• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

“Vickynisasi Branding”

”Vickynisasi branding” adalah sebuah ”genre baru” dalam dunia personal branding dan pencitraan. Saya membagi milestones pendekatan pencitraan dari masa ke masa ke dalam tiga genre.

Pertama, tatkala media seperti radio atau televisi belum marak kita mengenal apa yang disebut “authentic branding” (pencitraan otentik), yaitu pencitraan yang terbangun oleh kualitas personal yang agung, capaian luar biasa, atau karakter yang mulia dari sosok yang dicitrakan.

Kedua, ketika media berbayar seperti koran, radio, dan televisi marak. Arah pendekatan pencitraan bergeser menjadi apa yang saya sebut “lipstic branding”, yaitu pencitraan yang terbangun melalui rekayasa (kalau meminjam istilah Vicky Prasetyo mungkin disebut “lipstikisasi”) dari si sosok yang dicitrakan. Sebetulnya si sosok buruk, tapi di layar kaca menjadi kinclong kinyiskinyis.

Sejatinya si sosok bengis bak mafia, tapi di berbagai billboardjalan protokol menjadi sosok merakyat penuh empati. Sesungguhnya sosok koruptor, tapi di halaman-halaman koran menjadi sosok alim penuh kearifan. Ketiga, kiniketikamedia-media gratis nan powerful seperti Twitter, Facebook, dan terutama YouTube bermunculan, pendekatan pencitraan melangkah lebih canggih lagi menjadi apa yang saya sebut Vickynisasibranding.

 Vickynisasi branding adalah istilah yang saya ciptakan untuk menyebut model pencitraan yang tak peduli muatan kearifan, tak penting kualitas personal, tak ambil pusing capaian. Ngawur enggak apa-apa, ngasal enggak apa-apa, bahkan kalau perlu menghalalkan segala cara, agar si sosok mendapatkan sejumput kemasyhuran instan. Itu sebabnya genre baru ini juga saya sebut: “pencitraan ngasal” atau “pencitraan gemblung”.

Authentic Branding

Contoh paling gampang dari authentic branding adalah Bung Karno. Sosok ini mendapatkan citra otentik sebagai “Bapak Bangsa” dan “Bapak Proklamator” setelah melalui perjalanan panjang penuh onak dan duri, dengan nyawa sebagai taruhannya. Dia gagas Pancasila yang kelak menjadi dasar negara. Dia kobarkan semangat para pejuang melalui pidato-pidatonya yang membara. Dia dikejar-kejar tentara Belanda dan keluar-masuk bui demi kerinduan akan kemerdekaan Indonesia.

Jadi, citra sebagai Bapak Bangsa dan Bapak Proklamator terwujud melalui kualitas personal yang agung, sumbangsih dan pengabdian konkret bagi Tanah Air, dan capaian yang luar biasa. Tak ada yang namanya cuap-cuapdi televisi atau koran memuji-muji diri sendiri dengan bilang: “Akulah pemimpin merakyat! Akulah pemimpin yang peduli rakyat kecil! Akulah pemimpin yang tidak korupsi!” Mahatma Gandhi, Mother Teresa, Nelson Mandela, Martin Luther King, Albert Einstein, Steve Jobs, Bill Gates, atau yang lebih muda Mark Zuckerberg adalah sosok-sosok yang meraih personal brand mengagumkan karena kualitas personal dan capaian-capaian yang mengagumkan. Melalui kontribusi dan capaian-capaian luar biasa itu mereka mampu menghasilkan apa yang saya sebut authentic brand.

Lipstic Branding

Lalu muncullah media massal seperti koran, radio, dan TV. Media ini bersifat satu arah sehingga editingdan rekayasa terhadap sosok yang akan dicitrakan bisa dilakukan secara sewenangwenang. Contoh paling gampang dari lipstic branding adalah para capres dan caleg yang bulan-bulan terakhir sedang getol menjual diri. Dalam lipstic branding orisinalitas dan keotentikan dari si sosok tidak penting lagi. Ada dua rule of the gameyang harus jalankan dalam lipstic branding ini.

Pertama sebanyak mungkinlah keluar di koran, billboard, radio, atau televisi. Kedua, ampelaslah si sosok selicin dan sekinclong mungkin. Si sosok tak perlu merakyat, tak perlu peduli rakyat kecil, dan yang terpenting masih boleh korupsi ratusan triliun. Kenapa? Karena melalui lipstik dan poles sana-sini, citra si sosok bisa disulap menjadi kinclong bersinar.

Di layar kaca ia bisa dicitrakan sebagai sosok yang merakyat (biasanya ditampilkan sedang bersalaman atau bercengkerama dengan petani dan nelayan). Di radio dia bisa dicitrakan sebagai sosok yang penuh empati dan kepedulian. Begitu pun di koran-koran dia bisa dicitrakan sebagai sosok garda depan dalam pemberantasan korupsi.

Famous in 15 Minutes

Lalu bagaimana dengan model pencitraan ketiga: Vickynisasi branding? Kini, ketika Twitter, Instagram, dan YouTube memberi ruang mahabebas bagi siapa pun untuk mendapatkan kemasyhuran instan, lanskap pencitraan berubah 180 derajat. Dulu, ketika media- media tersebut belum hadir, sosoksosok seperti Soekarno atau Mahatma Gandhi sibuk mengukir prestasi dan capaian luar biasa tanpa pernah sempat memikirkan kemasyhuran dan kehebohan.

Di era YouTube dan Instagram semua orang bermimpi dan berjibaku mendapatkan kemasyhuran instan dan kehebohan instan, walaupun tak setitik pun prestasi mereka torehkan. Ketika mereka hopeless tak mampu membangun kualitas personal yang agung maka mereka menciptakan kenyentrikan- kenyentrikan (yang remehtemeh dan tidak berguna) untuk memunculkan kehebohan-kehebohan sesaat. Ketika mereka nihil tak mampu menciptakan prestasi dan kemanfaatan, mereka pun ngasal, ngawur, apa pun dilakukan agar kemasyhuran instan bisa diwujudkan.

Ketika medium-medium untuk narsis seperti YouTube dan Instagram demikian menguasai kehidupan kita, semua cara dihalalkan agar kita bisa masyhur dalam sekejap. Bicara menghalalkan segala cara demi kemasyhuran, saya sekarang jadi takut. Jangan-jangan nanti pejabat publik atau pengusaha sengaja melakukan korupsi agar disorot kamera untuk mendapatkan kemasyhuran sesaat.

Atau jangan-jangan nantinya kian biasa para artis pinggiran sengaja mengunggah video mesumnya di YouTube demi beroleh kemasyhuran dalam sesaat. Di dunia yang kian instan ini keagungan karakter, keutamaan akal sehat, dan kearifan budi pekerti kian raib, terkalahkan oleh iming-iming kehebohan dan ketenaran sesaat. Tanpa kita sadari “kemasyhuran 15 menit”, seperti diungkapkan Andi Warhol 45 tahun lalu, kini betul-betul telah menjadi “agama”. 

YUSWOHADY
Pengamat Bisnis dan Pemasaran Penulis Buku ”Consumer 3000” Blog: www.yuswohady.com
@yuswohady

Popular content