• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Pertumbuhan Kredit Korporasi Diperkirakan Melambat

JAKARTA – Pertumbuhan kredit di segmen korporasi tahun depan diperkirakan melambat. Penyebabnya adalah pelaku industri akan lebih banyak menunggu (wait and see) terkait pelaksanaan pemilihan umum (pemilu).

“Tahun ini permintaan kredit korporasi masih bagus, tapi tahun depan mungkin enggak akan sebanyak tahun ini karena pemilu,” kata Head of Corporate and Investment Banking Citibank Indonesia Kunardy Lie di Jakarta kemarin. Menurut Kunardy, penyaluran kredit tahun depan akan lebih banyak dilakukan pada kuartal pertama dan ketika pemilu selesai. Sementara, tahun ini permintaan kredit korporasi masih bagus.

Hingga akhir tahun perseroan masih akan kembali menyalurkan kredit korporasi bersama-sama dengan bank lain atau secara sindikasi kepada sejumlah perusahaan lokal. Kunardy menilai, persaingan di segmen korporasi cukup ketat. Banyak bank yang bermain di segmen korporasi, sementara tidak banyak transaksi yang terjadi. Meski begitu, perbankan tetap akan berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya.

Corporate and Investment Banking Director Rabobank International Eri Budiono juga memproyeksikan kredit korporasi tahun depan melambat. “Ya, kebanyakan akan slowdown (tahun depan). Banyak perusahaan akan menunda atau kalaupun ada dikebut sekarang,” kata dia. Terpisah, Direktur Korporasi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Dahlia M Ariotedjo menilai permintaan kredit korporasi untuk tahun depan akan tetap ada.

Perseroan mengincar pertumbuhan kredit korporasi 15% hingga17% tahun depan.“Biasanya kalau dekat pemilu kredit lokal yang diincar,” kata dia. Dahlia mengungkapkan, permintaan kredit korporasi tahun depan masih disokong oleh permintaan kredit investasi. Kenaikan kredit terbesar ada di industri bahan kimia dan plastik, infrastruktur terutama jalan tol, energi dan pembangkit listrik, serta automotif.

Sementara, sektor lain yang berpotensi adalah makanan dan properti. Pengamat perbankan Paul Sutaryono menilai, kredit investasi tahun ini masih cukup tinggi di sektor atau lapangan usaha perdagangan dan industri pengolahan, diikuti sektor konstruksi dan pertambangan.

Sebaliknya, kredit sektor properti menipis. Tren tersebut masih akan bertahan hingga kuartal pertama tahun depan. ● ria martati

Popular content