• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Pelayanan Busway Belum Optimal

JAKARTA – Pelayanan operator bus Transjakarta terhadap penumpang masih belum maksimal. Saat ini kondisi bus kurang nyaman, kedatangan bus tidak pasti hingga penumpang harus berdesakdesakan.

Ke depan operator ini akan digenjot untuk meningkatkan pelayanan. Itu dilakukan dengan cara menambah isi poin kerja sama dalam kontrak konsorsium operator dengan Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta. Salah satu poin yang ditambah yakni, bila operator tidak menyertakan busnya uji kelaikan jalan atau KIR, kontrak diputus secara otomatis. ”Kita menginginkan pelayanan bus massal ini terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan perjalanan masyarakat,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kemarin.

Karena bus Transjakarta belum cukup, Pemprov DKI memperpanjang kontrak konsorsium lama. Perpanjangan itu tidak dilakukan dengan mekanisme lelang. Konsorsium lama itu operator trayek bus kota lama yang dihilangkan akibat kehadiran bus Transjakarta. Mereka gabungan dari beberapa pengusaha bus yang sebelumnya beroperasi di trayek tersebut. Konsorsium itu juga dinilai bisa meneruskan kerja sama dengan Pemprov DKI dan kontrak baru, tapi harus dengan harga per kilometer lama.

”Kalau konsorsium operator menggunakan harga per kilometer baru, harus melewati proses lelang,” imbuh mantan Bupati Belitung Timur itu. BLU Transjakarta selama ini bekerja sama dengan operator lama dengan membayar harga per kilometer selama tujuh tahun. Selanjutnya operasional itu akan dilelang lagi oleh BLU Transjakarta. Namun, empat operator lama yang telah terlibat kerja sama selama tujuh tahun itu meminta perpanjangan kontrak tanpa lelang.

Empat perusahaan tersebut adalah PT Trans Batavia, PT Jakarta Trans Metropolitan, PT Jakarta Mega Trans, dan PT Trans Mayapada Busway. Kepala BLU Transjakarta Pargaulan Butar Butar mengatakan, pihaknya melakukan keputusan ini berdasarkan rekomendasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP). Konsorsium operator lama ini bisa memiliki hak untuk langsung diperpanjang kontraknya.

Agar kualitas pelayanan dari operator lama ini tetap terjaga dan meningkat, perusahaan itu harus melakukan perawatan bus di agen tunggal pemegang merek (ATPM) di mana bus itu dibeli. ”Tidak boleh dirawat sendiri di bengkelnya lagi. Kalau di bengkel ATPM, tentu ada standar perawatan yang mengikuti manual book kendaraan tersebut, jadi sekian ribu kilometer ganti oli, tidak boleh terlambat,” ungkapnya.

Pargaulan menambahkan, agar pelayanan bus Transjakarta tidak terganggu, pihaknya juga membuat ketentuan tambahan dalam kontrak dengan konsorsium yakni harus membayarkan gaji kepada pengemudi tepat waktu. Ini karena pembayaran atas operasional bus itu telah ditunaikan BLU Transjakarta. Menurutnya, dalam setiap pembayaran BLU Transjakarta ke operator telah dimasukkan komponen gaji pengemudi dan perawatan kendaraan.

”Kita bisa memberikan teguran keras kepada operator yang menunggakkan gaji pramudinya,” ungkapnya. Operator bus Transjakarta saat ini yakni Jakarta Ekspres Trans (JET) untuk Koridor I (Blok M-Kota), Perum DAMRI untuk Koridor I dan XI, dan Trans Batavia (TB) untuk Koridor II dan III. Kemudian Jakarta Trans Metropolitan (JTM) Koridor IV dan VI, Jakarta Mega Trans (JMT) Koridor VII dan V, serta Trans Mayapada Busway Koridor IX.

Selanjutnya Ekasari Lorena Koridor VII, Primajasa Perdanaraya Utama Koridor IV dan VI, serta Bianglala Metropolitan (BM) untuk Koridor IX, X, dan XII. Tarif per kilometer untuk masing-masing operator ini berkisar Rp6.098-23.790. Perbedaan harga bergantung koridor, kepemilikan bus, dan jenis busnya.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Taufik Hadiawan mengungkapkan, operator yang belum dapat meningkatkan standar pelayanan dan menjaga stabilitas manajemen internal perlu dievaluasi lagi sebab itu dapat mengganggu pelayanan ke penumpang. ”Jangan sampai kualitas bus tidak sesuai atau buruknya manajemen internal operator membuat penumpang telantar,” ucapnya. Dia menyarankan BLU Transjakarta lebih meningkatkan pengawasan ke operator lama. ilham safutra

Popular content