• Badai Petir

    Jakarta

    Badai Petir
    32 °C

  • Badai Petir

    Bandung

    Badai Petir
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Yogyakarta

    Mendung Sebagian
    29 °C

  • Mendung Sebagian

    Surabaya

    Mendung Sebagian
    33 °C

  • Mendung Sebagian

    Makassar

    Mendung Sebagian
    35 °C

  • Badai Petir

    Padang

    Badai Petir
    29 °C

Gempa Kebumen Guncang Jawa

Warga melintasi masjid Jami At-Taqwa yang roboh akibat gempa berkekuatan 6,2 SR di Desa Kranggan, Pekuncan, Banyumas, Jateng, kemarin. Informasi sementara yang diperoleh pasca terjadinya bencana gempa tersebut mengakibatkan sebuah masjid dan puluhan rumah ambruk.

YOGYAKARTA– Gempa bumi mengguncang sejumlah kawasan Jawa Tengah, Yogyakarta, dan beberapa tempat lain di sepanjang pantai selatan Jawa kemarin siang. Gempa berkekuatan 6,2 SR tersebut dilaporkan merusak dan merobohkan ratusan bangunan di sejumlah daerah.

Walaupun getaran cukup keras, gempa tidak sampai memicu terjadinya tsunami. Gempa berintensitas VI MMI (kuat) yang diikuti lima gempa susulan membuat kalang kabut masyarakat di daerah yang dekat dengan pusat gempa seperti Kebumen, Cilacap, Banyumas, Purworejo, Yogyakarta, Solo, Klaten, Sragen, Magelang hingga Semarang. Getaran gempa bahkan dilaporkan terasa di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kepala Pusat Gempa dan TsunamiBadanMeteorologiKlimatologi dan Geofisika (BMKG) Suharjonomengungkapkan, posisi gempa diketahui berada di 104 km barat daya Kebumen atau sebelah selatan Cilacap pada kedalaman 80 km dari permukaan laut. Berdasar data USGS, pusat gempa yang terjadi pukul 12.14 WIB itu berada pada bagian dalam lempeng Eurasia di luar zona subduksi lempeng Eurasia. “Jadi posisinya memang di Laut Kebumen atau sebelah selatan Cilacap, Jawa Tengah,” ucap Suharjono kepada KORAN SINDO kemarin.

Suharjono menyatakan gempa tidak menimbulkan tsunami karena kekuatannya yang masih berada di bawah 7 SR dan hanya terjadi selama satu kali. Kendati demikian, guncangan dirasakan hingga di wilayah selatan Jawa Timur dan Jawa Barat. Menurut dia, luasnya dampak gempa karena dalamnya pusat gempa. “Data awal yang kami catat berada di kedalaman 45 km, tetapi setelah kami selidiki ternyata hingga 80 km. Dengan separasi guncangannya yang cukup luas, itu berarti mengindikasikan sumber gempanya tidak dangkal,” terangnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, gempa mengakibatkan kerusakan bangunan di wilayah paling terdampak gempa. Namun hingga tadi malam, BNPB belum melaporkan adanya korban jiwa. “Petugas BPBD di daerah-daerah masih melakukan pendataan,” katanya. Dari pantauan KORAN SINDO di sejumlah daerah, dampak gempa paling parah terjadi Banyumas, Cilacap, dan Bantul.

Di Banyumas, sedikitnya 93 rumah mengalami kerusakan. “Berdasarkan pantauan kami, gempa tersebut mengakibatkan kerusakan rumah warga dan bangunan di Kecamatan Pekuncen dan Karanglewas,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Banyumas Ahmad Suryanto di Banyumas. Dari Cilacap dilaporkan sedikitnya 21 rumah mengalami kerusakan. Rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan tersebar di Kecamatan Adipala, yakni sebanyak 16 unit terdiri 13 rumah rusak ringan dan 3 rumah rusak berat.

Adapun di Kecamatan Bantarsari terdapat 2 rumah rusak serta di Kecamatan Maos, Kesugihan, dan Majenang masing-masing 1 rumah rusak. “Kami terus mendata kemungkinan masih adanya rumah yang rusak akibat gempa tersebut, termasuk melakukan verifikasi terhadap tingkat kerusakannya,” papar Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Supriyanto di Cilacap kemarin. Salah seorang warga Desa Adiraja RT 03 RW 05, Kecamatan Adipala, Setraseja, 81, mengatakan bahwa rumahnya rusak berat. Karena itu dia terpaksa mengungsi ke rumah saudara.

“Bagian dapur roboh, sedangkan tembok rumah bagian depan retak-retak. Rencananya besok akan dirobohkan saja karena khawatir ambruk,” katanya. Di Bantul, 8 rumah di Kecamatan Kretek dan 3 di Kecamatan Sanden rusak. Salah satu rumah yang rusak adalah milik Wardani, 44. Rumah warga Kalangan, Kretek, ini roboh tembok dapurnya. Menurut Wardani, gempa kali ini terasa lebih besar dibandingkan dengan gempa bumi 2006 silam. Ia sendiri dua kali merasakan guncangan. Guncangan yang kedua langsung merobohkan dapur yang berukuran 9 x 4 meter.

“Kaget saya, sampai ngoplok,” kata Wardani. Adapun di Yogyakarta, gempa sempat menimbulkan kepanikan warga. Mereka berhamburan ke luar rumah dan gedung. Sejumlah rumah juga dilaporkan ambruk. Di Rumah Makan Mbak Atun yang berada di bilangan Jalan Purwanggan, Pakualaman, misalnya, para pengunjung yang sedang menikmati makan siang di warung tersebut berhamburan keluar. Bahkan sejumlah mobil yang diparkir di pinggir jalan di depan rumah makan tersebut ikut bergoyang beberapa detik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat sejauh ini ada laporan satu rumah di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY ambruk akibat gempa tersebut. Namun, gempa tidak sampai menimbulkan korban luka atau meninggal dunia. “Itu laporan dari relawan. Semoga tidak ada laporan lagi (kerusakan bangunan),” ujar Kepala BPBD DIY Gatot Saptadi. Adapun di Jawa Barat, guncangan gempa terasa di beberapa daerah, termasuk Bandung, Sumedang, dan Cirebon.

Di Bandung guncangan terasa cukup keras. “Saya lagi ngajar di kelas, tiba-tiba saja terasa getaran lumayan kuat. Murid-murid saya juga merasakan gempa itu,” kata salah seorang warga Kabupaten Bandung Vicky Zulfikar. Laki-laki yang berprofesi sebagai guru di SMP Yapi Al-Husaeni, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung itu mengatakan dirinya langsung menyuruh puluhan muridnya untuk keluar dari ruang kelas. Warga lainnya, Angga Adithya, menuturkan getaran gempa terasa saat dirinya berada di Jalan Kopo Bandung.

“Saya mau ke acara nikahan teman, tiba-tiba ketika melintas di Jalan Kopo Permai, ban mobil seperti kempes. Itu terasa kurang lebih satu menit,” kata dia. Kondisi serupa juga terjadi di Cirebon. Kurnadi, salah seorang warga Cirebon, kepada wartawan di Cirebon, Sabtu, mengaku terkejut guncangan gempa di rumah cukup tinggi. “Rumahnya bergoyang sekitar tiga kali.” ridwan anshori/ erfanto linangkung/ eka setiawan/kuntadi/ didi ramadhani             

Popular content