• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Pemerkosaan - Delapan Polisi Gorontalo Diduga Perkosa Anak di Bawah Umur

GORONTALO – Citra institusi Polri kembali tercoreng. Delapan anggota polisi dari salah satu polsek di Gorontalo diduga memperkosa anak di bawah umur. Aksi pemerkosaan terhadap anak yang masih berseragam sekolah menengah atas itu terjadi berulang kali, termasuk di kantor polsek.

Tindakan bejat tersebut terungkap setelah korban, sebut saja Bunga, 16, sempat kabur beberapa hari dari rumahnya karena trauma. Setelah didesak keluarga, siswi salah satu SMA di Gorontalo tersebut akhirnya bercerita tentang aksi para polisi yang memperkosanya sejak Juli lalu. Kepada keluarga, korban mengaku sempat diancam akan ditembak jika melaporkan perbuatan para pelaku.

Saat ini, korban masih dirawat di salah satu rumah sakit di Gorontalo karena kondisi tubuh yang memburuk dan trauma. Orangtua korban yang tidak terima kemudian melaporkan dugaanpemerkosaantersebutke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Gorontalo. Kedua orangtua korban yang menjalani pemeriksaan dari penyidik membawa barang bukti seragam sekolah korban yang dipakai saat korban pemerkosaan.

Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo, AKBP Lisma Dunggio membenarkan laporan tersebut, yang masuk ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Mapolda Gorontalo. Lisma mengatakan, penyidik masih sementara melakukan tahap pemeriksaan saksi-saksi, sehingga belum bisa menyebutkan oknum anggota-anggota polisi tersebut. Terpisah, Ketua Kaukus Hak Asasi Manusia Parlemen ASEAN (APHR) Eva Kusuma Sundari menyatakan, pelaku seharusnya mendapat hukuman seberat-beratnya.

Dia mendesak lembaga peradilan menghukum seumur hidup delapan oknum anggota Polda Gorontalo tersebut jika terbukti memerkosa anak di bawah umur. “Pemerkosaan berkelompok (gang rape) oleh para polisi terhadap korban yang masih berusia di bawah umur tersebut merupakan tindakan seperti binatang, brutal, tidak bisa diterima oleh akal sehat,” katanya melalui surat elektroniknya, kemarin.

Eva yang juga Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI mendesak Polda Gorontalo untuk menindaklanjuti laporan orangtua korban secara serius dengan mengusut anggotanya yang terlibat. Dia mencontohkan penanganan kasus pemerkosaan di India yang dihukum mati karena melakukan kejahatan seksual kepada anak bawah umur dan melakukan pemerkosaan berulang.

Eva berharap pendakwaan, penuntutan, dan pemutusan hukumannya maksimal (seumur hidup) terhadap para pelaku mengingat mereka seharusnya yang menangkapi penjahat, bukan justru menjadi penjahat “sexual predator” anakanak. “Kapolri harus merespons krisis integritas dijajarannya, terutama terhadap fakta-fakta bahwa para aparat kepolisian justru pelaku kejahatan seksual. Bukan tidak mungkin, ini juga terjadi di daerah lainnya di Indonesia,” katanya.

Perkosaan Berulang

Kepada penyidik Polda Gorontalo, orangtua korban mengaku jika aksi pemerkosaan ternyata dilakukan sejak Juli lalu. Awalnya, Bunga dijemput seseorang anggota polisi seusai pulang sekolah dan membawa ke rumahnya. Di rumah anggota Polisi tersebut korban yang masih berusia 16 tahun tersebut diperkosa dan dipaksa melayani delapan rekan anggota polisi. Aksi ini kembali terulang 1 Oktober oleh satu anggota polisi dan diperkosa di markas polsek. Korban mengaku, dari sejumlah anggota polisi yang memerkosanya, dia hanya mengingat dua nama. ● ant

Popular content