• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Produksi Masih Minim

DINAS Pertanian Provinsi Jawa Barat mengakui, produksi kedelai di Jawa Barat masih minim. Suplai kedelai untuk industri pengolahan tahu dan tempe sebagian besar masih mengandalkan kedelai impor.

 Kepala Bidang Produksi Pangan Dinas Pertanian Jabar Uneef Primadi mengakui, per Juni 2013, realisasi produksi kedelai mencapai 26.215 ton biji kering. Angka tersebut masih sangat kecil dari target tahun ini sebanyak 97.448 ton biji kering. Realisasi produksi kedelai selama semester I/2013 baru mencapai 27% dari target produksi tahun ini. “Walaupun, luas lahan dan produktivitas tanaman kedelai terus meningkat,” ujar Uneef di Bandung kemarin. Menurut dia, luas lahan tanam kedelai di Jabar hingga pertengahan tahun ini telah mencapai 21.924 hektare (ha).

Realisasi tersebut telah mencapai 85% dari target lahan seluas 25.749 ha. Selain itu, produktivitas kedelai di Jabar cukup baik, sekitar 15,78 kuintal/ha. Capaian tersebut akan terus digenjot melalui penerapan bibit unggul kedelai dengan target produktivitas hingga 16,43 kuintal/ha. Minimnya produksi kedelai di Jawa Barat terjadi karena petani lebih memilih menanam padi. Petani masih kurang tertarik menanam kedelai karena harga jualnya masih lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya, seperti padi dan jagung. Akibatnya, produksi kedelai terus merosot.

Selain itu, kata Uneef, kedelai tergolong tanaman yang rentan diserang hama dan penyakit. “Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu segera merealisasikan harga pokok pembelian (HPP) kedelai. Dengan begitu, ada jaminan atas harga kedelai,” imbuh dia. Pemerintah sebenarnya telah menerbitkan harga jual pemerintah (HJP) untuk kedelai sebesar Rp7.450/kg dan harga beli petani (HBP) untuk kedelai sebesar Rp 7.000/kg. Aturan itu diterbitkan pada 13 Juni lalu.

“Di Jabar, kedelai cocok di tanam di Garut, Sukabumi, Cianjur, dan Majalengka,” kata Uneef. Sementara itu, para pedagang tempe dan tahu di Kota Cirebon terpaksa menaikkan harga sebagai imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Petani mengaku harus me-naikkan harga tempe dan tahu karena harga kedelai juga meningkat. Pedagang tempe dan tahu di Pasar Kanoman, Kota Cirebon, Yanto menyebutkan, sejak tiga hari terakhir, harga tempe dan tahu di warungnya telah dinaikkan. ”Kan harga kedelainya juga naik,” ungkap dia kemarin.

Sementara itu, Pemerintah Kota Cimahi belum memastikan akan menggelar operasi pasar dalam merespons hilangnya tahu-tempe di pasar tradisional. Kepala Bidang Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan, dan Pertanian (Diskoperindagtan) Kota Cimahi Teti Megawati mengatakan segera melakukan peninjauan agar diketahui pasti hilangnya tahu-tempe di pasar.

”Sejauh ini kami belum menerima laporan hilangnya tahu dan tempe. Namun, memang pasokannya kini mengalami penurunan,” ujar Mega kepada KORAN SINDOkemarin. ● arif budianto/ erika lia/ dila nashear

Popular content