• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi - Membangun Purwakarta Berkarakter

Dedi Mulyadi memimpin Kabupaten Purwakarta untuk kedua kalinya yakni 2008-2013 dan 2013–2018. Berbagai upaya telah dilakukan guna mewujudkan cita-citanya, yakni Purwakarta Berkarakter. Berikut petikan wawancara dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi serta rencana yang hendak dicapai Kabupaten Purwakarta ke depan.

Sepanjang 2013, terdapat pekerjaan yang belum selesai. Persoalan apa yang belum selesai dan menjadi pekerjaan rumah pada 2014?

Hal-hal berkaitan dengan pembangunan yang berhubungan erat dengan pelayanan dasar di Purwakarta sebenarnya hampir selesai, meski anggaran yang dimiliki relatif cukup terbatas. Seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintahan, misalnya pembangunan infrastruktur, tinggal menyisakan sekitar 5%. Kemudian, jaringan listrik perdesaan juga sama sekitar 5%. Untuk pelayanan kesehatan sudah seluruhnya selesai, jaminan pendidikan lebih dulu kita selesaikan. Tinggal penataan sekolah swasta pada tahun depan. Begitu pula jaminan pelayanan kependudukan jauh-jauh hari dirampungkan. Sebenarnya hal-hal yang sifatnya mendasar sudah hampir 100% dituntaskan.

Jika semuanya sudah selesai, apa yang akan dikerjakan tahun depan?

Selesainya pekerjaan pada tahun ini bukan berarti berhenti bekerja dan berhenti melayani masyarakat. Pelayanan dan pembangunan harus terus ditingkatkan, hanya kita lebih mengedepankan aspek kepuasan masyarakat. Hal itu menjadi orientasi ke depan. Tidak lagi memfokuskan pelayanan dasar. Pelayanan dasar cukup diselesaikan pada tahun pertama periode kedua saya menjadi bupati. Jadi, waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Selesainya pelayanan dasar di Purwakarta boleh dicek ke lapangan, misalnya untuk kesehatan dan pendidikan telah digratiskan. Begitu juga jalanjalan sudah di-hotmixsemua, termasuk akses ke daerah terjauh, seperti Maniis dan Sukasari.

Untuk pembangunan infrastruktur di Kecamatan Sukasari, seperti apa strateginya? Lalu, terobosan apa yang akan dilakukan karena wilayah ini cukup tertinggal?

Kecamatan Sukasari merupakan wilayah yang memiliki potensi besar. Hanya, infrastruktur di kecamatan itu masih terbatas, terutama akses. Namun, sejak lima tahun terakhir terdapat perkembangan pembangunan yang cukup pesat. Akses dari Jatiluhur ke Kecamatan Sukasari sudah mulus dengan konstruksi beton. Sengaja kami buat beton karena kontur tanahnya labil. Kalau langsung di-hotmix, akan cepat rusak. Dengan bagusnya akses ke wilayah itu, aktivitas perekonomian warga menjadi ikut meningkat. Terlebih, Kecamatan Sukasari menjadi salah satu sentra tanaman bambu. Begitu juga terobosan tahun depan, kami akan buka akses antara Sukasari ke Jonggol, Kabupaten Bogor. Anggaran yang dialokasikan senilai Rp500 miliar. Sempat terjadi penundaan, tetapi itu karena adanya pemilihan lokasi baru. Akses yang menghubungkan Sukasari–Jonggol akan membuat kecamatan ini lebih maju lagi. Sejak awal, pemkab mencanangkan tahun depan dibangun 10.000 unit rumah bagi keluarga tidak mampu.

Tidak adanya pekerjaan yang fokus pada pelayanan dasar, kemudian lebih menggenjot kepuasan masyarakat, apakah ini sudah cukup?

Tentu saja tidak, sebab kepuasan yang dimaksud haruslah melekat semua bidang. Yaitu tadi, membangun kepuasan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik. Ketika masyarakat telah terpuaskan, pada hakikatnya di situlah hadir peran negara kepada masyarakatnya. Negara tidak sebatas memenuhi kebutuhan dasar tadi, tetapi harus memberikan kepuasan kepada masyarakatnya.

Apa yang menjadi tolok ukur kepuasan?

Nanti ada survei yang bekerja sama dengan lembaga profesional. Lembaga itu memiliki kualifikasi dan kompetensi di bidang itu. Artinya sangatlah sederhana menilai tingkat kepuasan. Kita akan melakukan itu demi memuaskan masyarakat. Jadi perhatian kita kepada masyarakat akan terus dilakukan, tidak lantas berhenti begitu mereka terpuaskan dengan apa yang kita perbuat. Untuk mengukur keberhasilan peningkatan pelayanan kesehatan adalah semakin sedikit orang berobat ke rumah sakit atau puskesmas. Berarti mereka sudah sangat sehat.

Apa yang menjadi kendala selama memimpin Purwakarta, terutama pada tahun ini?

Kendala yang paling urgen adalah masyarakatnya. Masyarakat belum terbiasa dengan ritme daerah yang sedang dibangun, yakni mulai menanamkan komitmen disiplin. Fasilitas publik yang dibuat sekadar digunakan, tetapi minim semangat memeliharanya, misalnya fasilitas taman, penerangan, jalan, dan pendidikan. Sebesar apa pun anggaran dikucurkan atau sekokoh apa pun sarana dan prasarana dibuat, jika tidak dipelihara bersama-sama, tidak akan berumur panjang.

Bagaimana mengatasi kendala lain di luar kesadaran masyarakat dalam memelihara yang sudah dibangun?

Kita sudah punya pusat pelayanan informasi masyarakat. Saya punya SMS Centre. Dari situ kita bisa menampung berbagai keluh kesah yang dianggap sebagai halangan atau kendala terciptanya kepuasan publik maupun layanan publik. Setiap hari banyak masyarakat yang menggunakan pesan pendek itu, sehingga tidak ada lagi kemandekan informasi oleh struktur birokrasi. Adanya pesan pendek yang langsung saya terima menjadikan lalu lintas informasi berlangsung cepat. Hal itu menjadikan respons terhadap keluhan bisa cepat dilakukan tanpa sekat-sekat birokrasi.

Untuk kebijakan anggaran seperti apa terobosan atau strategi yang akan diterapkan tahun depan?

Kami terus menyusun format anggaran agar tercipta sebuah komposisi anggaran ideal. Untuk mewujudkan itu, tahun ini komposisinya sudah 50% belanja langsung dan 50% lagi belanja pegawai. Pada 2014, belanja pegawai ditekan agar terjadi pergeseran angka hingga 40%. Belanja langsung sekitar 60% makin memudahkan untuk pembenahan infrastruktur dan peningkatan pelayanan masyarakat. Dengan demikian, tahun 2016 tidak mustahil komposisi anggaran belanja langsung menjadi 70%. Peluang seperti itu sangatlah besar seiring menurunnya jumlah pegawai.

Apa yang menjadi filosofi pembangunan Purwakarta?

Kita tetap berpijak pada pembangunan berkarakter. Purwakarta berkarakter yaitu sebuah persenyawaan pembangunan dengan alam. Pembangunan yang dilakukan tetap memerhatikan unsurunsur tanah, angin, api, dan udara. Persenyawaan itu sudah banyak dicontohkan oleh orang tua kita, sehingga karakter tersebut melekat dengan sendirinya melahirkan jati diri sebuah identitas. Saya mendorong Purwakarta memiliki identitas, dari mulai identitas simbol-simbol pembangunan, pagar, gapura gedung, hingga identitas manusia.

Untuk pribadi, apa yang menjadi filosofi Anda?

Sangat sederhana, yakni berpikir cermat dan bertindak tepat. Sedangkan, dalam menjalani roda kehidupan, saya berpegang pada bekerja tanpa berpikir hasil.

Seandainya tidak menjabat bupati, apa yang Anda lakukan?

Paling bertani, bersawah, atau bercocok tanam. Bisa juga beternak sapi, ikan, ayam, pokoknya hal-hal yang berbau pertanian, karena karier saya berangkat dari keluarga petani. Di samping itu, lapangan politik atau karier politik masih luas. Banyak pilihan lain untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. asep supiandi

Popular content