• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Ngutang

Budaya konsumtif dan budaya berutang adalah dua “penyakit” yang kini kian akut menjangkiti konsumen kelas menengah kita. Keduanya bak percik-percik api dan bulirbulir cairan bensin yang bisa menyulut kebakaran hebat saat bertemu.

Klop betul. Tak hanya itu, keduanya juga seperti layaknya virus flu burung yang menjalar begitu cepat dari satu orang ke orang lain secara masif. Semuanya diawali saat daya beli kelas menengah kita meningkat pesat. Ketika daya meningkat, hasrat untuk mengumbar nafsu konsumsi meroket: memborong barang diskon, membeli gadget, makan enak di mal, liburan ke Singapura hingga memanjakan badan di spa.

Celakanya konsumsi yang membara itu dibiayai dengan utang. Bisa karena memang tak punya duit atau punya duit, tapi telanjur kecanduan berutang. So, the show must go on. Lantas, gampang ditebak, senjata pemungkasnya adalah kartu kredit atau layanan kredit konsumsi. Pokoknya main hantam kromo: beli dulu, bayarnya belakangan.

Itulah kesan umum yang saya tangkap dari survei yang saya lakukan bersama tim di CMCS (Center for Middle- Class Consumer Studies) beberapa waktu lalu. Survei ini dilakukan di 6 kota utama Tanah Air (Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Medan, Makassar) dengan jumlah total responden konsumen kelas menengah sebanyak 1.532 orang. Survei ini dituangkan dalam sebuah laporan berjudul: Indonesia Middle Class Banking Consumer Report: “Getting Cashless and Mobile”.

Buy Now, Pay Later

Ketika saya menanyakan kepada responden apakah membeli produk dengan cara berutang dan mencicil itu baik atau buruk, jawaban yang saya dapat sungguh mencengangkan. Sekitar 77% dari total responden mengatakan baik, 10% baik sekali, dan 2% sangat baik sekali. Jadi total jenderal 89% dari mereka mengatakan bahwa berutang/mencicil itu baik hingga sangat baik sekali. Hanya minoritas (sekitar 10%) dari mereka yang mengatakan bahwa berutang/ mencicil itu buruk.

Wow!!! Kegandrungan konsumen kelas menengah kita dalam berutang juga tecermin dari kepemilikan atas produkproduk perbankan saat ini. Seperti tampak pada bagan, kepemilikan atas layanan kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kartu kredit menempati posisi kedua dan ketiga setelah produk tabungan. Angkanya pun cukup besar, yaitu masing-masing 56% dan 41% dari seluruh responden. Walaupun berada di posisi kelima, kepemilikan atas kredit kepemilikan rumah (KPR) juga cukup besar sekitar 28%.

Yang menarik adalah kalau secara khusus kita lihat, produk apa saja yang paling banyak mereka beli dengan menggunakan kartu kredit. Di urutan pertama adalah produk-produk rumah tangga seperti kulkas atau AC (lebih dari 32%), lalu diikuti perangkat elektronik seperti TV, HiFi, atau home theatre (23%), furnitur (11%), baru kemudian disusul smartphone dan notebook. Melihat komposisi ini, tersirat bahwa ibu sebagai “menteri keuangan” di dalam keluarga menempati posisi dominan sebagai pemegang keputusan pembelian.

Kelonggaran Finansial

Kalau konsumen kelas menengah kita sudah kerasukan penyakit ngutang semacam ini, pertanyaannya kemudian adalah: positifkah ini? Tergantung. Bisa positif, bisa negatif. Positif kalau kita bisa mengelolanya dengan baik. Negatif jika kita salah urus dalam mengatur keuangan di tengah risiko gagal bayar alias default. Konsumen yang sudah kecanduan ngutang umumnya selalu merasakan adanya “kelonggaran finansial” berkat adanya fasilitas kredit konsumsi yang selama ini mereka nikmati.

Mereka akan selalu memiliki perasaan (baca: obsesi) bahwa duit akan selalu tersedia untuk memenuhi dan melepaskan nafsu konsumsi yang selalu tak kuasa mereka tahan. Perasaan kelonggaran inilah yang menjadi biang tumbuh suburnya perilaku konsumtif yang terus berpusar kian dalam. Ketika kekonsumtifan ini menjadijadi hingga ke suatu titik di mana kemampuan keuangan mereka sudah tidak mampu lagi menopangnya, bahaya default menganga di depan mata.

Namun, celakanya, perasaan kelonggaran finansial di atas sering kali membutakan mata mereka akan biaya default tersebut. Akibatnya, default pun tak terhindarkan lagi. Pertumbuhan pesat kelompok konsumen kelas menengah di Brasil misalnya serta-merta diikuti dengan maraknya gaya hidup konsumtif yang difasilitasi oleh kredit konsumsi dari bank. Hal inilah yang kemudian memicu maraknya konsumen kelas menengah di negara tersebut yang terjebak default.

Ituskenarioburuknya. Kalausikonsumen mampu mengelola utangnya dengan baik dengan terus menyelaraskan laju konsumsi sesuai dengan kemampuankeuanganyangdimiliki, haltersebut tentu akan baik-baik saja. Perlu diingat, Indonesia adalah consumption-driveneconomydi mana konsumsi masyarakat memegang peran sangat signifikan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi kita.

Saya sering mengatakan bahwa salah satu ciri konsumen kelas menengah kita adalah knowledgeable, berpengetahuan, berwawasan, dan melek informasi. Nah, kabar gembira ditunjukkan hasil riset saya yang lain. Ketika ditanya apakah mereka memiliki perencanaan keuangan (financial planning) dalam mengelola keuangan? Jawabannya tak kalah mencengangkan, 86% responden mengatakan “ya”. 

YUSWOHADY
Pengamat Bisnis dan
Pemasaran Penulis Buku
”Consumer 3000”
Blog: www.yuswohady.com
@yuswohady        

Popular content