Tidak Semua Jalan Dibeton

JAKARTA– Setelah musim hujan berakhir, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbaiki infrastruktur jalan rusak. Perbaikan ini lebih mengedepankan konstruksi betonisasi karena dianggap lebih tahan.

Sayangnya, upaya tersebut belum dapat menyentuh semua ruas jalan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menuturkan, dalam mengerjakan jalan rusak ini, pihaknya menggandeng salah satu perusahaan semen dan beton terkemuka. Perusahaan tersebut dianggap memiliki kualitas kerja baik dalam mengerjakan betonisasi. Tetapi, untuk menuntaskan, betonisasi jalan rusak itu membutuhkan alat dan tenaga kerja cukup banyak.

”Tenaga kerjanya kurang. Makanya kita minta perusahaan itu untuk melatih pekerja lebih banyak lagi,” kata Basuki di Balai Kota kemarin. Menurut Basuki, tahun ini Pemprov DKI Jakarta memilih konstruksi beton dan meninggalkan konstruksi aspal yang selama ini digunakan karena jalan aspal tidak tahan berhadapan dengan air. Proses pengerjaan jalan aspal juga membutuhkan ketelatenan misalnya menjaga agregat bahan dan tingkat suhu panas hotmix. Bila tidak sesuai, ketahanan jalan aspal jadi buruk.

”Bisa saja telah jalan dimuluskan, konstruksi jalan rapuh karena ada rongga di dalam komposisi hotmix,” tuturnya. Selain itu, jalan aspal juga tidak tahan bila tergenang air dan cepat merekah. Lebih rumit lagi, jalan aspal membutuhkan pemeliharaan rutin. Bisa saja seminggu setelah dibangun, jalan kembali rusak akibat tergenang air. Sementara bila menggunakan beton, kendati produksinya relatif lebih mahal dibandingkan aspal, tidak membutuhkan pemeliharaan rutin.

Begitu juga ketika berhadapan dengan air. Jalan berbeton tidak mudah cepat rusak bila tergenang air cukup lama. Namun, pengerjaannya membutuhkan proses waktu cukup lama dibanding aspal, berkisar dua minggu. Sedangkan aspal cukup dalam tempo empat jam, jalannya sudah dapat dilintasi. Atas kendala ini, Basuki meminta kontraktor dari perusahaan semen dan beton untuk menambah sumber daya manusia (SDM). Penambahan itu harus disertai kualitas keahlian agar ruas jalan rusak dapat dikerjakan secara paralel.

”Kita berupaya jalan rusak ini jangan terlalu lama ditangani,” sambung mantan Bupati Belitung Timur itu. Data Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta per 9 Maret 2014 menunjukkan, jumlah jalan rusak terdapat di 704 ruas. Total kerusakan mencapai 10.425 titik atau sebanyak 172.897 meter persegi. Kepala Humas Dinas PU DKI Jakarta Puka Yanuar mengatakan, perbaikan jalan rusak ini terus dilakukan. Jalan rusak parah telah diperbaiki dengan cara betonisasi.

Di samping itu juga menggunakan aspal, terutama untuk jalan rusak ringan atau lubang-lubang kecil untuk menambalnya. Hingga 9 Maret 2014 total jalan rusak yang telah ditangani 10.227 titik dengan total volume 167.763 meter persegi. ”Banyak penanganan yang kita gunakan sekarang dengan beton,” sebutnya. Tetapi, akhir-akhirnya pekerjaan jalan rusak terkendala karena kekurangan suplai bahan material.

”Di samping kekurangan tenaga, kontraktor ngaku kekurangan suplai bahan material,” ungkapnya. Pantauan KORAN SINDO, jalan yang telah dibeton itu terdapat di Jalan Abdullah Syafei, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Betonisasi juga dilakukan di underpass Jalan Basuki Rahmat, dibawahJalanDIPanjaitan. ●ilham safutra 

Popular content