• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Pejabat Disdikpora Soppeng Tersangka

WATANSOPPENG– Kejaksaan Negeri (Kejari) Soppeng menetapkan Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Soppeng Hunting sebagai tersangka kemarin.

Hunting ditetapkan sebagai tersangka karena diduga ikut terlibat kasus dugaan korupsi dana pendidikan gratis. Dalam kasus ini negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp1,6 miliar. “Pak Hunting ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai pejabat pembuat komitmen (PPTK) dalam proyek tersebut,” kata Kasi Intel Kejari Soppeng Andi Taufik di Watansoppeng.

Dia mengatakan, kemarin tim penyidik melakukan pemberkasan terhadap Hunting. Kendati sudah berstatus sebagai tersangka, namun Kejari Soppeng belum menahan Hunting. “Penahanan belum dilakukan, mungkin waktu dekat baru dilakukan tindakan penahanan,” katanya.

Diketahui, terkait kasus ini, Kejari Soppeng beberapa bulan yang lalu menetapkan Wiwik Angraini (staf manajemen Pendidikan Dasar Disdikpora Soppeng) sebagai tersangka. Menurut Andi Taufik, Wiwik saat ini sudah menjalani proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi( Tipikor) Makassar. “Saat ini agenda persidangan mendengarkan keterangan saksi,” katanya.

Andi Taufik mengatakan, dalam kasus ini tersangka lain bisa saja bertambah. “Bisa ada tersangka lain, tapi itu bisa terungkap dalam fakta persidangan,” katanya. Badan Ahli Gerakan Anti Korupsi Indonesia Kabupaten Soppeng Andi Agus Wittiri mendesak Kejari Soppeng agar terus menyidiki terhadap kasus ini. Agus Wittiri juga mengingatkan agar penyidik Kejari Soppeng tidak menghentikan penyidikan kasusnya hanya pada penetapan tersangka Hunting.

Sebab, kata dia, masih ada aktor intelektual di kasus dana pendidikan gratis ini. “Tidak mungkin Wiwik yang hanya seorang honorer melakukan pekerjaan tersebut melebihi wewenangnya. Jadi intinya jangan berhenti hanya pada Pak Hunting. Karena aliran dana tersebut bisa saja mengalir ke pejabat lain,” katanya.

Seperti diberitakan KORAN SINDOsebelumnya, berdasarkan LHP BPK 16.C/LHP/XIX. MKS/04/2013, tahun anggaran 2012 ada keganjilan. Di mana pengendalian dan pertanggungjawaban belanja pendidikan gratis pada Disdikpora sebesar Rp23,319 miliar tidak memadai dan tidak melalui proses verifikasi. Selain itu, BPK menemukan dana Rp1,247 miliar digunakan untuk kepentingan pribadi.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh Kejari Soppeng, dana yang digunakan untuk kepentingan pribadi tersebut sekitar Rp1,6 miliar. Ada indikasi terjadi kerugian negara Rp1,2 miliar berdasar temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tersebut, menguatkan dugaan ada mark up dalam pengelolaan dana pendidikan gratis yang dilakukan oknum tenaga honorer di instansi Disdikpora Soppeng.

Hal ini bermula setelah beberapa sekolah penerima dana pendidikan gratis dimintai data oleh BPK. Pada saat pemeriksaan itulah ditemukan indikasi terjadi mark updata yang dilakukan oknum honorer tersebut, yang selama ini dipercayakan sebagai operator data pada program pendidikan gratis. Dugaan semakin kuat setelah ditemukan pada rekening milik Wiwik Angraini berisi tabungan yang nilainya ratusan juta rupiah. jumardi nurdin

Popular content