• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Surat Ulu- Penyampai Pesan Cinta

Pada era 70-an, Surat Ulu atau Aksara Kaganga (Kaga- nga), masih biasa digunakan sebagai pengantar pesan pada masyarakat masa itu.

Bahkan, menulis surat cinta pun menggunakan aksara warisan nenek moyang masyarakat Bumi Sebimbing Sekundang. Masyarakat era itu juga lebih lancar menuliskan kalimat dari aksara lama dibandingkan tulisan latin (abjad pemersatu bangsa). “Orang tua saja dan kakakkakak saya, semua mahir untuk menulis dan membaca tulisan dengan aksara lama. Dibandingkan, dengan tulisan Indonesia, jauh lebih mahir untuk menuliskan aksara Kaganga. Sampai menulis surat cinta pun menggunakan Surat Ulu,” kenang Budayawan OKU H Husni Abdullah.

Dia menceritakan, keluarga besarnya dikenal sangat menghargai peninggalan nenek moyangnya. Namun, seiring berkembangnya zaman, kebudayaan kian terkikis. Semakin elitisnya modernisasi di lingkungan generasi muda, bisa terlihat dari nilai-nilai budaya. Tidak heran, kalau tidak satupun generasi muda menguasa aksara lama.

“Mereka mudah terkontaminasi dengan alih-alih modernisasi dan pergaulan bebas, sehingga terkesan harus meninggalkan kebudayaan nenek moyang. Padahal, sikap seperti itu menunjukkan lemahnya generasi ini, dalam memelihar nilainilai luhur,” kata kakek 16 cucu itu. Dia merasakan, 5 hingga 10 tahun mendatang, jika tidak ada gerakan untuk memelihara Surat Ulu maka tidak menutup kemungkinan aksara ini akan hilang dan hanya menjadi cerita saja.

“Ini, bukan hanya tugas bagi pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab bagi kami semua. Tetapi sebagai penggerak roda pemerintahan, seyogyanya Pemkab, mengambil langkah nyata menghidupkan kembali aksara kearifan lokal ini,” kata dia. Dia mengatakan, satu-satunya cara agar kebudayaan lokal tetap tertanam dan erat di tengah- tengah masyarakat yakni dengan memasukkannya sebagai kurikulum pendidikan seperti muatan lokal (mulok). Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.

“Saya merasakan, apabila lama tidak menggunakan Surat Ulu untuk menyampaikan informasi kepada sanak saudara yang berada jauh. Selain itu jarangnya mendapati tulisan yang menggunakan Aksara Kaganga semakin menurun pula kemampuan saya baik, dalam penulisan maupun membaca Surat Ulu,” kata dia. ●

IBRAHIM ARSYAD
Baturaja

Popular content