• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Sidang Bansos Kota Bandung - Dada Akui Suap Setyabudi

Mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada dan mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap dana Bansos dengan terdakwa mantan hakim Setyabudi di Pengadilan Tipikor Bandung, kemarin.

BANDUNG – Sidang lanjutan dalam perkara kasus suap mantan Hakim Setyabudi Tedjocahyono kembali digelar di Pengadilan Tipikor Bandung kemarin.

Dalam sidang ini, majelis hakim yang diketuai Nurhakim menghadirkan saksi mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada dan mantan Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi. Berdasarkan pantauan, mantan orang nomor satu di Kota Bandung, Dada Rosada, dan Edi Siswadi mendatangi Pengadilan Tipikor sekitar pukul 09.30 WIB. Keduanya hadirmengenakankemeja putih dibalut rompi bertuliskan “Tahanan KPK”. Sidang lanjutan ini baru dimulai sekitar pukul 10.00.

Selain Dada Rosada dan Edi Siswadi, persidangan juga menghadirkan saksi lainnya, yakni Wawan Setiawan dan Ali Pardoni (mantan Panitera Sekretaris PN Bandung). Dalam kesaksiannya, Dada Rosada mengakui jika para kepala satuan perangkat kerja daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung ikut mengumpulkan uang. Dana itu digunakan untuk uang suap kepada hakim bansos, termasuk mengganti kerugian negara yang mencapai Rp9 miliar.

Dada menyebutkan, permintaan uang yang diinginkan terdakwa berkisar Rp500 juta– Rp1 miliar. Dada juga mengaku pernah memberi uang sebesar Rp20 juta pada Toto untuk keperluan hiburan Setyabudi. “Waktunya lupa, tapi betul saya pernah diminta untuk hiburan Rp20 juta kepada Toto,” ujarnya. Uangyang diberikan kepada Toto berasal dari kantong pribadinya. “Itu uang pribadi saya,” tandas Dada.

Dalam persidangan tersebut, Dada menceritakan perkenalan awal dia dengan Setyabudi Tedjocahyono. Dada mengaku mengenal Setyabudi dari Toto Hutagalung. Dari pertemuan itu, Toto Hutagalung lebih intens berkoordinasi dengan Setyabudi. Bahkan, setiap perkembangan selalu dilaporkan kepada Dada, termasuk segala permintaan uang tunai dan segala macam fasilitas yang diminta Setyabudi.

“Saya tahunya dari Toto segala perkembangan, termasuk Setyabudi sanggup membantu meringankan vonis tujuh terdakwa,” ungkap Dada. Bahkan, untuk mencari dana pengembalian kerugian negara pun, Dada sempat meminjam uang kepada pihak ketiga dan hasil urunan kepala SKPD. Pengembalian kerugian negara pun berdasarkan saran Setyabudi selalu ketua majelis hakim pada kasus itu. “Saya juga bingung uangnya dari mana, pertanggungjawabannya gimana.

Kerugian negara Rp9,4 miliar berdasarkan audit BPKP, yang jelas uang pengembaliannya bukan dari APBD, melainkan dari pinjaman-pinjaman pihak ketiga. Kemudian, Edi Siswadi menyampaikan partisipasi dari kepala SKPD. Selanjutnya, Edi melaporkan sudah membayarkan sepenuhnya kepada kejaksaan,” katanya. Dalam kesaksiannya itu, Dada mengaku sempat mengalami stres dan bingung untuk memenuhi permintaan uang oleh terdakwa mantan Hakim Setyabudi Tedjocahyono.

Permintaan uang itu terkait pengurusan banding perkara dana bantuan sosial Pemkot Bandung 2009–2010. “Toto menyatakan ke saya, selalu mengeluh bilang stres, bingung. Kenapa mengeluh, karena Setyabudi selalu minta itu (uang),” katanya. Mendengar pernyataan tersebut, Hakim Anggota Barita Lumban Gaol bertanya kepada Dada Rosada. “Mengapa Anda harus bingung?

Lalu mengapa juga Toto Hutagalung merasa bingung dan stres? Kandia (Toto) tidak ada kaitannya dengan kasus ini (perkara banding dana bansos),” kata Barita kepada Dada Rosada. “Saya juga bingung,” kata mantan orang nomor satu di Kota Bandung ini menjawab pertanyaan Barita Lumban Gaol. Dada mengaku tidak mengetahui dari mana awalnya inisiatif pengurusan perkara bansos di Pengadilan Negeri Bandung tercetus. Pasalnya, dia hanya mendapat laporan dari Toto Hutagalung yang notabene orang kepercayaannya bahwa Hakim Setyabudi menyatakan bisa membantu proses perkara bansos untuk tujuh terdakwa yang merupakan anak buahnya.

Dia mengaku baru mengetahui jika ketua majelis hakim yang menangani perkara korupsi bansos Pemkot Bandung 2009–2010 yaitu Setyabudi Tejocahyono dari media massa. “Saya pertama kali bertemu Setyabudi dalam sebuah acara, di mana Setyabudi yang merupakan Wakil Ketua PN saat itu hadir mewakili Ketua PN yang berhalangan hadir,” kata dia.

Selain itu, Dada menyatakan, uang suap untuk mantan Hakim Setyabudi Tedjocahyono yang akan digunakan dalam penanganan banding perkara dana bansos Pemkot Bandung hanya diserahkan melalui Toto Hutagalung atau dengan konsep satu pintu. “Pak Setiabudi, kata Pak Toto, minta satu pintu, yakni hanya ke Pak Toto saja uangnya diberikan kalau mau ngasih ke Pak Setiabudi,” kata Dada Rosada kepada Hakim Anggota Barita Lumban Gaol.

Mendengar keterangan mantan wali kota tersebut, Barita kembali menanyakan maksud satu pintu tersebut. “Maksud satu pintu apa? Tolong jelaskan secara rinci oleh Saudara, apakah pintunya satu atau apa?” kata Barita. Pertanyaan Barita kepada Dada Rosada itu sontak disambut oleh gelak tawa pengunjung sidang dan awak media yang meliput persidangan. Menurut Dada, uang suap untuk Setyabudi dalam pengurusan banding perkara dana bansos Pemkot Bandung hanya diserahkan melalui Toto Hutagalung, bukan kepada orang lain.

Hal yang menarik dalam kesaksian Dada Rosada kemarin adalah dibeberkannya beberapa sandi atau kode dalam perkara suap terdakwa mantan Hakim Setyabudi Tedjocahyono cs. Sandi-sandi tersebut terungkap saat tim jaksa penuntut umum (JPU) dari KPK memutar percakapan sambungan telepon antara saksi mantan Wali Kota Bandung dan terdakwa Toto Hutagalung dalam pengurusan banding perkara korupsi dana bansos Pemkot Bandung.

Dalam percakapan Toto Hutagalung kepada Dada Rosada terungkap sandi “komandan nekat”, “komandan-komandan” “lurah”, “buku”, “meter” “ijazah tak keluar kalau tak ada buku”, dan “cantik”. Kode/sandi “komandan nekat” merupakan sebutan Toto Hutagalung untuk Setyabudi kepada Dada Rosada. Kode/sandi “lurah” dalam percakapan Toto Hutagalung dan Dada Rosada adalah merujuk kepada Sareh Wiyono (mantan Kepala Pengadilan Tinggi Jawa Barat).

Sidang mendengarkan kesaksian dari Dada Rosada ini baru rampung sekitar pukul 16.00. Sementara, persidangan dilanjutkan pada kesaksian Edi Siswadi hingga malam. Disinggung mengenai pengumpulan dana untuk ganti rugi dan lainlain, Edi mengaku berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp4,75 miliar dari para kepala SKPD.

Kerugian negara dari kasus bansos mencapai Rp9,8 miliar. Selain itu, dalam persidangan terungkap adanya bukti berupa tulisan tangan Dada Rosada. Tulisan tersebut merupakan pernyataan ketujuh terpidana kasus bansos untuk tidak melibatkan wali kota, wakil wali kota, dan sekretaris daerah dalam perkara tersebut. yugi prasetyo        



Popular content