• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    33 °C

  • Diperkirakan Badai Petir

    Surabaya

    Diperkirakan Badai Petir
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    27 °C

  • Diperkirakan Badai Petir

    Yogyakarta

    Diperkirakan Badai Petir
    30 °C

  • Diperkirakan Badai Petir

    Surabaya

    Diperkirakan Badai Petir
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    32 °C

  • Diperkirakan Badai Petir

    Padang

    Diperkirakan Badai Petir
    31 °C

Fathanah Beri Model Cantik Honda Jazz

Mobil Honda Jazz dengan nomor polisi B 15 VTA milik Vitalia Sesha yang diduga pemberian Ahmad Fathanah diparkir di halaman Gedung KPK, Jakarta, kemarin.

JAKARTA– Kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) tersangka Ahmad Fathanah terus menggelinding. Terbaru, KPK menyita mobil Honda Jazz dan jam tangan merek Chopard dari model majalah dewasa Vitalia Sesha yang diduga pemberian orang dekat mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tersebut.

Juru Bicara KPK Johan Budi SP menyatakan, pihaknya masih terus menelusuri harta Ahmad Fathanah yang juga tersangka kasus dugaan suap pengurusan kuota impor daging sapi pada Kementerian Pertanian (Kementan). “Barang-barang itu diduga milik AF (Ahmad Fathanah) yang dikuasai Vitalia. Jadi ini terkait TPPU Fathanah. Nilainya sedang kita hitung. Tahun keterangan mobilnya nggak ada,” kata Johan saat konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, kemarin.

Menurut Johan, penyidik KPK telah dua kali memeriksa Vitalia. Dalam pemeriksaan itu, Vitalia mengaku mendapat mobil dan jam tangan mewah dari Fathanah dalam kapasitas hubungan pertemanan mereka. Disinggung soal peran Vitalia dalam kasus TPPU Fathanah, Johan mengaku belum mengetahuinya. ‘’Yang pasti Vitalia mengaku sebagai teman Ahmad Fathanah. Kita nggak tracing orang, kita menelusuri aset AF. Jadi saya tidak mengetahui perannya. Nggak ada uang, baru ada jam tangan dan mobil,” paparnya.

Untuk diketahui jam tangan Chopard yang diberikan Fathanah kepada Vitalia ditaksir bernilai sekitar Rp70 juta. Kasus Ahmad Fathanah ini menarik karena berkaitan dengan wanita-wanita cantik. Sebelum menyita Honda Jazz dan jam tangan Chopard dari Vitalia Sesha, KPK juga menemukan aliran uang yang diduga milik Fathanah kepada artis Ayu Azhari sebesar USD1.800 dan Rp20 juta. Ayu Azhari sudah mengembalikan uang yang diduga pemberian Fathanah itu ke KPK. Saat ditangkap pertama kali oleh penyidik KPK, Ahmad Fathanah sedang bersama mahasiswi bernama Maharani Suciono di lift Hotel Le Meridien Jakarta pada 29 Januari lalu.

Dari situ, KPK mengamankan uang Rp10 juta dari dompet Maharani dan Rp10 juta dari Ahmad Fathanah. KPK ketika itu juga mengamankan uang Rp980 juta di mobil Fathanah yang diduga berasal dari uang suap impor sapi. Menurut Johan, KPK masih terus menelusuri aset-aset hasil TPPU milik Ahmad Fathanah. Untuk menelusuri aset Fathanah, KPK juga meminta data aliran uang tersangka ke Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Dia menambahkan, kemarin penyidik memeriksa Ahmad Fathanah sebagai tersangka dan memeriksa sejumlah saksi untuknya. Mereka adalah Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin, Malarangan Daeng Tutu (swasta), Andi Masrizal (swasta), Amru Zaher (swasta), Direktur PT Radina Niaga Utama Elda Devianne Adiningrat, Abdullah Sani (karyawan swasta), dan Direktur PT Christy Sejahtera Juniusco Cuaca Pek. “Wali Kota Makassar terima uang dari AF? Nggak ada informasi soal apakah ada atau tidak soal Wali Kota Makassar terima uang dari AF. Yang pasti dia diperiksa sebagai saksi untuk TPK (tindak pidana korupsi) dan TPPU AF,” ungkapnya.

Bantah Terima Uang

Sementara itu, uang hasil pencucian uang Ahmad Fathanah diduga juga mengalir ke rekening DPW PKS Sulawesi Selatan (Sulsel). Uang itu diduga untuk kampanye Ilham Arif Sirajuddin pada Pilkada Sulawesi Selatan. “Dana kemenangan waktu pilgub lalu tidak masuk ke rekening AF (Ahmad Fathanah). Saat tahu dana yang ditransfer ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) itu dari pencucian uang AF dari penyidik, saya kaget. Nilainya tanya penyidik,” kata Ilham seusai diperiksa KPK sekitar tujuh jam di Gedung KPK, Jakarta, kemarin. Wali Kota Makassar itu tiba di Gedung KPK sekitar pukul 12.35 WIB.

Dalam Pilkada Sulsel, Ilham akhirnya kalah dari pasangan petahana Syahrul Yasin Limpo- Agus Arifin Nu’mang. Ilham melanjutkan, tidak ada bantuan dari PKS sebagai partai pengusung dalam pilkada. Tapi DPD Demokrat yang memberi biaya pemenangan. Dia mengenal Fathanah sebagai orang Makassar, tapi baru mengetahui Fathanah dekat dengan beberapa tokoh, termasuk politisi PKS. “Jadi (saya) minta dijembatani. AF yang mengenalkan ke PKS. Dia kan tokoh besar di Sulsel,” jelasnya.

Dia mengaku baru mengetahui uang yang mengalir ke DPW PKS itu sebagai uang pencucian uang Fathanah setelah disampaikan penyidik. Meski mengenal Fathanah, Ilham menyebut tidak terlalu dekat. Dia mengklaim tidak menerima aliran dana baik lewat pemberian langsung maupun ke rekening. “AF memberikan dana ke DPW (PKS), tanya ke DPWnya,” tandasnya sambil memasuki mobil Toyota Camry hitam B 1730 GF. Ketua DPP PKS Nasir Djamil menyatakan, pihaknya memang pernah mengundang sejumlah artis. Tapi Ayu Azhari tidak pernah diundang PKS.

Dia menuturkan, selain artis, PKS pernah juga mengundang presenter Tina Talisa sebagai moderator. Untuk itu Ayu Azhari tidak ada kaitannya dengan partainya. Menurut dia, Ayu Azhari itu merupakan urusan Ahmad Fathanah. ‘’Bagaimana mungkin bisa dibilang PKS mengundang Ayu Azhari, sementara PKS tidak pernah berhubungan langsung dengan yang bersangkutan. Ahmad Fathanah itu bukanlah kader PKS. Jadi mainan apa lagi ini, dagelan apa lagi yang dimainkan KPK,” kata Nasir saat dihubungi KORAN SINDO tadi malam.

Menurut anggota Komisi VIII DPR itu, ketika DPP berkeinginan mendatangkan pihak- pihak katakanlah artis, tentu mereka selalu mengomunikasikannya dengan Dewan Syariah PKS. Karenanya dia mengaku tidak mengetahui apa maksud KPK mengundang dan memanggil Ayu Azhari, mengait- ngaitkannya dengan Ahmad Fathanah, dan kemudian mengembalikan uang. Akibatnya, seolah-olah KPK menghubung-hubungkan Ayu dengan PKS. Dia berpandangan, KPK seperti kehabisan bahan.

“Jadi memang jelas sekali KPK ini sangat-sangat politis. Sangat berpolitik dalam penegakan hukum. Jadi kami kecewa sekali,” paparnya. PKS berharap kepada hakim yang mengadili perkara ini untuk mengedepankan hati nurani, mengedepankan faktafakta di persidangan. Kemudian mencoba untuk melakukan terobosan-terobosan hukum. “Kalau berani memutus bebas LHI, ya tidak usah takut. Kalau untuk KPK, KPK itu tidak usah memaksa. Jangan terlalu memaksa kalau memang kasus itu sulit untuk dia ungkapkan. Begitu. Jadi KPK benar-benar on the track,” tandasnya.

Harus Didalami

Wakil Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho menyatakan, Ayu Azhari dan Vitalia Sesha tidak bisa lepas begitu saja dalam kasus pencucian uang Ahmad Fathanah meski sudah mengembalikan barang-barang yang diterima. Menurutnya, KPK harus memperdalam sejauh mana keterlibatan artis-artis tersebut dalam kasus pencucian uang Fathanah.

“Jika ada indikasi terlibat dan mengetahui itu uang haram tapi menikmati bisa diproses. Semua tergantung KPK,” kata Emerson. Untuk memastikan keterlibatan dua artis itu, validasi dan verifikasi intensif mesti dilakukan KPK. Dia menuturkan, dalam konstruksi pasal-pasal Undang-Undang (UU) TPPU selain pelaku, pihak-pihak yang turut menikmati uang hasil korupsi tersangka juga bisa dijerat.

Dalam UU tersebut bahkan sangat jelas syarat-syaratnya. Selain menikmati, orang yang menerima uang hasil pencucian uang bisa saja dijerat dengan menggunakan Pasal 5 UU TPPU. “(Penerima) aktif yang bisa kena. KPK mesti memastikan apakah artis-artis itu merupakan penerima aktif atau tidak,” bebernya. sabir laluhu/ant

Popular content