• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

TPA Kopiluhur di Ambang Batas

CIREBON – Kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Kopiluhur yang menampung sampah se-Kota Cirebon sudah dalam ambang batas maksimal.

”TPA Kopiluhur hanya bisa bertahan hingga dua tahun lagi, sementara di lokasi lain tak ada lahan lagi,” ungkap Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Cirebon, Sumanto. Jika dalam dua tahun tak ada solusi pengelolaan sampah atau lokasi pengganti TPA Kopiluhur, dipastikan Kota Cirebon bakal menghadapi persoalan sampah yang serius. Berbeda dengan kawasan perkampungan, lanjut dia, di mana rata-rata rumah penduduknya memiliki lahan cukup untuk mengelola sampah sendiri.

Dia menyebutkan, setiap hari volume sampah Kota Cirebon mencapai 700 meter kubik. Volume sampah setiap tahun diakui dia, cenderung meningkat. Menurut dia, idealnya sampah memang sudah seharusnya mulai dikelola sejak dari rumah tangga. Setidaknya, sejak di tingkat rumah tangga antara sampah organik dan anorganik telah dipisahkan. Sampah organik sendiri bisa dibuat kompos, sedangkan sampah anorganik bisa dikumpulkan untuk didaur ulang.

”Sayangnya, tingkat kesadaran warga berbeda-beda,” ujar dia. Dia pun berharap, Pemkot Cirebon bisa membuat Perda yang secara spesifik mengatur soal kewajiban warga untuk mengelola sampah. Selama ini belum ada payung hukum yang mengikat terkait pengelolaan sampah sehingga pihaknya kesulitan meminta warga mengatur sampah yang dihasilkannya sendiri. Sayang, harapan tersebut tak banyak diapresiasi Wali Kota Cirebon Ano Sutrisno yang lebih memilih peraturan wali kota (perwali).

Perwali inilah yang menjadi payung hukum untuk mewajibkan warga Kota Cirebon mengelola sampahnya. ”Saya kira perwali sudah cukup untuk mengatur soal pengelolaan sampah di wilayah rumah tangga,” ungkap dia. Dia hanya meminta instansi terkait lebih menggiatkan pelatihan pengolahan sampah. Menurut dia, sejumlah institusi dan RW di Kota Cirebon telah mengelola sampah di wilayahnya masing-masing dengan benar.

Sementara terkait pengganti TPA Kopiluhur, dia menyatakan saat ini memang tengah dibahas rencana TPA regional di wilayah Cirebon yang dapat digunakan daerah lain secara bersama. Bukan hanya menampung, sampah di TPA regional ini juga rencananya dikelola. ”Masih disurvey lokasinya, kami belum tahu pasti kapan pembahasannya selesai,” tandas dia. ● erika lia

Popular content