• Diperkirakan Turun Hujan

    Jakarta

    Diperkirakan Turun Hujan
    38 °C

  • Mendung Merata

    Surabaya

    Mendung Merata
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    27 °C

  • Diperkirakan Badai Petir

    Yogyakarta

    Diperkirakan Badai Petir
    28 °C

  • Mendung Merata

    Surabaya

    Mendung Merata
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Diperkirakan Turun Hujan

    Padang

    Diperkirakan Turun Hujan
    30 °C

Pembunuhan Sadis Fransiska Yopi - Motif Penjambretan Dinilai Tak Masuk Akal

BANDUNG – Motif penjambretan pada kasus tewasnya Branch Manager PT Verena Multi Finance Fransiska Yopi dinilai tidak masuk akal.

Dalam gelar perkara di Mapolrestabes Bandung, kemarin, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno mengatakan, motif pembunuhan yang dilakukan W, 45, paman; dan A, 33, keponakan adalah penjambretan. Pengamat Hukum Pidana Universitas Parahyangan Agustinus Pohan mengatakan, kunci jawaban motif pembunuhan sadis itu terdapat pada proses tewasnya korban Siska.

“Kembali ke awal, apakah korban terseret atau diseret. Jika terseret, penyidikan yang diungkapkan polisi masuk akal. Namun, jika diseret berarti ada kejanggalan dalam kasus ini, terutama peralihan dugaan dari pembunuhan menjadi kriminal murni,” ujarnya melalui sambungan telepon, tadi malam.

Berdasarkan rekaman CCTV, tidak jelas bagaimana kejadian sebenarnya. Tapi, asumsi awal memperlihatkan korban diseret pelaku dan bukan bermotif penjambretan. Berdasarkan pengakuan pelaku, setelah menjambret pelaku malah membuang barang hasil jarahannya ke sungai dengan alasan selalu dibayangi arwah korban.

Padahal, pelaku mengaku aksinya ini bukan yang pertama kali. “Kuat dugaan seperti itu, karena secara logika semua argumen penjambretan tidak masuk akal. Apalagi sebelumnya diungkapkan tidak ada barang yang hilang, sehingga sulit jika motif beralih pada penjambretan,” ungkapnya.

Selain itu, keraguan muncul dari momentum pelaku melakukan aksinya. “Keganjilan terjadi antara dia (pelaku) naik motor, korban turun dari mobil, lalu menjambret. Itu kurang meyakinkan karena muncul pertanyaan apakah benar mereka beraksi sambil melalui atau sengaja menunggu korban. Kemudian, keganjilan terjadi pada kasus penyeretan, jika memang terseret sejauh 1 km bagi saya mesti diusut ulang,” ujar Agustinus.

Pada ekspose di mapolrestabes, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno mengungkapkan, inisiatif kejahatan ini dilakukan W yang tidak lain paman si A. Saat itu A yang tengah menyantap takjil di Masjid Baiturahman daerah Cipedes diajak W untuk menyerahkan proposal. Setelah A mengiyakan, W menyatakan rencana sebenarnya yakni menjambret. “Saya (A) diajak ke gudang, sampai di gudang ternyata W mengajak saya untuk menjambret dengan golok di tasnya. Karena saya dipaksa dan takut, akhirnya saya mau,” kata Sutarno saat membacakan pengakuan A kepada penyidik di Mapolrestabes Bandung.

Sebelum beraksi, W mencekoki A dengan sebotol bir yang dicampur bubuk mercy dengan maksud agar A lebih berani. “Kurang dari 10 menit setelah minum, kami berangkat berkeliling di daerah Setra Indah. Saat itu saya membonceng W,” lanjut Sutarno, berdasarkanpengakuan A.

Berdasarkan pengakuan keduanya, saat kejadian tidak ada niatan membunuh. Ketika melihat mobil Nissan Grand Livina X-Gear dengan pintu terbuka, W langsung mengambil tas yang berada di jok kemudi. Namun, korban Siska memergoki aksi tersebut dan berusaha meraih tasnya.

“Perempuan itu langsung teriak dan mengejar. Merangkul saya dengan keras sampai saya sulit melepaskannya. Setelah saya pukul dengan tangan tidak kunjung lepas, saya bacokan golok ke kepala korban sebanyak 3kali, setelah itu korban terlepas,” kata Sutarno yang membacakan pengakuan W.

Mereka tidak menyadari korban masih tergiring hingga 1 km. “Saat itu kecepatan 70 km perjam. Setelah melewati Lapangan Abra Cipedes, motor mati, ternyata rambut korban nyangkut di gear. Saya langsung turun dan memotong rambut korban, kemudian kabur,” ujar Sutarno membacakan pengakuan W.

Menurut pelaku W, setelah beraksi mereka langsung menghilangkan jejak dengan membuang iPhone milik korban, helm, dan jaket yang digunakan. W melarikan diri ke Cianjur, sedangkan A pulang ke rumahnya di Bandung.

Pada kesempatan sama, dia membenarkan korban Siska memiliki hubungan pribadi dengan anggota Polri. Dia adalah Kompol A yang bertugas di Polda Jabar. Kebenaran itu terungkap ketika penyidik menggeledah kamar indekoskorbandiJalanCipedes, KecamatanSukajadi. Ditemukan  barang bukti berupa surat pribadi Siska tentang pengalaman yang dilalui korban.

“Buku catatan harian almarhumah juga ada. Surat dan catatan harian itu bercerita keluhan-keluhan Siska yang diperlakukan tidak baik oleh oknum polisi itu. Dia marah dan mencaci maki orang itu, termasuk di dunia maya (Facebook),” ujarnya. Sutarno membenarkan informasi jika Kompol A mengutus anak buahnya untuk membayangi gerakgerik Siska. Hanya saja berdasarkan penyelidikan tidak ada keterkaitan Kompol A dengan tewasnya korban.

Meski demikian, berdasarkan instruksi kapolda Jabar, Kompol A menjalani proses karena dianggap melanggar disiplin. Wakapolri Komjen Pol Oegroseno mengatakan, kasus pembunuhan Fransiska masih dalam penyelidikan.

Dia meminta penyidik mendalami segala bukti-bukti dan keterangan untuk memastikan motif kasus pembunuhan sadis itu. Penyidik juga sedang menelusuri indikasi hubungan spesial antara korban dan perwira menengah (pamen) di Polda Jabar. tommi andryandy/ mochamad solehudin/ achmad faisal nasution

Popular content