• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Isu “Naturalisasi” di Pilkada Makassar

MAKASSAR– Setelah sempat mereda, isu negative campaign mencuat lagi, menyusul kian dekatnya pelaksanaan Pemilihan Wali Kota Makassar. Kali ini, soal “naturalisasi” yang diartikan sebagai bukan putra daerah.

Meski secara spesifik tidak menyebut kandidat tertentu, namunisu“ naturalisasi” ini, seolah ditujukan untuk kandidat wali kota Danny Pomanto yang berdarah Gorontalo. Isu “naturalisasi” ini muncul dalam iklan pasangan kandidat wali kota dan wakil wali kota yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irman Yasin Limpo – Busrah Abdullah di berbagai media cetak lokal, kemarin. Dalam iklan itu ditulis “100% Makassar” sebagai judul iklan.

Dalam penjelasan iklan itu juga ditulis: Makassar itu… memiliki generasi. Tak Perlu Naturalisasi. Makassar itu… Muda, Sehat, dan Lebih Cerdas! Sekadar diketahui, istilah naturalisasi sebenarnya mulai populer saat Timnas PSSI merekrut beberapa pemain asing untuk memperkuat kesebelasan merah putih, beberapa tahun lalu.

Naturalisasi diartikan sebagai proses perubahan status dari penduduk asing menjadi warga negara suatu negara. Dalam proses naturalisasi ini, harus dilengkapi beberapa dokumen persyaratan. Namun, khusus di Pilkada Makassar, istilah naturalisasi seolah ditujukan kandidat yang bukan asli Sulawesi Selatan. Di antara sepuluh pasangan kandidat yang akan bertarung, hanyalah calon wali kota Danny Pomanto yang agak menyerempet ke isu “naturalisasi” itu.

Meski begitu, Danny lahir di Kota Makassar. Dia bahkan mengklaim masa kecilnya tinggal di sebuah lorong di Makassar. Itulah yang mendasari tagline Danny sebagai “Anak Lorong na Makassar”. Kubu Irman Yasin Limpo – Busrah Abdullah yang memesan iklan diberbagai media cetak lokal itu, dengan tegas membantah jika pariwara itu ditujukan kepada kandidat tertentu.

Menurut Juru Bicara Noah, Henny Handayani, iklan tersebut memiliki semangat yang positif dan baik. “Kami ingin bahwa putra daerah itu layak mendapatkan tempat dan ruang berkarya yang lebih di kota Makassar.” “Ini juga sebagai bentuk apresiasi positif terhadap nilainilai kearifan lokal di Makassar,“ jelasnya. Jikapun, lanjut Henny, ada salah satu pihak atau kandidat yang merasa disinggung dia menilainya itu lucu.

Pasalnya, semua kandidat secara terangterangan pernah menyampaikan ke publik bahwa mereka lahir di Makassar. “Bahkan ada kandidat yang tim kami temukan memasang stiker di rumah-rumah dengan tulisan lahir di Makassar, besar di Makassar, berkarya di Makassar,“ katanya. Menanggapi maraknya isu naturalisasi tersebut, Juru Bicara pasangan Supomo Guntur- Kadir Halid (SuKa) Dedi Alamsyah mengatakan, geopolitik dalam pilkada masih cukup kental.

Kandidat yang diserang seperti itu menurutnya harus menunjukkan keterbukaan dan kejujuran dalam Pilkada. “Bibit, bebet, dan bobot kandidat itu penting. Masyarakat harus tau agar tidak salah dalam memilih pemimpinnya,“ kata Dedi. Juru Bicara DIA, Irwan Ade Saputra membantah isu bukan putra daerah yang mengarah ke kandidat jagoannya tersebut.

Menurutnya, tidak ada kandidat dari luar Sulsel yang maju di Pilkada Makassar. “Saya juga tidak tahu kalau ada kandidat ini dari luar. Kalau ukurannya dari luar itu kita periksa semua kandidat yang kelahiran dari luar Makassar. Itulah kandidat yang dari luar Makassar,“ jelasnya. Menurut Ade, masyarakat akan bisa menilai pemimpin yang layak dipilih. Salah satu ukurannya adalah siapa yang telah memiliki karya di Makassar.

“Masyarakat pasti akan bisa menilai sapa-siapa kandidat yang terbukti bekerja untuk Makassar. Bukan melihat asalnya,“ jelasnya. Pengamat Politik dari Unhas Armin Arsyad mengatakan, secara sistem demokrasi tidak ada masalah orang luar yang memimpin Makassar. Menurutnya di Indonesia hanya orang luar Papua yang tidak boleh memimpin di daerah itu karena aturannya.

“Yang jadi persoalan apakah orang-orang Sulsel mau dipimpin oleh orang luar Sulawesi? Jika mereka mau silakan saja siapa pun yang memiliki kemampuan boleh asal dipilih oleh masyarakat,“ katanya. Terkait maraknya wacana tersebut yang menerpa salah satu kandidat, Guru besar Unhas ini mengatakan bisa saja berpengaruh di pilkada, khususnya Makassar. “Karakter masyarakat Indonesia khususnya di Makassar masih cenderung berpikir primordial.

Kecuali memang bagi pemilih cerdas bisa saja tidak berpengaruh,“ katanya. Secara garis besar, Prof Arminmemilahtigakarakterpemilih di Makassar. Diantaranya pemilih sosiologis yakni yang memilih karena faktor teman, organisasi, alumni, atau agama. Kedua kultural, yang berdasar pada etnis, budaya, daerah. Sedangkan yang ketiga yakni rasional yakni berdasarkan program yang menguntungkan dirinya. “Di Makassar ini masih kental pemilih sosiologis dan kultural.

Sehingga isu seperti itu bisa berpengaruh kepada kandidat yang diterpa, apalagi jika massif dan sampai ke masyarakat,“ pungkasnya. Danny saat dikonfirmasi, membenarkan jika dirinya sedang digoyang isu etnis. Kandidat yang maju berpasangan dengan Syamsu Rizal itu menganggap itu sebagai badai politik yang dihadapinya. “Ini badai politik. Kami dihantam berbagai isu, yang salah satunya soal etnis. Ini sama saat Jokowi maju di Jakarta.

Tapi warga Jakarta cerdas, dan kita berharap Makassar seperti itu juga tidak terpengaruh dengan isu-isu,” ujar Danny, kepada wartawan di sela-sela buka puasa bersama dengan media di New Dinar, Jalan Lamadukkeleng, kemarin. Danny menuturkan, jelang pilkada, sentimen etnik dinilai semakin terasa. Bahkan, pihaknya sudah mengetahui, jika ada upaya pihak tertentu menghadirkan Gubernur Gorontalo, dan Wali Kota Gorontalo.

Tujuannya, sebut dia, kepala daerah tersebut diarahkan memberikan pernyataan dukungan, dan testimoni yang seakan- akan memberikan dukungan kepadanya, termasuk testimoni mengenai dirinya sebagai warga asal Gorontalo. “Ada juga gubernur akan datang, dan seolah-olah mendukung saya, tapi itu dilakukan untuk kepentingan partainya. Begitupun wali kota juga mau didatangkan,” tuding Danny.

Terkait hal itu, pihaknya tidak akan tinggal diam. Menurut dia, timhukumyangberada dibarisan pemenangannya sudah melakukan kajian khusus. Apalagi, ditengarai akan ada selebaran massif yang bakal disebar pihak tertentu untuk menyudutkannya. “Tim hukum sudah mensinyalir, tempat percetakan at-ribut- atribut yang akan memojokkan kami. Begitupun juga modus pengarahan dukungan gubernur dan wali kota,” papar Danny.

Juru Bicara DIA, Arman Mannahau, ikut meluruskan jika kandidatnya memang sering digoyang isu etnis. Hanya, pihaknya justru mempertanyakan isu itu. Mengacu latar belakang Danny, pihaknya mengklaim kalau arsitek tersebut lahir dan besar di Makassar. Danny juga termasuk berkarya untuk pembangunan Makassar. “Ibu beliau (Danny), itu kan mantan guru di Makassar.

Bapak beliau juga pegawai di Pemprov Sulsel. Pak Danny, lahir di Jalan Amrullah,” ujar dia. Manajer Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI) Irfan Jaya, menganggap isu etnis yang dialamatkan ke Danny, berpotensi mengurangi dukungannya jika dia tidak mampu melakukan klarifikasi, atau counteryang positif. “Isu etnis termasuk isu yg sangat sensitif. Menghampiri kuatnya isu agama. Jadi, siapa pun kandidatnya, itu harus waspada,” kata Irfan saat dimintai tanggapannya. jumardin akas/ arif saleh

Popular content