapa pembuat resep, maupun nama pasien yang menggunakan jenis obatobatan itu. “Mereka (pengguna) itu modelnya juga suka mencari alternatif lain, kalau yang biasa itu sulit didapat, kemudian mereka cari (obat) lain yang bisa untuk mabuk,” ungkapnya.

Penyalahgunaan obat-obatan dengan resep dokter itu terakhir diketahui dari penangkapan seorang pengedar pil trihexyphenidyl oleh Direktorat Reserse dan Narkoba (Ditresnarkoba) Polda DIY Senin (29/4) silam. Emon, 30, seorang karyawan swasta di Sleman berhasil ditangkap di sekitar rumahnya warga Pondokrejo, Tempel Sleman.

Dari tersangka itu, polisi berhasil mendapatkan barang bukti berupa 110 butir pil trihexyphenidyl serta uang Rp45.000. Dirnarkoba Polda DIY Kombes Pol Widjanarko yang dihubungi secara terpisah menyatakan, pengungkapan itu akan terus dikembangkan untuk mendapatkan orang yang berperan menjual pil itu kepada Emon.

Untuk mengembangkan temuan kasus penyalahgunaan obat itu, kepolisian akan melakukan kerja sama dengan BBPOM Yogyakarta dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY. “Kita akan koordinasikan untuk kerja sama menagani kasus itu,” ucapnya. ● muji barnugroho

Popular content