• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Mengembangkan Pemikiran Strategis

Pemikiran strategis (strategic thinking) sangat melekat dalam kehidupan dan perjalanan sebuah perusahaan. Di seluruh dunia pasti pemikiran strategis itu yang dicari.

Perusahaan tanpa strategi bagaikan sebuah kapal tanpa kompas yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa tujuan selain bisa sesat di jalan tidak sampai di tujuan juga bisa tercabik ditengah lautan ketika badai datang ataupun terhempas ke daratan terkena angin kencang. Disadari atau disadari, tertulis mupun tidak, tersurat atau tersirat, besar maupun kecil, pastilah perusahaan memiliki strategi untuk melewati hari-hari yang dilalui dalam mempertahankan dan mengembangkan perusahaan, dari kecil menjadi menengah dan seterusnya menjadi besar.

Strategi bukan semata-mata dan hanya mengandalkan insting dari pemilik atau pengelola perusahaan walaupun faktor itu cukup penting terutama dalam mencium peluang. Yang menjadi pertanyaan siapa sajakah yang harus dan berhak membuat strategi? Setiap orang di perusahaan berhak dan harus bisa membuat strategi bagi dirinya sendiri maupun secara gabungan bagi perusahaan.

Apakah strategi ada kaitan dengan tingkat intelegensia seseorang? Dan juga pengalaman? Bisa iya, bisa tidak, tentu secara logika semakin tinggi tingkat intelegensia seseorang semakin ia dapat berpikir luas (comprehensive) yang tidak terjangkau oleh orang yang memiliki intelegensia pas-pasan. Demikian pula seseorang yang memiliki banyak pengalaman tentunya lebih dapat melihat dan membayangkan sebuah situasi. Jika memiliki dua-duanya - selain tinggi tingkat intelegensia juga banyak pengalaman – akan semakin mudah baginya untuk berpikir strategis.

Akan tetapi di perusahaan tidak selalu tersedia orang yang memiliki kriteria keduanya. Ada yang memiliki intelegensia tinggi akan tetapi kurang pengalaman, sebaliknya yang mempunyai banyak pengalaman tidak memiliki intelegensia yang tinggi. Oleh karena itu perusahaan harus berusaha mengembangkan setiap orang di perusahaan terbiasa berpikir strategis. Pertanyaan kembali, apakah pemikiran strategis dapat diajarkan?

Jawabannya kenapa tidak? Apapun dapat dipelajari, bahkan insting (gut) pun pada tingkat tertentu dapat diajarkan walaupun tidak seluruhnya. Ada yang bilang bahwa gut itu sangat berkaitan erat dengan unsur luck (keberuntungan). Orang-orang yang memiliki gut tinggi biasanya menjadi orang-orang yang beruntung, menjadi kaya raya, sebagaimana dapat kita baca dari kisah orang-orang terkenal dan kaya raya seperti yang tercantum dalam daftar orangorang kaya dunia di majalah Forbesataupun Fortune.

Jeanne M Liedtka, seorang profesor di Sekolah Bisnis Darden, Virginia, USA memberi tips bagaimana berpikir strategis dalam konteks perusahaan. Menurut Liedtka ada lima elemen atau unsur dalam pemikiran strategis: a. Systems perspective, b. Intent-focused, c. Intelligent Opportunism. d. Thinking in time, e. Hypothesis-Driven. Mari kita mengupasnya satu per satu. Pertama, systems perspective (pandangan atas sistem).

Kita perlu memahami sebuah proses dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan dalam cakupan pandangan terhadap proses itu kita berpikir secara keseluruhan, tidak sebagian dalam penggalan-penggalan. Seperti melihat sebuah hutan tidak hanya sekadar melihat pohon-pohon. Perusahaan adalah sebuah proses yang menggunakan berbagai sumber daya (manusia, mesin, material atau bahan baku, uang dan waktu) sebagai input, kemudian mengolahnya dan menjadikan produk jadi atau setengah jadi untuk dijual sebagai output. Berpikir strategis mencakup efektivitas dan efisiensi.

Kedua, intent-focused(terpusat pada niat atau tujuan). Sebuah strategi disusun dengan sebuah tujuan, dan tujuan itu sendiri harus bersifat strategis tidak hanya sekadar mempunyai tujuan, akan tetapi sebuah tujuan yang mendatangkan keuntungan dan manfaat yang terbaik bagi perusahaan.

Ketiga, intelligentopportunism (Kesempatan untuk mengembangkan secara lebih ilmiah). Sebuah pemikiran tidak boleh terpaku pada satu pemikiran. Sebuah pemikiran harus dapat dikembangkan menjadi beberapa pemikiran, namun tetap tidak meninggalkan intent (niat atau tujuan). Kita sering mendengar istilah “banyak jalan menuju Roma,” untuk mencapai tujuan kita bisa menempuh berbagai cara, dan dari sekian banyak cara itulah terpilih yang paling efisien.

Jika kita hanya terpaku pada satu atau dua alternatif saja, cenderung akan mencari yang mudahmudah saja. Keempat, thinking in time (berpikir dalam konteks waktu). Sebagaimana kehidupan manusia, maka perusahaan pun memiliki dan menjalani tiga waktu: kemarin atau masa lalu, sekarang yang sedang dijalani dan esok hari atau masa yang akan datang. Seorang yang berpikir strategis perlu dapat mempelajari masa lalu, masa sekarang dan memperkirakan apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Apalagi dengan zaman yang serbacepat berubah karena pengaruh teknologi informasi dan telekomunikasi yang sangat cepat serbakilat. Kelima, hypothesis-driven (tertumpu pada hipotesa). Di sinilah mungkin yang membedakan antara seseorang yang memiliki intelegensia tinggi dan yang pas-pasan.

Seorang yang memiliki intelegensia tinggi atau lebih tinggi dapat menuangkan pemikirannya dalam berbagai skenario kemungkinan yang akan terjadi dan pada akhirnya dapat memilih dengan tingkat kemungkinan (probability) tertinggi. Tetap Sukses! ●DR ELIEZER H HARDJO PHD, CM Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) & Ketua Institute Certified Professional Managers (ICPM)

Popular content