• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Melihat Kegiatan Kelompok Studi Wayang Sobokarti - Tanamkan Kecintaan Wayang kepada Anak Muda

Di era modern seperti ini, banyak budaya negeri sendiri yang mulai terlupakan oleh kalangan muda, salah satunya wayang. Prihatin dengan keadaan itu, sekelompok anak muda Semarang yang tergabung dalam Kelompok Studi Wayang Sobokarti berjuang mengenalkan wayang kepada anak-anak muda.

Seperti apa kisahnya? Kelompok Studi Wayang Sobokarti ini semula terbentuk melalui jejaring sosial seperti Facebook. Melalui jejaring sosial itu, kampanye tentang wayang terus digaungkan. Dari situ kemudian diketahui ternyata banyak anak muda zaman sekarang kurang tertarik dengan wayang. “Lalu, kami terus upayakan kumpul-kumpul dengan para anggota untuk membahas temuan- temuan terbaru terkait dengan dunia perwayangan.

Dari situ kemudian kami juga mencari cara lain agar wayang ini tidak hanya dikenal kembali, tapi juga disukai oleh kalangan muda,” kata Ketua Studi Wayang Sobokarti Ponco Nugroho, 32, kepada KORAN SINDO. Tak hanya itu, kelompok ini juga terus melakukan terobosan untuk menggaet para pencinta wayang baru dari kalangan muda yang sebelumnya sama sekali tidak menyukai bahkan tidak mengenal wayang.

Caranya, dengan melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah. “Rencana ke depan, kami akan memanfaatkan kegiatan car free day untuk sosialisasi yang kami lakukan,” ujarnya. Kelompok Studi Wayang Sobokarti saat ini memiliki 10 orang anggota. Dengan sosialisasi yang dilakukan, Ponco Nugroho berharap semakin banyak anak muda yang ikut bergabung dalam kelompoknya.

Tak hanya mengenal wayang dan berbagai karakter di dalamnya, tapi juga akan diajari cara pembuatan wayang. Baik wayang kulit, wayang yang terbuat dari kardus, kertas karton maupun fiber. Ponco sebelumnya memang sudah terbiasa membuat wayang dari kardus. Setidaknya sudah tiga tahun dia menekuni pembuatan wayang dari kardus.

“Membuat wayang dari kardus itu saya lakukan sudah tiga tahun lamanya, kemudian saya beralih ke media kulit dan sampai sekarang sudah berjalan dua tahun saya membuat wayang dari kulit. Semua keahlian ini saya peroleh secara autodidak karena saya mencintai dunia perwayangan,” papar Ponco. Pembuatan wayang memang memiliki sisi kesulitan tersendiri.

Seluruhnya tergantung dengan media atau bahan yang akan dibuat menjadi wayang. Seperti wayang kulit, pembuatannya memerlukan berbagai proses yang harus dilewati. Di antaranya melalui proses perendaman kulit, dibentangkan kemudian digambar dan dipahat. Langkah terakhir yakni proses pewarnaan. “Berbeda dengan pembuatan wayang dari kardus yang cukup sederhana, yakni cukup dengan menggambar pola kemudian dipotong dengan menggunakan cutter.

Untuk wayang kulit itu bisa sampai satu sampai dua minggu prosesnya,” ungkapnya. Pembuatan wayang dari fiber juga memiliki kesulitan tersendiri. Perbedaan teknik pembuatan dari fiber ini terletak pada proses pemotongan. Jika pada wayang kulit pemotongannya menggunakan tatah kuku, pada bahan fiber pemotongannya menggunakan solder. “Jika memakai tatah seperti wayang kulit, fibernya akan pecah,” ucap Ponco.

Wayang-wayang hasil buatan kelompok Studi Wayang Sobokarti selain dikoleksi juga ditawarkan kepada masyarakat luas. “Mulai dari Rp250.000 rupiah sampai Rp1,5 juta. Bahkan untuk tokoh wayang kulit seperti Kumbokarno dijual dengan harga Rp1,2 juta dan ini sudah dipesan oleh orang dari Bekasi, juga dari Kediri, atau Bandung,” paparnya.

Putranda Ekky, 15, siswa SMPN 9 Semarang yang juga bergabung dalam kelompok tersebut berharap bertambah banyak lagi kawan-kawan sebayanya yang mencintai wayang. “Sudah sejak tiga tahun lalu saya membuat wayang dari karton. Saya menyukai wayang itu sejak kecil karena sering diajak liburan ke rumah kakek di Klaten saya sering menonton pentas wayang kulit. Dari situ kemudian saya menyukai wayang,” ujarnya. 

SUSILO HIMAWAN
Kota Semarang         

Popular content