• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Dilarang Sejak 2009, Reklame Bando Masih Menjamur

SURABAYA– Penataan reklame di Kota Pahlawan masih semrawut. Meskipun sudah ada pelarangan reklame bando sejak 2009, nyatanya masih banyak yang berdiri di sepanjang jalan protokol.

Salah satu reklame bando yang berdiri tegak ada di Jalan Margorejo sisi barat palang pintu rel kereta api (KA). Selain itu, ada reklame bando di Jalan A Yani tepatnya di depan Mapolda Jatim. Pelarangan reklame bando itu sudah hampir 5 tahun diberlakukan dengan Peraturan Daerah (Perda) Surabaya Nomor 8 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Reklame dan Pajak Reklame. Dan ini juga sesuai ketentuan pajak daerah yang tidak boleh menarik pajak di atas ruang milik jalan (rumija). Sedangkan, kaki reklame bando berdiri di atas rumija.

“Sejak lama kami prihatin dengan kondisi reklame bando di Surabaya. Apalagi sekarang izin pembangunan reklame bando dilarang undang-undang. Tapi, kok masih ada reklame bando di jalanan kota,” ujar Anggota Komisi C DPRD Surabaya Sudirjo kemarin. Iamelanjutkan, jumlahreklame bando di Surabaya sebelumnya cukup banyak. Keber-adaan reklame bando itu juga sudah banyak yang sudah ditebangi. Namun, kalau masih ada yang tersisa itu sama artinya dengan sebuah keteledoran Pemkot Surabaya.

“Kalau demikian adanya, menunjukkan betapa buruknya penataan reklame di kota ini, karena di daerah lain reklame bando sudah dibatasi jumlahnya,” ujar politisi asal PAN ini. Menurutnya, dilarangnya reklame bando sejak 2009 karena mengorbankan estetika atau tata kota, dengan alasan bisa merusak wajah kota. Tapi, larangan pemkot itu sepertinya tak bergigi. “Coba dilihat keberadaan bando di Jalan Margorejo depan Giant Hypermarket. Wajah kota menjadi semrawut,” terangnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, reklame bando memang tidak boleh ada lagi di kota Surabaya. Pada 2009 lalu jumlahnya 26 titik, pada 2010 melonjak menjadi 72 titik, dan di 2011 sudah menjadi 100 titik. Selanjutnya, reklame bando yang izinnya masih berlaku, kini sudah mulai habis masa berlakunya. “Pemkottidakakanmemperbolehkan berdirinya reklame bando lagi. Reklame bando yang ada sekarang izinnya sudah banyak yang mati dan akan segera kami bongkar semuanya,” kata Eri.

Ia melanjutkan, pembongkaran reklame bando sudah dilakukan pemkot sejak beberapa hari terakhir. Beberapa reklame bando yang dibongkar di antaranya reklame bando di Jalan Basuki Rachmad milik biro reklame Ocxy. Reklame bando ini izin pemasangan materi reklame dan Surat Perintah Walikota (SPW) sudah mati dan tidak diperpanjang lagi.

“Kondisi ini akan diberlakukan kepada reklame bando lainnya. Karena, pada intinya kaki reklame bando berada di rumija. Sedangkan ruang milik jalan dilarang pemerintah disewakan kepada siapa pun,” ungkapnya. Selain reklame bando masih banyak reklame outdoor yang izinnya mati dan sudah dibongkar. Hingga kini jumlah reklame yang sudah dibongkar sudah mencapai sekitar 600 titik.

Sedangkan, jumlah reklame outdoor dan reklame bando memang cukup banyak, yakni mencapai sekitar 72 titik. Sedangkan untuk reklame jembatan penyeberangan orang (JPO) jumlahnya mencapai 22 titik. ●aan haryono

Popular content