Dampak Letusan Gunung Kelud - Lava Beku Gegerkan Kali Putih

Sejumlah warga Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, (5 km dari kawah Kelud) menyaksikan fenomena alam dampak letusan Gunung Kelud di Kali Putih, pekan lalu.

BLITAR – Fenomena endapan batu yang diduga dari bekuan lava Gunung Kelud, muncul di sepanjang Kali Putih, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Batu-batu berwarna putih berukuran wajar tersebut menyebar rata mulai dari lokasi kawah (hulu) hingga sejauh empat kilometer (hilir).

Fenomena alam ini menarik perhatian ratusan orang untuk berwisata ”geologi” di Kali Putih, kemarin. Menurut anggota BPBD Kabupaten Blitar, Yunandri, endapan tersebut muncul bersamaan erupsi (letusan) Kelud pada Kamis (13/2) malam. ”Diduga kuat itu cairan magma yang keluar bersamaan erupsi, sehingga bukan peristiwa baru,” ungkap Yunandri, kemarin. Informasi yang berkembang, lava beku itu membentuk timbunan batu setinggi 20 meter. Akibatnya, aliran air di Kali putih tidak lancar. Kabar lain mengatakan, gundukan tersebut akan menimbulkan banjir bandang lahar dingin jika hujan turun terus-menerus.

Karena itu, keberadaan lava beku ini harus disingkirkan. Namun, Yunandri membantah semuainformasitersebut. Gumpalan lava beku tersebut menurutnya sama dengan material lainnya. Ukurannya juga relatif wajar, berupa bongkahan sedang. ”Kalaupun hujan deras, tentunya akan terseret arus air,” ujarnya. Hal senada disampaikan sumber KORAN SINDO JATIM di Polres Blitar. Tidak ada timbunanbatusetinggi 20meter(m) yang membendung hulu Kali Putih. Dari pantauan di lapangan yang terlihat adalah material vulkanik dalam posisi merata dengan ukuran wajar.

”Tidak ada itu timbunan setinggi 20 m. Memang ada material vulkanik di Kali putih, namun ukurannya wajar,” ucapnya. Diketahui, Kali Putih yang melintasi wilayah Kecamatan Garum dan Gandusari merupakan sungai lahar yang berhulu langsung di Gunung Kelud. Keberadaan Kali Putih sama dengan Kali Lekso dan Kali Bladak yang berada di wilayah Kecamatan Nglegok. Saat ini, debit air sungai lahar di wilayah Kabupaten Blitar tersebut cenderung menyusut.

Pemulihan Terkendala Cuaca Buruk

Sementara itu, tahap pemulihan pascaletusan Gunung Kelud terus dilakukan oleh pasukan gabungan dari TNI dan Polri, dan didukung masyarakat. Di Blitar misalnya, atap rumah- rumah di Dusun Bladak, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, masih banyak yang bolong karena tertimpa material letusan Gunung Kelud. Di dusun tersebut, suasana pascabencana yang berlangsung Kamis (13/2), masih begitu terasa. Di manamana masih berserak pasir bercampur kerikil dan batu. Meski hujan telah mengguyur, airnya belum mampu menyapu seluruh material vulkanik debu.

Daun, ranting, dahan, kelopak kembang, dan buahbuahan masih banyak yang tersaput abu putih. Seperti halnya peristiwa erupsi tahun 1990, letusan tahun ini juga bersamaan datangnya musim buah rambutan dan durian. Sedangkan melihat rumah warga, lubang pada genting dan atap yang ambrol masih terlihat di mana-mana. Bupati Blitar, Herry Noegroho menyatakan, ada sebanyak 300-an rumah warga yang rusak akibat erupsi Kelud. Dari jumlah tersebut, 200 rumah telah diperbaiki. Sisanya dijanjikan segera menyusul. ”Kerugian material akibat erupsi Kelud mencapai Rp 1 miliar.

Pemkab Blitar telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 8 miliar,” ujar Herry. Sementara itu, tahapan pemulihan di Kabupaten Malang difokuskan untuk perbaikan rumah warga di wilayah Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Desa Pandansari, terdiri dari tujuh dusun, yakni, Dusun Munjung, Wonorejo Pait, Sumberejo Kutut, Klangon, Sedawun, Bales, dan Dusun Plumbang. Tercatat ada sebanyak 1.427 rumah warga yang mengalami kerusakan, mulai kerusakan ringan hingga berat.

”Kerusakan paling banyak terjadi adalah kerusakan atap bangunan, sehingga dibutuhkan penanganan secepatnya agar segera bisa ditempati dan melindungi mereka dari hujan serta terik matahari,” ungkap Komandan Distrik Militer (Kodim) 0818 Kabupaten Malang dan Kota Batu, Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf) Ahmad Solichin. Sayangnya, proses pemulihan ini terganggu cuaca yang buruk. Saat hujan deras, dua sungai yang mengitari dusun-dusun tersebut, yakni Sungai Sono dan Sungai Sambong, sering kali meluap airnya, dan terjadi banjir lahar dingin.

”Kalau sudah banjir, tentunya pengiriman material bangunan terpaksa dihentikan, menunggu airnya surut dan kondisinya aman. Tetapi kami akan terus berupaya menyelesaikan pemulihan ini secepatnya,” ujar Solichin. Menurut koordinator tahap pemulihan di Dusun Munjung, Kapten Subari dari Batalion Kavaleri 8 Divisi II Kostrad, pelaksanaan perbaikan pembangunan rumah warga sudah memasuki hari ketiga. Dalam tiga hari ini, sudah ada 29 rumah yang telah berhasil diselesaikan.

”Total di Dusun Munjung ada 189 rumah yang rusak, sehingga masih ada 160 rumah lagi yang harus kami perbaiki. Total genting yang sudah didistribusikan ke masyarakat pada hari ini (kemarin) mencapai sebanyak 26 ribu. Sehari sebelumnya, sudah didistribusikan sebanyak 25 ribu genting,” ujarnya. solichan arif/ Yuswantoro    


Popular content