Laporan Amnesti Internasional - TKW Indonesia Hadapi Perbudakan di Hong Kong

HONG KONG — Amnesti Internasional kemarin mengecam kondisi mirip perbudakan yang dihadapi para tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Hong Kong.

Kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) berbasis Inggris itu menuding aparat berwenang tidak melakukan apa-apa untuk mencegah kondisi itu. Kecaman itu muncul dalam sebuah laporan bertajuk Exploited for Profit, Failed by Governmentsyang muncul hanya beberapa pekan setelah sepasang suami istri (pasutri) di Daerah Otonomi Khusus China itu dipenjara karena menganiaya PRT-nya asal Indonesia.

Pasutri itu tanpa ampun menyetrika PRT malang itu dan memukulinya dengan rantai sepeda. Menurut Amnesti, para TKW asal Indonesia dieksploitasi oleh perusahaan penyalur tenaga kerja (PJTKI) yang menyita dokumen mereka dan membebani biaya besar terhadap para TKW itu serta memberikan janji palsu berupa gaji tinggi dan kondisi kerja yang baik.

“Dari ketika para wanita itu ditipu untuk mendaftar kerja di Hong Kong, mereka terjebak dalam lingkaran eksploitasi dengan kasus yang berujung pada perbudakan era modern,” papar periset HAM Migrant Asia- Pasifik di Amnesti, Norma Kang Muico, yang dikutip AFP. Laporan itu menuding Indonesia dan Hong Kong tidak melakukan tindakan apapun.

“ Aparat berwenang bisa merujuk pada undang-undang (UU) nasional yang seharusnya melindungi para wanita ini. Tapi, undangundang seperti itu jarang diberlakukan,” ujar Muico. Saat ini hampir 300.000 PRT migran, terutama dari Indonesia dan Filipina, bekerja di Hong Kong dengan terus meningkatnya kritik dari kelompok HAM atas perlakuan terhadap mereka.

Laporan Amnesti itu menyebutkan, sepertiga responden yang mereka wawancarai pernah mengalami pelecehan fisik dan psikis. “Si istri sering menyiksa saya secara fisik. Suatu kali dia bahkan pernah menyuruh dua ekor anjing peliharaannya menggigit saya. Ada sekitar 10 gigitan di tubuh saya, yang membuat kulit saya terkelupas dan mengeluarkan darah. Dia merekamnya dengan telepon selulernya. Dia sering memutar video itu dan tertawatawa saat melihatnya,” papar seorang TKW, 26, asal Jakarta.

Penemuan ini didasarkan pada wawancara terhadap 97 PRT asal Indonesia dan didukung survei terhadap hampir 1.0000 wanita oleh Serikat Pekerja Migran Indonesia. Amnesti juga menyatakan, PJTKI di Indonesia yang berlisensi pemerintah sering berbohong soal gaji dan biaya kepada para wanita itu. alvin

Popular content